Jumat, 18 Mei 2012

Rumi; Iman dan Amal



Tuhan telah memasang tangga di hadapan kita: kita harus mendakinya, setahap demi setahap.

Engkau memiliki kaki: mengapa dibiarkan lumpuh?
Engkau memiliki tangan: mengapa jemarinya tak kau pergunakan untuk menggenggam?

Kehendakmu yang bebas adalah untuk upaya mensyukuri Tuhan atas karunia-Nya; kepasrahanmu yang apatis adalah mencampakkan karunia itu.

Bersyukur karena mampu memilih tindakan akan menambah kesyukuranmu pada-Nya; Kaum Jabariah mencampakkan apa yang telah Tuhan anugerahkan.

Para perampok mengintai di tengah perjalanan: jangan tidur hingga kau lihat gapura dan pintu gerbang!

Apabila kau hendak bertawakkal, bertawakkallah pada-Nya dengan amal! Tebarkan benih, lalu serahkanlah pada Yang Maha Kuasa!

-- Jalaluddin Rumi, Masnavi I. 929; dari buku Nicholson, Reynold A. Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi. Juni 2005: Pustaka Firdaus. hal. 44.

Rabu, 16 Mei 2012

Rumi; Kembali Kepada Allah


Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.

Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata uang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya!

Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayolah datang, dan datanglah lagi!

Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu,
kerana Akulah jalan itu.”

Mutiara Ali


“Wahai 'Ali! Karena manusia mencoba untuk mendekati Penciptanya melalui segala bentuk ketakwaan, bawalah dirimu mendekatiNya melalui seluruh kecerdasan, sehingga kau akan tiba Di Sana sebelum mereka semua.”
-- Nabi Muhammad SAW berkata kepada 'Ali bin Abi Thalib

“Ingatlah bahwa penampilan pertamamu di muka bumi ini diawali dengan kebodohan dan ketidaktahuan, kemudian secara bertahap engkau memperoleh pengetahuan. Ada banyak hal di dunia ini yang berada di luar pengetahuan dan pemahamanmu, yang membingungkan dan mengejutkanmu, dan yang tentang engkau tak mengerti "mengapa" dan "bagaimana", serta hal-hal yang tidak dan tidak akan dapat kau ketahui, juga hal-hal yang tidak dapat kau duga dan kau prediksi. Jika ada yang tidak kau pahami, janganlah kamu langsung menolaknya. Ingatlah selalu bahwa ketidak mengertianmu disebabkan oleh prasangka burukmu, buramnya hatimu, kurangnya pengetahuanmu atau kebodohanmu.”
-- Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib

“Janganlah kesulitanmu memenuhi hatimu dengan kegelisahan. Ketahuilah hanya di malam yang paling kelam justru bintang-bintang bersinar lebih terang.”
-- Sayyidina Ali Bin Abi Thalib



Rabu, 08 Februari 2012

Gerak Ini

“Sekiranya matamu terbuka dari mata gaib. Maka atom-atom semesta memiliki rahasia bersamamu. Omongan air, tanah dan bunga - Hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang mengurus hatinya.”

-- Jalaluddin Rumi


Berasal dari sebuah biji yang kecil lalu tumbuh bergerak menjadi batang yang tinggi, menjadi pucuk daun, menjadi ranting, menjadi akar, lalu mati...biji-biji yang lainnya akan berlaku sama seperti itu..

“Sesungguhnya Alloh menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?”
{QS. Al-An'am, :95}

Kemudian perhatikan Bumi bergerak , bulan bergerak, atom-atom bergerak pada aturan yang harmoni...

“Alloh-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Alloh mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”
{QS. Ar-Ra'd, 13:2}

Kemudian pandangi seluruh alam semesta, pandanglah dengan hening. Lihatlah alam itu. Semuanya bergerak serentak dengan rencana yang baik dan sempurna, ia tidak berdaya mengikuti kemauan yang tidak bisa dibendung dari dalam..mereka pasrah terhadap gerak Yang Menggerakkan, mereka tidak bisa menolaknya..ada sebuah gerak yang meliputi seluruh alam yang tidak kelihatan, yang tidak bisa dijangkau oleh mata dan perasaan.

"Kepunyaan Alloh-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah Alloh Maha Meliputi segala sesuatu."
{QS. An-Nisaa, 2:126}

Akan tetapi gerak itu tampak sekali dengan jelas sehingga bumi itu bergerak, matahari bergerak, tumbuhan bergerak, jantung kita bergerak, atom-atom bergerak. SEMUA MENGIKUTI GERAK HAKIKI, bukan kehendak kita.

Lihatlah sekali lagi dengan seksama, engkau akan melihat Yang Menggerakkan, Yang Hidup, Yang Nyata (Dhohir), Yang Tersembunyi (Bathin), dan Dialah Yang tidak bisa dijangkau oleh kata-kata dan sifat..

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Dzahir dan Yang Bathin, dan Dialah Yang Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.”
{QS. Al-Hadiid, 57:3}

Dan bersujudlah kepada yang TAMPAK itu, bukan kepada alam semesta yang fana, yang bergantung kepada Sang Hidup, engkau akan melihat semua alam bersujud dengan caranya masing-masing.

“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang- bayangnya di waktu pagi dan petang hari.”
{QS. Ar-Ra'd, 13:15}

“dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud”
{QS. Asy Syu'araa, 26:219}

“Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada disisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Alloh dan mereka mentasbihkanNya dan hanya kepadaNya lah mereka bersujud.”
{QS. Al A'raaf, 7:206}

Kemudian semuanya bertasbih dengan bahasanya yang khusus.

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” {QS. Al-Isra, 17:44}

“Tidaklah kamu tahu bahwasanya Alloh: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”
{QS. An-Nur, 24:41}

Kemudian lihatlah yang menggerakkan jantung anda, jangan lihat jantungnya. Tetapi yang menggerakkan itu, yang amat dekat itu, yang hidup itu, yang kuasa itu, yang lebih dekat dari jantung anda sendiri!

“Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do'a hamba-Nya).”
Huud - Ayat: 61


Maha Suci Engkau..
Maha Suci Engkau..
Maha Suci Engkau..

Sabtu, 14 Januari 2012

Ainul Yaqin



Apakah yang lebih berharga dari pengetahuan Ainul Yaqin?

Ada tiga jenis pengetahuan:
Pertama, pengetahuan indrawi
Kedua, pengetahuan logika
Ketiga, pengetahuan batin

Semua hal yang dapat ditangkap dengan indra manusia adalah pengetahuan indrawi. Semua pengetahuan yang berdasarkan proses penyimpulan sesuai dengan hukum-hukum logika disebut pengetahuan logika. Semua pengetahuan yang dapat disaksikan langsung oleh batin adalah pengetahuan batin.

Semua pengetahuan indrawi dan logika merupakan pengetahuan pengantar menuju pengetahuan batiniah, di mana kebahagiaan muncul bersama munculnya pengetahuan batin ini. Pengetahuan ilmiah maupun logika tidak mensyaratkan kesucian pada diri seseorang. Tapi, pengetahuan batiniah tercapai sejauh kesucian tercapai.

Untuk mengembangkan pengetahuan, seseorang dapat dengan mudah melakukannya dengan cara membaca buku. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil membaca buku-buku tersebut mungkin menempati posisi yang sangat penting, tergantung jenis dan kualitas keilmuannya. Di sisi lain, pengetahuan yang diperoleh melalui perenungan, pengetahuan yang diperoleh melalui indra batin, yaitu pengetahuan batiniah, juga menempati posisi yang sangat penting. Terlebih penting, karena ketercapaiannya pengetahuan batiniah berarti tercapainya kebahagiaan. Pengetahuan ini pula yang dimaksud dengan hikmah di dalam filsafat Isyraqiyah:

“Dalam hal ini, hikmah itu bukan merupakan teori yang diyakini oleh seseorang, melainkan perpindahan rohani secara praktis dari alam kegelapan, yang di dalamnya pengetahuan dan kebahagiaan merupakan hal yang mustahil, kepada cahaya yang bersifat akal, yang di dalamnya pengetahuan dan kebahagiaan dicapai bersama-sama.”
(Siti Maryam, Rasionalitas Pengalaman Sufi, hal. 52)

Melalui pengamatan, observasi atau eksperimen, pengetahuan seseorang akan terus berkembang. Itu adalah pengetahuan ilmiah. Tetapi, bagi manusia tidaklah cukup berhenti pada pengetahuan ilmiah saja. Sebab, segenap pengetahuan ilmiah tersebut harus difahami saling keterkaitannya satu sama lain secara logika. Oleh karena itu, batin perlu berkembang. Ketika batin berkembang, daya logika mulai bekerja. Karena itu pengetahuan ilmiah akhirnya menempati kedudukan sebagai premis-premis bagi terlahirnya filsafat.

Setelah sampainya pada filsafat, yang terlahir dari berbagai pengetahuan ilmiah tersebut, manusia akhirnya tersadar bahwa ada fakta-fakta yang tidak dapat terjangkau oleh panca indra. Tidak terjangkaunya pengetahuan tersebut, bisa jadi karena objek yang jauh atau tersembunyi, dan bisa juga karena jenis objek yang memang  tidak terjangkau oleh kemampuan panca indra.

Bakteri, misalnya, dia tidak bisa terlihat oleh mata secara langsung. Tetapi, melalui hipotesa, keberadaan bakteri tersebut dapat diketahui. Untuk membuktikan kebenaran hipotesa tersebut, manusia berupaya menciptakan alat yang bisa melihat objek-objek mikroskopis. Alat itu kini disebut mikroskop.

Objek-objek mikroskopis itu merupakan objek-objek ilmiah yang tidak terlihat secara langsung, tapi dapat dilihat oleh pancaindra dengan bantuan suatu alat. Tidak terlihatnya objek-objek mikroskopis tersebut tergolong kepada kategori 'objek yang tersembunyi', dan bukan objek dengan jenis yang benar-benar tidak dapat dijangkau oleh pancindra. Sedangkan sebagian objek, benar-benar tidak terjangkau oleh panca indra, dimana tidak ada alat apapun yang bisa membuat panca indra melihatnya.

Misalnya 'kebahagiaan'. Sudah sangat jelas bahwa kebahagiaan itu merupakan sesuatu 'yang ada'. Walaupun ada, ia tidak dapat dilihat oleh mata, tidak juga dapat dirasakan oleh kulit. Itulah jenis objek dari jenis 'yang tidak terjangkau panca indra', tetapi dapat dirasakan langsung keberadaannya oleh batin. Oleh karena itu, objek-objek seperti kebahagiaan disebut dengan pengetahuan batiniah.

Pengetahuan batiniah, tidak hanya meliputi pengetahuan yang menyangkut mental manusia. Tetapi, lebih luas dari itu. Apa yang umumnya disebut dengan 'alam gaib', itu juga tidak dapat terjangkau oleh panca indra, tapi dapat terjangkau oleh batin. Sebagai contoh, bagaimana Suhrawardi dapat menjelaskan asal mula kejadian alam semesta melalui dzauq (pengetahuan batin), dan bukan melalui penelitian ilmiah. Dan melalui dzauq pula Suhrawardi dapat menjelaskan pengetahuan serupa ini:

“Essensi Cahaya Absolut Yang Pertama, Tuhan, selalu memberi iluminasi dan dengannya mewujudkan dan membawa segala sesuatu menjadi wujud, serta memberi kehidupan kepada wujud-wujud itu dengan sinarnya. Segala sesuatu yang ada di dunia berasal dari cahaya esensiNya. Dan semua keindahan dan kesempurnaan adalah pemberian kemurahanNya. Dan benar-benar mencapai iluminasi ini berarti keselamatan (29).”
(Siti Maryam, Rasionalitas Pengalaman Sufi, hal. 61)

(29) al-Chulw dalam al-Mausu`ah, hlm. 110


Suhrawardi berbicara tentang cahaya absolute, dan proses terjadinya segala sesuatu. Pengetahuan ilmiah saja tidak akan sanggup menjangkau semua hal itu. Tetapi, mungkin orang-orang akan lebih memilih pengetahuan ilmiah dari pada pengetahuan batiniah, karena beranggapan bahwa pengetahuan ilmiah itu dapat dibuktikan kebenarannya oleh setiap orang, terutama bila sang penemu telah menjelaskan prosedur pembuktiannya. Jika seseorang mau menempuh prosedur ilmiah tersebut, tentulah bukti-bukti kebenaran ilmiahnya dapat ditemukan orang itu. Sebenarnya, pengetahuan batiniah pun dapat dibuktikan, dengan prosedur yang berbeda dengan prosedur ilmiah.

Jika Anda merasa bahagia, maka bagaimana langkah-langkah ilmiah yang dilakukan untuk membuktikan pada orang lain bahwa Anda sedang merasa bahagia?
Lebih dari itu, di dalam diri Anda itu terdapat banyak sekali gejolak mental yang sama sekali tidak dapat diketahui dan difahami oleh orang lain, kecuali berita dari Anda sendiri. Sedangkan diri Anda itu merupakan micro cosmos, miniatur alam semesta ini. Semakin Anda mengenali diri Anda, berarti Anda semakin memahami hukum-hukum alam semesta. Masalahnya, setelah Anda menemukan hukum-hukum alam di dalam diri Anda sendiri, lantas bagaimana Anda membuktikan kebenaran semua itu kepada orang lain?

Prosedur umum dari pembuktian pengetahuan batiniah adalah melalui konsentrasi, pencapaian ketenangan serta pengenalan terhadap diri sendiri. Prosedur khususnya mungkin bisa lebih banyak dari pada itu. Jika Anda telah mengetahui bahwa yang disebut kebahagiaan oleh umumnya orang itu sebenarnya ada "kebahagiaan yang destruktif" dan ada "kebahagiaan yang konstruktif". Kemudian Anda mengabarkannya kepada orang lain. Kemudian, agar orang lain memahami bahwa apa yang Anda kabarkan itu benar, maka tentulah tidak dengan cara "lihatlah jenis-jenis kebahagiaan yang ada di dalam hatiku", tapi dengan cara "perhatikanlah, jenis-jenis kebahagiaan yang ada di dalam hatimu sendiri".

Orang yang kurang peka, kurang memahami perasaan orang lain. Bahkan perasaannya sendiripun kurang dapat ia fahami. Tetapi dengan lebih menyelami perasaan sendiri, maka ia akan jauh lebih faham tentang apa yang ada di dalam hati orang lain. Demikianlah salah satu karakteristik pengetahuan batiniah.

Pada tahap yang lebih tinggi, kemampuan seseorang dalam berkonsentrasi (khusyuk) serta mengamati diri sendiri, akan sampai pada pengetahuan tentang alam semesta dan asal mulanya segala sesuatu.

Pengetahuan apapun yang dikatakan orang diperoleh secara ilmiah, sesungguhnya dapat diperoleh secara batiniah. Hal ini selaras dengan firman Alloh:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa dia itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. 41:53)

Hanya, sejauh dan sebanyak mana pengetahuan tersebut diperoleh manusia ditentukan oleh kualitas batin masing-masing.

Ayat-ayat Alloh disegenap ufuk itu adalah alam semesta ini, yaitu pengetahuan ilmiah. Tapi, pengetahuan ilmiah itu merupakan tangga terendah dalam hirarki pengetahuan. Tangga berikutnya adalah Logika. Akhirnya sampai pada tangga terakhir, yaitu pengetahuan batiniah.

Pengetahuan jenis yang terakhir ini sesungguhnya meliputi keseluruhan pengetahuan. Selaras dengan kalimat "Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?". Karena Tuhan adalah realitas tertinggi, Dia meliputi segala sesuatu. MengenalNya, berarti memahami segala sesuatu. Dia dikenali melalui pengenalan diri, sebagai prosedur umum pencapaian pengetahuan batiniah. maka dari itu dikatakan "dan (ayat-ayat Alloh itu ada) pada dirimu sendiri".

Orang kafir atau orang jahat sekalipun yang akalnya diliputi oleh ar-rijsa tidak terhalang dari mengetahui pengetahuan indrawi maupun logika. Selama ia memiliki otak yang normal, tidak gila atau idiot, ia mampu menyerap pengetahuan-pengetahuan itu, menjadi orang terpelajar, cendikiawan dan dapat disebut ahli ilmu. Tetapi, pengetahuan batin tidak dapat dicapai oleh mereka yang akalnya diliputi oleh rijs. Dan mereka yang dianugrahi al-hikmah adalah mereka yang bersih dari ar-Rijsa, yaitu kabut gelap yang menghalangi akal dari memahami objek-objek pengetahaun batin.

“Alloh menimpakan rijs kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.”
(QS. Yunus, 10:100)

“tidak menyentuhnya (memahami makna kandungan al-Quran) kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (QS. 56:79)

Selama batin diliputi oleh noda dan dosa, jangan harap dapat memahami objek-objek batiniah yang menjadi objek pembicaraan ayat-ayat Al-Qur'an. Hanya dengan penghancuran noda-noda itulah, objek-objek batiniah seperti 'neraka jahim' dapat dilihat secara langsung. Pengetahuan langsung ini adalah Ainul Yaqin.

“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin,” (QS. 102:5-7)

Manusia yang melihat neraka jahim dengan ainal yaqin, mereka itulah yang perbuatanya tercegah dari dosa. Pengetahuannya itulah yang mencegahnya dari dosa. Bagaimana mungkin seseorang akan kuat berbuat dosa, sementara dia dapat melihat secara langsung bagaimana ngerinya neraka jahim?

Hafalan-hafalan, pemahaman-pehaman manusia yang bersifat teoritik terhadap Al-Qur'an dan Hadits, tidak menjamin seseorang tercegah dari dosa. Lembaga-lembaga agama pun, yang berisi para inetelek agama bisa dipenuhi dengan manusia-manusia korup yang dipenuhi nafsu keduniawian. Dalil dan ayat hanya digunakan sebagai kedok, cara melindungi diri dan menyerang pihak lain. Satu-satunya pengetahuan yang dapat mencegah manusia dari perbuatan dosa 'secara paksa' adalah pengetahuan batin. Dengan kata lain, bila seseorang telah mencapai 'ainal yaqin' , maka Alloh akan menganugrahkan kepada dirinya sebuah kekuatan yang akan memaksa dirinya untuk senantiasa berbuat kebajikan dan mencegahnya dari berbuat kemaksiatan. Dia menjadi tidak dapat lari dari perbuatan baik kendatipun dia berupaya menghindarinya dan tidak akan mampu berbuat kejahatan, kendatipun dia mencoba melakukannya. Maka, apakah yang lebih berharga dari pengetahuan Ainal Yaqin?

“Pengetahuan Ainul Yaqin ini adalah suatu pengetahuan pasti akan suatu sebab akibat perbuatan maksiat dan dosa yang tidak dapat diragukan lagi, yaitu manakala seseorang mencapai drajat (maqam) ketakwaan yang menjadikan dirinya dapat meraba akibat dari semua akibat di alam akhirat nanti dengan segala konsekuensinya.”
(Ali Umar Al-Habsyi, Dua Pusaka Nabi, Hal. 298).

Pengetahuan ini hampir sama dengan pengetahuan ahli sorga yang telah bermukim di dalamnya terhadap perikeadaan sorga, dan hampir sama dengan pengetahuan ahli neraka yang telah bermukim di dalamnya terhadap neraka, yakni dia tidak hanya mengetahuinya secara kognitif, melainkan 'dapat merabanya', di mana semua pengetahuan tentang sorga neraka itu seakan selalu digambarkan kepadanya melebihi gambaran audio visual tercanggih.

“Pengetahuan seperti itu dapat menjadikan penyangdangnya sebagai manusia ideal yang tidak akan melanggar firman Tuhan sedikitpun dan tidak akan berjanja dari garis-garis yang telah digarikan oleh Nya dalam kehidupannya, bahkan bukan hanya kemasiatan saja yang sirna dari lembaran-lembaran kehidupannya, akan tetapi sekedar berpikir tentangnya saja tidak akan dapat jalan ke pikiran dan hatinya.”
(Ali Umar Al-Habsyi, Dua Pusaka Nabi, Hal. 299)

Pengetahuan Ainul Yaqin adalah pengetahuan yang menjadi sebab kemaksuman para Imam a.s. tetapi kesempatan memperoleh anugrah Ainal Yaqin tidak hanya diberikan kepada mereka para imam a.s, melainkan juga kepada seluruh manusia yang ingin mencapainya. Bahkan seluruh ajaran agama yang haq adalah agar manusia mencapai pengetahuan Ainul Yaqin. Inilah makfiratullah. Mereka yang memahami ajaran agama secara teoritik saja, tanpa upaya mencapai perwujudan cahaya ilahiah di dalam batinnya, itulah sebenarnya yang disebut dengan Ahlul Kitab, ahli penghafal kitab, ahli teori kitab, ahli berdebat menggunalan dalil-dalil kitab, ahli mengutip pendapat orang lain, penganut agama buku, tapi mereka tidak berkembang secara ruhaniah.

Sabtu, 03 Desember 2011

Ya Shobiran



Wahai dzat yang Maha Sabar berilah kabar gembira kepada hamba yang sabar
Segera datangkan pertolongan, kelapangan serta kemenangan
Orang yang sabar pasti akan mendapatkan sesuatu yang ia harapkan berkat kesabarannya
Waktu berubah menjadi cerah setelah gelap dan keruh

Maka bersabarlah atas segala cobaan dan ujian yang datang kepada dirimu serta tunggulah
Kelapangan, kesenangan pasti datang sebab qodar pastikan berubah
Jika kejadian dan peristiwa menggelapkan dan memburamkan dirimu
Maka tenangkan dirimu, berhati-hatilah janganlah engkau gundah gulana

Bersabarlah seperti sabarnya orang-orang yang bertakwa
Pasti Allah memberi hidayah pada dirimu
Dan sepertinya sabarnya orang-orang Abrar (baik) yang mana mereka tidak berubah ditengah-tengah segala perubahan

Ketahuilah bahwa alam ini berwatak
Selalu berubah dan menyusahkan pikirkanlah wahai diriku sedalam-dalamnya
Dan ikutilah raja-raja orang yang sholeh, pelita petunjuk
Dialah sebaik-baik ciptaan yang diciptakan dialam ini,
Muhammad sebaik-baik hambanya...

"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri."
{QS. At Thuur (52);48}

Kamis, 13 Oktober 2011

JATI DIRI MANUSIA



 1] Man ‘Arafa Nafsahu Faqad ‘Arafa Rabbahu...
 
Bila menurut Karl Marx orang mengalami keterasingan karena adanya ketidak adilan dalam sistem sosial, maka menurut Sang Buddha orang mengalami keterasingan karena ia tidak menyadari hakikat dirinya yang sejati.

Bila Marxisme bertujuan untuk membebaskan manusia dari keterasingan sosialnya, maka Budhisme bertujuan membebaskan manusia dari keterasingan akan hakikat dirinya yang sejati.

Akal dan pikiran adalah potensi strategis manusia yang dinisbahkan oleh Alloh SWT untuk membedakannya dengan makhluk lainya. {Akal dan pikiran adalah alat mengenal Alloh, hati adalah istana Arsy Alloh yang mampu menampungNya. Karena hati adalah cahaya. Dengan hati bersih kita mampu mengenal diri.} Manusia adalah citra kesempurnaan-Nya, maka dengan akal dan pikirannya, manusia semestinya (bahkan menjadi fitrahnya) untuk mampu mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya..



2] Dalam keadaan sakratul maut, Si Fulan tiba-tiba merasa dirinya berada di depan sebuah pintu gerbang langit. Dan diketuknya pintu gerbang langit.
“Siapa di situ?” ada suara dari dalam.
Lalu Si Fulan menjawab, “Saya, Tuan.”

“Siapa kamu?”
“Fulan, Tuan.”

“Apakah itu namamu?”
“Benar, Tuan.”

“Aku tidak bertanya namamu. Aku bertanya siapa kamu?”
“Saya Fulan Bin Fulan”

“Aku tidak bertanya kamu anak siapa. Aku bertanya siapa kamu?”
“Saya seorang Pejuang”

“Aku tidak menanyakan pekerjaanmu. Aku bertanya siapa kamu?”
“Saya seorang Muslim, pengikut Rasulullah SAW.”

“Aku tidak menanyakan agamamu. Aku bertanya siapa kamu?”
“Saya ini manusia. Saya setiap hari sholat lima waktu dan saya suka kasih sedekah. Setiap Ramadhon saya juga puasa dan bayar zakat.”

“Aku tidak menanyakan jenismu, atau (amal ibadah) perbuatanmu. Aku bertanya siapa kamu?”

Fulan tidak bisa menjawab. Ia berbalik dari pintu gerbang langit, gagal masuk kedalamnya karena tidak mengenal siapa dirinya.

Ada kalimat yang agung mengatakan, “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya - Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu”.

Setinggi apapun keimanan seseorang, kalau ia belum mau berserah diri, maka orang tersebut belum dapat dikatakan Islam. Demikian juga sedalam apapun keberserah-dirian seseorang, kalau ia tidak mengenal jati dirinya dan mengenal Tuhannya, maka orang tersebut belum dapat dikatakan Ihsan.


3] Dengan perantara apa Alloh membisikkan kepada setiap hambaNya untuk berbuat apa yang diperintah dan apa yang dilarangNya. Jika tidak dengan perantaraan wahyu yang diseru kedalam qolb.

Nabi Muhammad menjadi Nabi bukan karena banyak membaca atau berdiskusi tentang agama sebelumnya, namun beliau banyak memasrahkan diri dengan berkhalwat di gua Hira.

Di lereng bukit yang terjal dan keras, dalam gua hira yang sempit dan gelap, berhari-hari Nabi Muhammad berkontemplasi merenung, mempertanyakan segalanya tentang hidup. Dan di suatu kedalaman ruhani, tiba-tiba terdengar suara menggema:

"Bacalah!"

Muhammad menggigil ketakutan, hingga berulangkali suara itu memerintahkan.

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."(1)

Manusia yang tahu diri adalah manusia yang banyak berdialog dengan Alloh. Dialog ini tidaklah hanya dibatasi oleh peribadatan rutin, karena Dia Yang Maha Dekat tidak menuntut formalitas..

Dan tidaklah Nabi Muhammad SAW disuruh membaca Al-Qur'an pertama kali oleh Malaikat Jibril kecuali membacai Al-Qur'an dalam diri Muhammad sendiri.

(1) QS. Al-Alaq: 1-2, ayat pertama memerintahkan Muhammad membaca, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan", maka pada ayat berikutnya "Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah" memerintakan Muhammad untuk mengetahui asal-usul kejadian manusia, hal ini mengisyaratkan agar Muhammad membaca Al-Qur'an yang ada didalam dirinya..

Al-Qur'an yang tersurat maka carilah yang tersirat (di dalam dirimu) dengan sekaligus menjalankan prosesnya, maka dipenghujung pencarian ini akan kita dapati kebenaran di qolbu.


4] Wukuful Qalbi, bisa juga disebut merenung (menundukan pikiran kepada hati, (Musa pada Khidir, Adam pada Nur Muhammad). Wukufulul Qalbi, bukan sebuah amalan berupa dzikir, atau melafatkan Asma Alloh, tapi perjalanan alam jiwa (akal pikiran, dengan langkah awal mengosongkan akal pikir dari sesuatu selain Alloh, lalu kepala ditundukkan ke hati dengan segala kepasrahan dan kerelaan) menuju Alam yang lebih lembut, yaitu menuju Lub (fuad, hati yang paling dalam) lalu menyentuh Ruh dan Rasa (Sirr). Alam akal pikiran akan tenggelam dan sirna, lenyap dan terserap kedalam alam yang lebih lembut..sampai pada akhirnya menyentuh Yang Maha lembut.

"Tafakur (merenung) sejenak itu lebih baik dari pada beribadah 70 tahun." 
-- Al-hadist.

Karena di dalam merenung (wukuful qalby) kita akan mengenal siapa diri kita, dan menjadi jalan untuk mengenal-Nya, sedang mengenal-Nya (tentunya di saat pada pengenalan ini kondisi kita dalam kondisi "Fana ul fana" (mati sebelum mati, atau seperti kondisi Musa yang pingsan dalam bukit Sin) itu sungguh lebih Mulya nilai-Nya dengan dunia dan surga dengan segala isinya..


5] Manusia diciptakan dari cahaya, di isi dengan cahaya, dibungkus dengan cahaya, didekatkan dengan cahaya, dikuatkan dengan cahaya, serta ditempatkan di sumber cahaya.
Manusia berasal dari Cahayanya Cahaya Maha Cahaya.

Alloh adalah Cahaya Maha Cahaya, petunjuk-Nya adalah Cahaya, kalam-Nya adalah Cahaya.

Alloh memberikan cahaya-Nya pada siapa saja yang Ia kehendaki di antara hamba-Nya.


6] Semua makluk diciptakan tak ubahnya seperti garam didalam laut. Nama-wujud-sifat-gerak-ilmu-semuanya, bukan garam melainkan laut itu sendiri. "Inna rabbaka ahad - Sesungguhnya Tuhanmu meliputi segala manusia(1)"
(1) QS. Al Israa', 17:60.


7] Ketahuilah bahwasannya masterpeace ciptaan Alloh adalah manusia. Al-Qur’an, Islam, Surga-Neraka, Langit-Bumi, Malaikat-Iblis, Jin, dan seluruh makluk lain adalah komponennya.
Manusia adalah sebaik-baik ciptaan “Laqad khalaqnaa al-insaana fii ahsani taqwiimin – Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya(1)”.
Dan kepada manusia, Alloh sendirilah yang meniupkan ruh-Nya, “Fa-idzaa sawwaytuhu wanafakhtu fiihi min ruuhii - Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku(2)”.
(1) QS. At Tiin, 95:4.

(2) QS. Shaad, 38:72.


8] Dalam tiap diri manusia itu ada sebuah kaum yang beraneka ragam sifatnya, sehingga apabila Al-Qur’an mengatakan “Ya Ayyuhalladzina 'Amanu”, “Ya ayyuhal kafirun”, “Ya ayyuhal munafiqun”, “musyrikuun”, “Nashoro” atau “Yahuda”- itu semua menyebut diri kita sendiri. Bukan kita yang beriman, lantas orang lain yang dimunafikkan atau dikafirkan. Bukan kita yang muslim kemudian orang yang berbeda keyakinan dengan kita dikafirkan.
Mari kita cermati hadits,

“Setiap anak lahir fithrah. Orang tuanyalah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi atau Majusi.”

Hadits yang “aneh”. Jika orangtuanya muslim, misalnya, mungkinkah ia membesarkan anaknya menjadi nasrani atau yahudi? Maka untuk siapa hadits itu? Ini artinya bahwa dalam setiap diri manusia pun ada aspek ke”yahudi”-an dan aspek ke-”nasrani”-an. Dalam pengertian yang lebih dalam, dalam khazanah tasawuf ini juga berarti bahwa orang tualah yang menjadikan aspek mana yang tumbuh dan dominan dalam batin seorang anak, meskipun ia secara formal mungkin seorang muslim.

9] Manusia belum tentu konstan berlaku sebagai manusia, bisa juga pada momentum tertentu, pada kondisi psikologis tertentu, pada situasi perhubungan sosial tertentu, pada peristiwa tertentu, manusia berlaku sebagai monster, kanibal, hewan, setan atau bahkan iblis.


10] Iblis berasal dari Segitiga Bermuda.
Apakah Segitiga Bermuda itu?

Dimana Segitiga Bermuda itu?
Segitiga Bermuda adalah nafsu manusia, yaitu “Nafsu Amarah”, “Nafsu Lauwamah” dan “Nafsu Mulhimah”. Karena ketiga nafsu itu berada di hati manusia, sungguh berhati-hatilah engkau dari padanya.


11] Cukuplah Alloh sebagai Tuan Rumah (hati) mu, dan Muhammad sebagai penjaga pintunya.


12] Tidak ada sejentik ruangan dalam hati manusia yang tidak di isi oleh kekuasaan Alloh, walaupun sejentik itu berupa kekafiran terhadap Alloh sendiri(1).
“Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan dalam dada mereka dan apa yang mereka nyatakan(2)”.
(1) Sifat kafir dan mukmin yang ada didalam hati semua manusia adalah kekuasaan  Alloh.

(2) QS. Al Qashash, 28:69, demikian juga terdapat di QS. An Naml, 27:74.


13] "Dan Kami tampakkan Jahanam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas, yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari zikir terhadap tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar(1)”.
Tahukah engkau siapa yang disebut kafir?

‘Kafir’ bukanlah orang yang berbeda agama (diluar Islam), tetapi ‘kafir’(2) adalah siapa saja(3), termasuk orang yang muslim sekalipun yang mata dan telinga qalbu didalam dadanya tidak berfungsi.

”Fa-innahaa laa ta'maa al-abshaaru walaakin ta'maa alquluubu allatii fii alshshuduuri - Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada(4).


Kekafiran dan keimanan bisa menimpa qalbu semua orang ibarat bumi tertimpa  malam. Ada permukaan bumi yang lebih panjang malam dari pada siang, dan ada permukaan bumi yang lebih panjang siang dari pada malam, dan ada pula permukaan bumi yang hanya tertimpa malam saja, atau siang saja. Sesungguhnya yang demikian terdapat ayat-ayat Alloh bagi mereka yang mau menggunakan pikiran.

(1) QS. Al Kahfi, 18:100-101.

(2)  Asal kata ‘kafir’ atau ‘kufur’ adalah ‘kafara’ yang artinya tertutup. Kata ini kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi ‘cover’, artinya penutup.
Artikel mengenai kafir dapat dibaca disini


(3)  Predikat kafir bisa menimpa siapa saja dan kapan saja, walaupun seorang telah melakukan amal ibadah bukan berarti suatu saat ia tidak bisa tertimpa kekafiran.

(4) QS. Al Hajj, 22:46.


"Ya Tuhan..janganlah Engkau beri kami kemenangan, karena kemenangan menjadikan pihak lain menjadi kalah. Dan janganlah Engkau istimewakan kemurahan bagi kami, tapi cambuklah punggung kami ini, agar kami segera tau dan mengenal siapa sebenarnya diri kami.."

*SeLf RevoLutiOn!