Selasa, 03 Desember 2013

Ayat ‘Mengharap Wajah-Nya’


“Siapa yang beramal demi pahala, niscaya akan letih dengan harapan. Siapa yang beramal karena takut siksa, niscaya akan letih dengan prasangka baik. Siapa yang beramal demi Wajah-Nya, niscaya tiada letih baginya.”
-- Imam An-Nifari

Beramal demi ‘wajah-Nya’. Sebenarnya ‘beramal demi wajah-Nya’ cukup jelas ayatnya di Qur’an. Ungkapan sufi besar tersebut kongruen dengan, salah satunya, ayat berikut—yang sayangnya tersamar oleh interpretasi bahasa Indonesianya.
Kalau kita perhatikan Al-Quran Surat Al-Lail [92] : 20, biasanya interpretasi bahasa Indonesianya dituliskan sebagai berikut:
“Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.”
Sementara kalau kita perhatikan teks arabnya,


  “Illabtighaa’a wajhi rabbihil a’la”

Ada kata ‘wajhi Rabbihi’ (wajah Rabb-nya) di ayat tersebut. Terjemahan literalnya, tanpa interpretasi, sebenarnya adalah,
“Kecuali yang mengharap wajah Rabb-nya yang Mahatinggi.”
“Ibtigha” adalah ‘mengharap’, ‘mengejar’, ‘menghasratkan’, ‘menginginkan’ atau ‘mencari’.
“Mengharap/mencari wajah Rabb-nya”. Menarik ya? Dan ayat itu disambung dengan,

 
 “(Dan) sungguh, akan meraih keridhaan
(interpretasi Depag: ‘dan kelak dia sungguh-sungguh akan meraih kepuasan‘) .”
Siapa itu, mereka yang ‘mengejar/mencari wajah Rabb-nya’ itu? Kita sama-sama buka Al-Qur’an surah 92 saja, lah ya?

Semoga bermanfaat ;-)

Sumber

Senin, 02 Desember 2013

Tafakur

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar. Dan apakah tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”
{QS. Fushilaat, 41:53}



“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar. Dan apakah tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”
{QS. Fushilaat, 41:53}

Energi apa yang menggerakan perputaran planet-planet di alam semesta ini, dan semuanya bergerak secara teratur. Adakah sebuah kesadaran dalam bentuk personal dibalik itu?

“Maka apakah kamu tidak merenung/memikirkan?”
{QS. Al An’am, 6:50)

Apakah dengan mengetahuinya akan tercapai apa yang diharapkannya?

Apakah sesungguhnya yang diharapkan dalam mengetahui hal itu?

Sebuah kecerdasan intelektualkah?

Sebuah kepastian eksistensi Sang Penciptakah?

Sebuah keyakinan yang meragu untuk dapat lebih yakinkah?

Sebuah keangkuhan bahkan mungkin terselip disana?

Atau sekedar kepuasan rasa penasaran yang menggelora?

Semua itu bebas dapat dipilih oleh manusia. Namun menyadarinya adalah yang terpenting akan hal itu.

“Supaya kamu berfikir (tafakkur).”
{QS. Al-Baqarah, 2:219}





Detak jantung manusia, irama dalam berbicara, pergerakan dari bintang-bintang & planet-planet, pasang naik & pasang surut, pergantian musim. Hal-hal ini terukir sangat dalam pada kesadaran manusia, bukan sebagai pencitraan yang acak, tapi sebagai gejala riil yang menyatakan satu kebenaran mendasar tentang alam raya.



“untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir.”
{QS. Ghâfir: 54}

Keteraturan itu melampaui intelektual kita. Apapun itu, kita dapat melihat dan memahaminya dalam kesadaran kita. Kita berada dalam keteraturan itu, yang tak mampu diterjemahkan oleh pikiran manusia. Kesadaran itulah yang mengiringi keteraturan itu, sebagai arus yang sangat deras mengalir melampaui pikiran manusia..


“Dan Dia telah menundukan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari padanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar terdapat tanda tanda ( kekuasaan Alloh) bagi kaum yang berfikir.”
(QS. Al-Jatshiyah, 45:13)


Nabi SAW bersabda:
“Tafakur sesaat lebih besar pahalanya daripada ibadah setahun.”


Tafakur adalah esensi dari sholat, tafakur adalah mengingat/parangereng (bhs bugis)/Dzikrullah, disebutkan dalam Al-Qur'an:

“Dan sesungguhnya, mengingat Alloh adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Alloh mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Ankabut, 29:45)

Karena di dalam merenung (wukuful qalby) kita akan mengenal siapa diri kita, dan menjadi jalan untuk mengenal-Nya (ber-mari'fat), sedang mengenal-Nya (tentunya di saat pada pengenalan ini kondisi kita dalam kondisi "Fana ul fana" (mati sebelum mati, atau seperti kondisi Musa yang pingsan dalam bukit Sin) itu sungguh lebih mulya nilai-Nya dengan dunia dan surga dengan segala isinya..

Objek tafakur adalah diri sendiri - suatu perenungan dengan melihat, menganalisa, meyakini secara pasti (Haqul Yakin) terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Alloh SWT - kemudian alam semesta & segala ciptaanNya.

Pada tahap yang lebih tinggi, kemampuan seseorang dalam berkonsentrasi (khusyuk) serta mengamati diri sendiri, akan sampai pada pengetahuan tentang alam semesta dan asal mulanya segala sesuatu. Sedangkan diri kita itu merupakan micro cosmos - miniatur alam semesta ini. Semakin kita mengenali diri kita, berarti kita semakin memahami hukum-hukum alam semesta.

Al-Junaid ra berkata: “Majelis yang paling mulia dan paling tinggi adalah duduk dengan memikirkan medan tauhid, hembusan angin makrifat, minum dengan gelas cinta dari lautan kasih dan pandangan dengan prasangka baik kepada Alloh SWT. Aduhai betapa agungnya majelis dan betapa lezatnya minuman. Bahagialah bagi orang yang dianugerahinya.”

Dorongan untuk bertafakur, tadabur, berpikir, dan mengambil pelajaran dapat diketahui dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits.

Keutamaan tafakur disebutkan Alloh dalam bentuk pujian,

 “(yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka perliharalah kami dari siksa neraka.”
{QS. Ali Imran, 3: 191}





*Night Shift III, CPP Lab KPC

Minggu, 01 Desember 2013

Pesan Syekh Abdul Qadir Jailani Tentang Cinta

“Aduhai engkau yang mengaku mencintai Alloh ‘Azza wa Jalla, namun masih juga mencintai lainnya
Dia-lah yang jernih dan selainnya adalah keruh. Apabila engkau mengeruhkan kejernihan itu dengan mencintai selain-Nya, maka Dia akan membuatmu sedih.

Alloh Ta’alla akan melakukan seperti yang dilakukan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Yakub a.s. Ketika keduanya cenderung kepada anak mereka masing-masing, Dia lantas menguji dengan anak yang mereka cintai itu.

Demikian pula terhadap nabi kita, Muhammad saw. Ketika beliau cenderung kepada kedua cucunya, Hasan dan Husein, kemudian Jibril datang dan bertanya kepada beliau, “Apakah engkau mencintai mereka?” Maka beliau menjawab, “Ya!” Lalu, Malaikat Jibril berkata, “Salah seorang dari mereka akan diracuni. Dan yang lainnya akan dibunuh.”

Maka saat itu, beliau mengeluarkan Hasan dan Husein dari hatinya dan mengosongkannya hanya untuk Alloh ‘Azza wa Jalla. Kegembiraan dengan keduanya berubah menjadi kesedihan terhadap mereka. Alloh SWT itu cemburu terhadap hati para nabi, wali, dan hamba-hamba-Nya yang saleh.

Wahai orang-orang yang mencari dunia dengan kemunafikan! Bukalah tanganmu!Engkau tidak akan melihat apa-apa di sana.

Celaka engkau! Engkau tidak mau bekerja, engkau hanya makan harta orang lain dengan menjual agamamu. Bekerja adalah perbuatan semua nabi. Tak seorang pun dari mereka yang tidak bekerja, dan pada akhirnya mereka mengambil imbalan dari makhluk dengan izin Tuhan mereka.

Wahai orang yang mabuk dengan arak dunia, syahwat, dan kepandiran, sebentar lagi kalian akan sadar ketika berada di liang kubur.”

--- Ceramah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pada 18 Rajab 545 H. Dikutip dari kitab Fath Ar-Rabani wa Al-Faidh Ar-Rahmani


*Tamparan buat diri sendiri… Muhasabah!

Amorfati III




“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”
{QS. Al-Hasyr, 59:19}


Ketahuilah wahai saudara seimanku, pada tingkatan hakikat, sebelum kita beribadah kita harus mengenal dulu siapa yang akan kita sembah, jika kita tidak tahu maka sia-sialah ibadah kita.


“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
{QS. Al-Furqaan, 25:23}


Hukum untuk mengenal Dia itu wajib, sebelum wajibnya shalat dan ibadah yang diwajibkan pada kita. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah Hadis Qudsi: "Awaluddin marifatullah - Awal agama adalah mengenal Alloh".

"Awwaluddin ma'rifatullah." Inilah kaidah pertama dalam kehidupan beragama seseorang, yaitu mengenal Alloh. Alloh adalah isu sentral agama. Bukan agama namanya kalau segala sesuatu tidak dikaitkan dengan Alloh. Setercemar apapun suatu agama, Tuhan masih menjadi sentral pembicaraannya. Lebih-lebih
lagi agama samawi yang asli, Islam. Mengenal Alloh adalah aqidah Islam yang terasas. Permulaan agama adalah mengenal Alloh..

Kalau kita telusuri sejarah perjuangan Rasulullah, selama 13 tahun di Makkah, ajaran beliau hanyalah "mengenal Alloh". Ayat-ayat yang turun di periode ini hanya tentang Alloh: Sifat, Nama, dan KedudukanNYa. Sedikit sekali, atau mungkin tidak ada, ayat-ayat
yang membicarakan syariah. Bahkan, selama 10 tahun periode Madinah, Alloh tetap diingat-ingatkan betapapun syariahNya mulai diperkenalkan satu-persatu.

Sistem tarbiyah semacam ini telah melahirkan satu generasi hebat yang sangat takut dan cinta Alloh. Mereka hidup, taat, bekerja, beranak-cucu, berjuang, bahkan berperang karena Alloh dan untuk Alloh. Mereka berbuat begitu karena sangat takut dan cintanya pada Alloh. Itulah buah mengenal Alloh.

Metoda yang benar dalam mengenal Alloh akan melahirkan rasa takut dan cinta semacam itu. Tidak terbayangkan oleh kita betapa takut dan cintanya para sahabat rasul itu pada Alloh. Bacalah sejarah hidup mereka. Kita akan melihat refleksi rasa takut dan
cinta itu menguasai ruh mereka. Seluruh amal yang mereka kerjakan didorong hanya oleh rasa takut dan cinta Alloh.

Metoda yang salah dalam mengenal Alloh, tidak melahirkan rasa takut dan cinta. Kita melihat betapa banyaknya orang diantara kita yang berilmu tinggi tentang Alloh, bahkan menghafal ayat-ayat Alloh, menguasai sunnah Rasulullah, memahami dalil-dalil aqidah dan syariah, namun tidak takut pada Alloh.

Buktinya kita tidak takut adalah kita masih berani berbuat maksiat kepada Alloh di hadapan Alloh. Kalaulah seseorang itu takut, jangankan berbuat maksiat, berpaling sebentar saja dari mengingat Alloh sudah membuatnya tidak sanggup lagi makan dan minum, apalagi bersenang-senang.

Demikianlah kaidah beragama yang dicontohkan Rasulullah. Kaidah pertamanya adalah mengenal Alloh. Rasulullah menunjukkan pula metodanya, yaitu mengenalkan Alloh langsung di pusat hati bukan di akal. Alloh diperkenalkan langsung kepada fitrah manusia yang ada di hati. Dengan metoda ini, lahirlah rasa takut & taat.

Bila Alloh diperkenalkan hanya di akal, melupakan fitrah, yang lahir hanyalah pengetahuan tentang Alloh. Pengetahuan tidak membuat manusia takut, apalagi cinta.

"Kenal" dan "tahu" serupa tapi tak sama. "Kenal" dengan hati, "tahu" dengan akal. "Kenal Alloh" membuat orang takut, sedangkan "tahu Alloh" membuat orang hanya pandai berbicara, berdiskusi, dan berdebat tentang Alloh.

Dan bila engkau belum di anugrahkan ilmu untuk mengenal Dia, maka berbaik sangka kepada Alloh itu lebih baik, dari pada orang-orang yang tahu ilmunya akan tetapi tidak pernah berbaik sangka kepadaNya. Sungguh Alloh Maha Indah, dengan segala keindahan pada diri maklukNya.


“Di dalam hati manusia ada kesedihan dan tidak akan hilang kecuali gembira mengenali Alloh.”
-- Ibnu Qayyim Al Jauziyyah


Ketika Dia berkehendak untuk menarik kita mendekat kepadaNya, ada dua cara: kita mendekat dengan sukarela, atau kita terpaksa ‘diseret’Nya ke dalam ampunan serta rahmatNya dengan rantai ujian dan cambuk kesulitan, kebingungan atau penderitaan, yang pasti—tidak bisa tidak—akan membuahkan sebuah permohonan tolong dan ampun dengan jujur, dari dasar hati kita yang terdalam. Kalau saya cenderung memilih jalan yang sukarela.


“Kembalilah kepada kesejatianmu, wahai kalbu! Karena jauh di dalam dirimu wahai kalbu, engkau akan menemukan jalan menuju Tuhan Yang Maha Tercinta.”
-- Jalaluddin Rumi dalam Diwan-i Syams-i Tabriz



Ada tak terhingga cara untuk kembali kepadaNya. Tapi suka atau tidak, kita dijadikanNya sebagai ummat Muhammad SAW. Karena Muhammad SAW adalah pemegang kunci pintu menujuNya di periode ini, maka suka atau tidak, cara kembalinya kita harus ada dalam ruang lingkup ajaran Beliau SAW. Percayalah, cepat atau lambat kita akan melalui jalan Beliau SAW.

Dalam perjalanan mencari Ma'rifat (mengenalNya) seseorang tidak terlepas daripada kemungkinan menjadi ragu-ragu, lemah semangat dan berputus asa jika dia masih bersandar kepada sesuatu selain Alloh SWT.

Hamba/Suluk/Pencari jati diri tidak ada pilihan kecuali berserah kepada Alloh SWT, hanya Dia yang memiliki kuasa Mutlak dalam menentukan siapakah diantara hamba-hambaNya yang layak mengenali DiriNya. Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang berserah diri kepada Alloh SWT.

Aslim atau menyerah diri kepada Alloh SWT adalah perhentian di hadapan pintu gerbang Ma'rifat. Hanya para hamba yang sampai di perhentian aslim ini yang berkemungkinan menerima karunia ma'rifat. Alloh SWT menyampaikan hamba-Nya di sini adalah tanda bahwa si hamba tersebut dipersiapkan untuk menemuiNya.

Aslim adalah makam berhampiran dengan Alloh SWT. Barang siapa yang sampai kepada makam ini haruslah terus membenamkan dirinya ke dalam lautan penyerahan tanpa menghiraukan banyak atau sedikit ilmu dan amal yang dimilikinya. Sekiranya Alloh SWT menghendaki dari makam inilah hamba diangkat ke Hadirat-Nya...

Suatu bentuk kesadaran yang tertinggi adalah penyerahan diri kepada Alloh Yang Maha Menentukan. Suatu kepasrahan yang ikhlas dan optimis, bukan kepasrahan tanpa harapan. Penyerahan diri yang dilakukan di setiap menjelang ikhtiar dan di saat berjeda, akan mendatangkan petunjuk, karena hawa nafsu tidak bermain. Apa yang dilakukan adalah apa yang diinspirasikan ke dalam hati dan pikiran.

Kepasrahan bukan secara menyengaja melenyapkan hasrat keduniaan sama sekali. Kepasrahan berarti menyerahkan sepenuhnya pengaturah hidupnya kepada Alloh. Misalnya, Sulaiman menjadi Raja yang hebat bukan karena ambisinya, namun karena kepasrahannya, dan oleh Alloh diamanahkan kerajaan yang tidak pernah dimiliki oleh orang sebelum dan sesudahnya.

Kepasrahan itu berarti mengistirahatkan hawa nafsu dalam melihat masa depan. Hawa nafsu digunakan hanya pada saat amanah itu sudah diturunkan. Misalnya seorang yang diamanahkan untuk menikah, hawa nafsunya akan bermakna saat dia bisa menyalurkan syahwatnya.


“...barangsiapa menghendaki kebaikan bagi dirinya, niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.”
{QS. Al-Insaan, 76:29}


Banyak orang mengetahui Tuhan, tetapi mengapa sedikit yang mau mengenal Tuhan. Salam Kontemplasi! :)


*Night Shift II, CPP LAB KPC