Sabtu, 08 Juni 2013

Dalam Diri Ini



"Tanpa sengaja, kami temukan tempat pencerahan jiwa
kami menyaksikannya: jasad

Langit demi langit yang berpusar,
lapisan-lapisan bumi yang tergelar,
kami menemukannya dalam jasad ini.

Putaran malam dan siang, planet serta gemintang
kata-kata suci yang ditorehkan dalam keping-keping lempung,
gunung yang didaki Musa, serta tempat-tempat pemujaan
kami menemukannya dalam jasad ini.

Taurat, Mazmur, Injil dan Al-Qur’an
semua yang tertulis dalam kitab-kitab itu,
kami menemukannya ada dalam jasad ini.

Semua berkata, kata-kata Yunus adalah haqq
Di mana pun kau inginkan, di sana ada Al-Haqq
Dan kami pun menemukannya:
dalam diri ini."

-- Yunus Emre
 

Cinta Tak Sampai, Terlunta-lunta, Menunggu



Wahai diriku,
jalan yang ditempuh para ‘arif billah
lebih sulit terlihat bahkan dari yang paling samar.
Yang menghalangi jalannya Raja Sulaiman, adalah seekor semut.[1]

Siang malam air mata sang pecinta
mengalir tanpa henti
memerah darah
merindu Sang Terkasih.

“Kekasih yang cintanya tak kesampaian,
terlunta-lunta kesana-kemari,
menunggu cintanya berbalas,”[2] kata mereka kepadaku, dulu.

Mereka benar.
Memang begitulah yang pernah terjadi padaku.

Kucoba untuk memahami keempat kitab,
hingga hadir sebuah balasan Cinta,
dan semua itu ternyata cuma sebuah suku kata. [3]

Wahai engkau yang mengaku pecinta-Nya,
meski belum pernah kau lakukan satu pun yang diharamkan-Nya,
ketahuilah: satu-satunya saat ketika kau tak berdosa
adalah ketika engkau sedang berada dalam genggaman kedua tangan-Nya.[4]

Dua orang saling bicara.
“Andai saja aku bisa bertemu dengan Yunus itu,” kata yang satu.
Aku pernah bertemu dengannya,” kata yang lain.
“Ia cuma seorang tua yang cintanya tak kesampaian.”

-- Yunus Emre (1238-1320)


Keterangan:
[1] QS. An-Naml; 18-19,
“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut. “Hai semut-semut, masuklah kedalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” Maka dia tersenyum dan tertawa karena perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku, dengan rahmat-Mu, ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.”

[2] Seorang yang merindukan Allah, di manapun ia berada akan mencari- cari tanda-tanda-Nya, jejak-jejak-Nya. Di manapun ia berada, pada dasarnya ia selalu dalam penantian menunggu ‘kehadiran’ Allah kepada dirinya. Ia selalu menanti saat-saat Allah berkenan membuka hijab-Nya.

[3] ‘Sebuah suku kata’, mungkin Yunus Emre memaksudkannya pada ‘Al’ dalam lafaz ‘Allah’. ‘Al’ dalam bahasa Arab bermakna kata ganti tertentu, maknanya sama seperti ‘The’ dalam bahasa Inggris. Maknanya, katakanlah, ‘Sang’ atau ’sesuatu’, tentang ‘Dia’ atau ‘Hu’. (Alif-lam-lam-hu). Segala sesuatu pada dasarnya berbicara tentang Allah dan mengungkapkan sesuatu tentang Allah.

[4] ‘Seseorang berada dalam genggaman dua tangan Allah’, bermakna telah sepenuhnya mengikuti dan tunduk dengan sepenuh hati pada kehendak Allah atas dirinya, baik yang tampak ‘baik’ (tangan ‘kanan’, jamal) maupun yang tampak ‘buruk’ (tangan ‘kiri’, jalal). Maknanya, ketika seseorang telah sepenuhnya selaras dengan kehendak Allah ta’ala, ketika ia tidak lagi memiliki kehendak diri (hawa nafsu), barulah ia sama sekali terbebas dari dosa. Makna ‘dosa’, pada dasarnya adalah ’segala sesuatu yang tidak disukai Allah ta’ala pada diri seseorang.’

Sumber

Kamis, 16 Mei 2013

Amorfati


Segala sesuatu yang ada pada dasarnya akan terus mengalir dan bergerak, seiring dengan perubahan demi perubahan yang ada didalamnya, tidak ada yang menetap, karena itu, kita tidak dapat melangkah dua kali ke dalam sungai yang sama, kalaupun saya melangkah untuk kali keduanya di dalam sungai yang sama, maka sayalah atau sungai itulah yang sudah berubah. Tiap detik adalah hal baru di kehidupan ini.

Dunia ini memiliki ciri resmi tentang adanya kebalikan atau timbal balik antara satu hal dengan hal lain, yang ke semua itu memiliki keterkaitan untuk saling melengkapi, kita tidak akan pernah tahu apa itu sehat tanpa adanya sakit? Tanpa adanya lemah kita tidak akan pernah tahu apa itu kuat? Dan kita tidak akan pernah tahu apa itu baik tanpa adanya buruk? Siang dan malam, panas dan dingin, kenyang dan lapar dsb.

Yang baik ataupun yang buruk memiliki tempat masing² yang tidak terelakan di dalam tatanan segala sesuatu, tanpa adanya keterbalikan antara dua hal itu, maka dunia tidak akan pernah ada.

Maka ketika kita berbicara tentang hukum alam, sama halnya kita sedang berbicara tentang kekuatan yang menyeluruh, atau hukum universal yang menuntun segala sesuatu yang terjadi pada alam ini, betapapun kita berusaha untuk memungkiri Tuhan, kita tidak akan pernah benar² bisa ingkar terhadapNya, karena antara dua hal yang bertolak tanpa adanya kekuatan yang menyeluruh, hasilnya adalah omong-kosong alias tidak mungkin...


"Subhallahi ya hayil Qoyum - Maha Suci Alloh Yang Maha Hidup & Berdiri Sendiri."

Cukuplah semua kejadian sebagai bahan tafakur/kontemplasi/renungan...

Jumat, 05 April 2013

Musa dan Pengembala



Pada zaman Nabi Musa as dahulu, hidup seorang gembala yang bersemangat bebas. Ia tidak punya uang dan tidak punya keinginan untuk memilikinya. Yang ia miliki hanyalah hati yang lembut dan penuh keikhlasan; hati yang berdetak dengan kecintaan kepada Tuhan. Sepanjang hari ia menggembalakan ternaknya melewati lembah dan ladang melagukan jeritan hatinya kepada Tuhan yang dicintainya, "Duhai Pangeran tercinta, di manakah Engkau, supaya aku dapat persembahkan seluruh hidupku pada-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menghambakan diriku pada-Mu? Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernafas. Karena berkat-Mu aku hidup. Aku ngin mengorbankan domba-Ku ke hadapan kemuliaan-Mu."

Suatu hari, Nabi Musa as melewati padang gembalaan tersebut dalam perjalanannya menuju kota. Ia memperhatikan sang gembala yang sedang duduk di tengah ternaknya dengan kepala yang mendongak ke langit.. Sang gembala menyapa Tuhan, "Ah, di manakah Engkau, supaya aku dapat menjahit baju-Mu, memperbaiki kasut-Mu, dan mempersiapkan ranjang-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu?"

Musa mendekati gembala itu dan bertanya, "Dengan siapa kamu berbicara?" Gembala menjawab, "Dengan Dia yang telah menciptakan kita. Dengan Dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang dan malam, bumi dan langit." Musa as murka mendengar jawaban gembala itu, "Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumbat mulutmu dengan kapas supaya kamu dapat mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak menjadi marah dan tersinggung dengan kata-katamu yang telah meracuni seluruh angkasa ini. Kau harus berhenti bicara seperti itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan menghukum seluruh penduduk bumi ini akibat dosa-dosamu!"

Sang gembala segera bangkit setelah mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang nabi. Ia bergetar ketakutan. Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, ia mendengarkan Musa as yang terus berkata, "Apakah Tuhan adalah seorang manusia biasa, sehingga Ia harus memakai sepatu dan alas kaki? Apakah Tuhan seorang anak kecil, yang memerlukan susu supaya Ia tumbuh besar?

Tentu saja tidak. Tuhan Mahasempurna di dalam diri-Nya. Tuhan tidak memerlukan siapa pun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tapi kau juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo, pergi dan minta maaf, kalau kau masih memiliki otak yang sehat!"

Gembala yang sederhana itu tidak mengerti bahwa apa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang kasar. Dia juga tak mengerti mengapa Nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai seorang musuh tapi ia tahu betul bahwa seorang Nabi pastilah lebih mengetahui dari siapa pun. Ia hampir tak dapat menahan tangisannya. Ia berkata kepada Musa, "Kau telah menyalakan api di dalam jiwaku. Sejak ini aku berjanji akan menutup mulutku untuk selamanya." Dengan keluhan yang panjang, ia berangkat meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.

Dengan perasaan bahagia karena telah meluruskan jiwa yang tersesat, Nabi Musa as melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba-tiba Allah Yang Mahakuasa menegurnya, "Mengapa engkau berdiri di antara Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pecinta dari yang dicintainya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau dapat menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan di antaranya." Musa mendengarkan kata-kata langit itu dengan penuh kerendahan dan rasa takut. Tuhan berfirman, "Kami tidak menciptakan dunia supaya Kami memperoleh keuntungan daripadanya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak memerlukan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memperhatikan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang Kami perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui ketulusan makhluk Kami, walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna."

Suara dari langit selanjutnya berkata, "Mereka yang terikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta. Dan umat yang beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta. Karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri." Tuhan kemudian mengajarkan Musa as rahasia cinta.

Setelah Musa as memperoleh pelajaran itu, ia mengerti kesalahannya. Sang Nabi pun merasa menderita penyesalan yang luar biasa. Dengan segera, ia berlari mencari gembala itu untuk meminta maaf. Berhari-hari Musa as berkelana di padang rumput dan gurun pasir, menanyakan orang-orang apakah mereka mengetahui gembala yang dicarinya. Setiap orang yang ditanyainya menunjuk arah yang berbeda. Hampir-hampir Musa kehilangan harapan tetapi akhirnya Musa as berjumpa dengan gembala itu. Ia tengah duduk di dekat mata air. Pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut masai. Ia berada di tengah tafakur yang dalam sehingga ia tidak memperhatikan Musa yang telah menunggunya cukup lama.

Akhirnya, gembala itu mengangkat kepalanya dan melihat kepada sang Nabi. Musa as berkata, "Aku punya pesan penting untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku, bahwa tidak diperlukan kata-kata yang indah bila kita ingin berbicara kepada-Nya. Kamu bebas berbicara kepada-Nya dengan cara apa pun yang kamu sukai, dengan kata-kata apa pun yang kamu pilih. Karena apa yang aku duga sebagai kekafiranmu ternyata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia." Sang gembala hanya menjawab sederhana, "Aku sudah melewati tahap kata-kata dan kalimat. Hatiku sekarang dipenuhi dengan kehadiran-Nya. Aku tak dapat menjelaskan keadaanku padamu dan kata-kata pun tak dapat melukiskan pengalaman ruhani yang ada dalam hatiku." Kemudian ia bangkit dan meninggalkan Musa as.

Nabi Musa as menatap gembala itu sampai ia tak kelihatan lagi. Setelah itu Musa as kembali berjalan ke kota terdekat, merenungkan pelajaran berharga yang didapatnya dari seorang gembala sederhana yang tidak berpendidikan.

Cerita di atas melukiskan kepada kita bahwa ada sekelompok orang yang mengambil cinta sebagai agamanya. Kalau seseorang telah meledakkan kecintaannya kepada Tuhan, dia tidak lagi dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskan seluruh kecintaannya kepada Allah SWT. Di dalam cinta, kata-kata menjadi tidak punya makna.


Kita akhiri kisah ini dengan sabda Nabi SAW, "Innallâha lâ yanzhuru illâ shuwarikum walakinallâha yanzhuru illâ qulûbikum - Ketahuilah, sesungguhnya Tuhan tidak memperhatikan bentuk-bentuk luar kamu. Yang Tuhan perhatikan adalah hati kamu."

Ada damai dan tenteram dalam lantunan tembang sunyi dengan bahasa keheningan di lubuk jiwa para penganut agama cinta. "Tak ada agama seindah agama yang dibangun di atas cinta dan kerinduan", ungkap Ibnu Arabi & para pemulung hikmah.

“Ya Alloh, aku memohon curahan cinta-Mu dan kecintaan orang² yang mencintai-Mu, serta memohon curahan amal yang dapat mengantarkan diriku mencintai-Mu. Ya Alloh, jadikanlah kecintaan kepada-Mu lebih tertanam dalam jiwaku melebihi kecintaanku kepada diri sendiri dan keluargaku.”
(HR Al-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Minggu, 24 Maret 2013

Antidote Keterasingan



“Bila Allah membuat alam dan makhluk serba memusingkanmu, sungguh itu suatu panggilan agar kau cari ketenangan pada kebersamaan dengan-Nya.

Bila Dia memberi musibah, Dia ingin engkau kembali kepada-Nya dengan pasrah dan berserah.

Bila Dia memberimu ujian, Dia ingin engkau mencari-Nya untuk meminta pertolongan.

Bila Dia memberimu kesempitan, Dia ingin engkau kembali kepada-Nya untuk mencari kelapangan.”

-- Ibn Atha’illah

***********************************************************************************

 “Janganlah kesulitanmu memenuhi hatimu dengan kegelisahan.
Ketahuilah hanya di malam yang paling kelam justru bintang-bintang bersinar lebih terang.”
-- Sayyidina Ali Bin Abi Thalib

Kamis, 31 Januari 2013

Tahapan Yakin




 

"Cahaya yang tersimpan di dalam hati, datang dari cahaya yang langsung dari khazanah-khazanah kegaiban. Cahaya yang memancar dari panca inderamu berasal dari ciptaan Allah. Dan cahaya yang memancar dari hatimu berasal dari sifat-sifat Allah."
--Ibnu Atha'illah

Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Seorang hamba yang yakin akan pertolongan Allah, maka dengan sangat meyakinkan Allah pasti akan menolongnya. Seorang hamba yang yakin doanya akan dikabulkan, maka Allah akan mengabulkan doa-doa tersebut lebih dari yang kita minta.

Dari sini kita layak merenung, mengapa kita banyak kecewa dan tidak puas dalam hidup? Boleh jadi kita lebih yakin akan kemampuan diri serta pertolongan makhluk, daripada pertolongan Allah. Sungguh manusia itu sangat lemah. Ia sama sekali tidak kuasa mengatur dirinya sendiri, tidak tahu apa akan terjadi esok, serta berjuta kelemahan lainnya. Sungguh naif jika kita terlalu mengandalkan diri yang serba terbatas dengan melupakan Allah Yang Maha Segala-galanya. Maka, keyakinan yang bulat kepada-Nya menjadi jaminan kebahagiaan hidup kita.

Setidaknya ada tiga tahap yang harus kita tempuh usaha meningkatkan kualitas keyakinan.

Pertama, 'Ilmul yaqin. Yaitu meyakini segala sesuatu berdasarkan ilmu atau pengetahuan. Misal, di Mekah ada Kabah. Kita percaya karena teorinya bicara seperti itu. Di sinilah pentingnya belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Sebab, semakin luas pengetahuan kita tentang sesuatu, khususnya tentang Dzat Allah Azza wa Jalla, seakan kita memiliki bekal untuk berjalan mendekat kepada-Nya.

Kedua, 'Ainul yaqin. Yaitu keyakinan yang timbul karena kita telah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Orang yang telah menunaikan ibadah haji sangat yakin bahwa Kabah itu memang ada di Mekah karena ia telah melihatnya. Keyakinan karena melihat, akan lebih kuat dibandingkan keyakinan karena ilmu.

Ketiga adalah Haqqul yaqin. Orang yang telah haqqul yakin akan memiliki keyakinan yang dalam dan terbukti kebenarannya. Orang yang telah merasakan nikmatnya thawaf, berdoa di Multazam, merasakan ijabahnya doa, keyakinan akan jauh lebih mendalam. Inilah tingkat keyakinan tertinggi yang akan sulit diruntuhkan dan dicabut dari hati orang yang memilikinya. Cara meningkatkan kualitas keyakinan diri, sejatinya harus melalui proses dan tahapan-tahapan, mulai dari'ilmul yaqin, 'ainul yaqin, hinggahaqqul yakin.

Saudaraku, sesungguhnya semua yang ada adalah milik Allah. Sungguh rugi orang-orang yang hatinya bergantung kepada selain Allah. Yakinlah, bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mengatur segalanya. Sungguh sayang jika kita mengatakan bahwa Allah Mahakaya, namun kita takut tidak mendapatkan rezeki. Kita tahu bahwa Allah Maha Menentukan segala sesuatu, Dia menciptakan manusia berpasang-pasangan, namun kita sering risau tidak mendapatkan pasangan hidup. Bila demikian, kita masih berada dalam tingkat'ainul yaqin dan belum sampai ke tingkat haqqul yaqin.

Mengapa ada orang yang keluar (murtad) dari Islam? Sebabnya, keyakinan yang dimilikinya baru sebatas 'ilmul yaqin; sebatas tahu bahwa Islam itu baik, namun ia belum merasakan bagaimana indahnya Islam. Saudaraku, keyakinan yang hanya sebatas ilmu belum cukup membuat kita istikamah. Keyakinan kita harus benar-benar meresap ke dalam sanubari.

Cahaya keyakinan yang tersimpan di dalam hati ternyata datang dari khazanah kegaiban Allah Azza wa Jalla. Alam semesta ini terang benderang karena cahaya dari benda-benda langit yang diciptakan-Nya. Sedangkan cahaya yang menerangi hati manusia berasal dari cahaya Ilahi.

Ibnu Atha'illah mengungkapkan,
 "Cahaya yang tersimpan di dalam hati, datang dari cahaya yang langsung dari khazanah-khazanah kegaiban. Cahaya yang memancar dari panca inderamu berasal dari ciptaan Allah. Dan cahaya yang memancar dari hatimu berasal dari sifat-sifat Allah."

Dengan demikian, keterbukaan hati dalam menerima cahaya inilah yang harus selalu kita jaga. Bagaimana agar hati kita terbuka? Berusahalah untuk meneliti dan mengenali aneka hikmah di balik setiap kejadian. Jangan hanya melihat setiap kejadian dengan mata lahir saja, tapi gunakan mata hati kita. Namun, mata hati hanya akan berfungsi jika ia bersih dari noda dosa dan maksiat. Hati yang kotor sangat sulit menangkap sinyal-sinyal Ilahi. Mirip kaca. Ia tidak bisa memantulkan cahaya, tidak bisa merefleksikan sebuah objek jika penuh karatan. Syaratnya, ia harus bersih. Hati akan bersih jika kita merawatnya. Wallaahu a'lam.

-- Oleh KH. Abdullah Gymnastiar, Tabloid Dialog Jumat Republika.

Jumat, 18 Januari 2013

Debat Teolog para Anbiya (Nabi)


Banyaknya muatan dialog di dalam Al-Qur'an tentunya bukan tanpa maksud dan tujuan, dan akan lebih mengena apabila kita bisa pilah wilayahnya terlebih dahulu minimal menjadi 2 bagian antara dialog dengan umatnya dan dialog bathin (perang bathin). Dalam hal ini cukup kiranya mengambil kisah Nabi Ibrahim, namun bukan berarti hanya Nabi Ibrahim saja yang mengalami perdebatan hebat. Karena pada intinya didalam Al-Qur'an masing-masing nabi membawa karakternya untuk dijadikan hikmah atau bersifat mewakili namun tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainnya tentunya sesuai dengan tantangan zaman/masanya dan bagaimana penanganannya. Begitupun tidak terkecuali orang2 yang meniti jalanNYA akan mengalami hal yang serupa hanya saja disesuaikan dengan kadar keimanannya.

Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?"
Nabi Saw menjawab, "Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)

29:2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

Bagi orang skeptis kisah-kisah didalam al-Quran dianggapnya sebagai dongeng, namun sesungguhnya dari cerita inilah banyak hikmah-hikmah yang tersembunyi yang akan menuntun kita mengenali karakter para Nabi sekaligus mendidik diri kita untuk mengenali Alloh SWT dengan baik, tanpa terbatasi kemampuan intelektualnya (IQ) atau lebih dituntut emosionalnya (EQ), dan disinilah sebenarnya keindahannya yaitu Alloh SWT menurut sangkaan hambaNYA dalam artian melalui pola yang dapat kita pahamilah Alloh SWT memperkenalkan diriNYA.

Rosululloh sangat pandai dalam menakar pemahaman orang yang bertanya dengan berbagai metode yang mudah dicerna dalam penjelaskannya,  begitupun dai-dai yang lihai sekiranya telah memahami metode penyampaian Rosululloh. Disadari atau tidak ketika kita baca novel ataupun film rentetan peristiwa akan mudah kita cerna dan masuk kedalam pikiran kita menjadi suatu pelajaran, hanya saja bedanya novel atau film tidak selalu bersumber pada kebenaran, dan mengingat efektifitasnya banyak juga fakta yang disajikan kedalam bentuk novel. Dan hikmahnya tentunya kembali lagi kepada penghayatan masing-masing pribadi dan yang paling menentukan adalah kuasaNYA atas petunjuk (kepada siapa DIA kehendaki).

Rasulullah SAW pernah bersabda: “ Hikmah itu milik orang Islam, di mana pun kamu mendapatkannya ambillah.”

Seberapa penting memahami karakter?

_Aisyah ketika ditanya seperti apa karakter Rosululloh, beliau menjawab "Al-Qur'an". Berarti ketika kita mengindahkan al-Qur'an kita akan mengenal dengan baik siapa Rosululloh dan apa yang diperjuangkannya walaupun berbagai hambatan beliau temui tanpa dibayar sepeserpun bahkan beliau tidak mau membebani umatnya ketika beliau tidak menumui makanan untuk sekedar mengganjal perutnya, dan banyak sekali kisah-kisah yang memilukan, sampailah pada gambaran bahwa sesuatu yang baik tidak selalu mendapat sambutan baik, apalah mengenai seruan agama seperti menyeru kepada sesuatu yang jauh. Bila kita renungkan dengan baik dengan segala rasa kemanusiaan yang kita miliki timbulan rasa kecintaan yang sebenarnya. Kalau kita mengenal fisiknya saja bagaimana setelah wafatnya? Lalu dimana letak kesaksian/syahadat kita?

_Itulah pentingnya karakter harus kita mulai mengenali apa yang dibicarakan (ilmunya) dahulu bukan siapa-siapanya. Kalau lebih kepada siapanya bisa saja malah taklid buta. Dan pada gilirannya ketika banyak fitnah2 keji yang dialamatkan pada diri Rosululloh baik atas nama sejarah yang tidak jelas ataupun tuduhan keji lain tanpa dasar, cukuplah apa yg dibawakannya dan kita pelajari serta amalkan sehingga dirasakan betul hikmahnya menjadi bukti yang nyata sebagai kebenaran dari Alloh SWT. KesaksianNYA jelas lebih kuat, sebagai kebenaran yang mendasar yang harus kita perjuangkan dan semakin kita menggali semakin terbukti walaupun dari berbagai perspektif pengujian. Tentunya tidak berlaku apabila kita meninggalkan ajarannya, yang ada ketika fitnah merajalela hanya emosi semata dan mudah terprofokasi.

_Sedangkan yang diperjuangkan Rosululloh yang utama sekali (mendasar) adalah kalimat tauhid dimana pemahaman akan tauhid ini akan mencerminkan banyak hal, induk dari segala ilmu, cahaya diatas cahaya (petunjuk) melalui sifat yang disifatinya di dalam Al-Qur'an, sunnah dan hikmah. Inilah suatu keterkaitan yang harus kita telusuri betul sampai menjadi gambaran yang bulat dan utuh yang tak tergoyahkan.


A. Debat para Nabi dengan umatnya
2:258. Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

6:74. Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata".

21:52. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?"

19:46. Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama".21:58. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

21:60. Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim".21:62. Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?"

21:63. Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara".21:65. kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara".

21:66. Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?"

29:24. Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: "Bunuhlah atau bakarlah dia", lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.6:83. Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat.  Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

21:54. Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata".

B. Perdebatan bathin
_Nabipun tidak yakin dengan sendirinya
2:260. Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?". Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)". Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

_Belajar dari alam
6:76-80. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?

_Menjadi teladan contoh bagi kita terutama dalam menghadapi orang2 skeptis
60:4. Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah".  (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,

Kenapa membicarakan ketuhanan menjadi sesuatu yang tabu?

_Tidak lain karena orang tidak bisa lepas dari bayangan fisik, sehingga ditakutkan malah mengada-adakan Tuhan atau sekedar untuk memuaskan logika. Padahal melalui sifat yang disifatiNYA akan menuntun seseorang lepas dari keterbatan indrawinya atau sekedar apa yang dilihatnya saja namun lebih kepada penglihatan ilmu. Sedangkan melihatNYA tidak mungkin dicapai oleh penglihatan mata.

Disinilah nilai-nilai keimanan yang apabila kita bicarakan dengan orang yang tidak percaya (skeptis) tantangan yang terbesar adalah melogikakan keimanan itu sendiri, sehingga dengan kegigihan untuk menyampaikan mendorong kita untuk memahami ciptaanNYA. Mengenalkan prinsip2 alam yang begitu indah untuk dijadikan pelajaran (hikmah).

29:25. Dan berkata Ibrahim: "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu mela'nati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.
Tentunya masih banyak lagi ayat-ayat lain yang harus kita renungkan dan dijadikan pelajaran buat kita. Silahkan bereksplorasi.

Pada dasarnya ketidak yakinan diri kita pada Alloh SWT adalah cermin dari keimanan kita atau musuh yang sesungguhnya yang harus ditaklukan dengan segala potensi yang kita milik.