Minggu, 22 Desember 2013

Kelapangan

QS. Al-Insyirah (Alam Nasyroh), 94; 1-8

{1} “A lam nasyroh laka shodrok - Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”

{2} “Wa wadlo'naa 'angka wizrok - Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,”

{3} “Alladzii 'angqodlo zhohrok - Yang memberatkan punggungmu?”

{4} “Wa rofa'naa laka dzikrok - Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.”

{5} “Fa inna ma'al 'usri yusroo - Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,”

{6} “Inna ma'al 'usri yusroo - Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

{7} “Fa idzaa faroghta - Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,”

{8} “Wa ilaa robbika farghob - Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

CintaNya pada hambaNya





Awwaluddin ma'rifatullah. Sesungguhnya, awal dari beragama adalah mengenal Alloh. Man arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu. Barangsiapa mengenal diri, maka ia mengenal Alloh.

Demikianlah betapa Alloh memberi jalan termudah bagi makhluknya, terutama manusia, untuk mengenal, merasakan kehadiran, dan mencintai Alloh. Yaitu berangkat dari diri sendiri, dan berpulang kepada diri sendiri.

Selain membekali Muhammad dan umatnya dengan Al Qur'an, Alloh juga menyampaikan ayatnya melalui Hadits Qudsi. Yaitu firman Alloh yang secara redaksional telah disampaikan Rasulullah sesuai kearifan dan kebijaksanaan Beliau.

Dalam Hadits Qudsi, Alloh memperkenalkan diriNya dengan sejumlah keterangan yang terang benderang dan indah. "Sesungguhnya RahmatKu," kata Alloh," melampaui AmarahKu." Lihatlah betapa Allaoh Rahman dan Rahiim serta Pemaaf.

Alloh juga memberi keleluasaan kepada hambaNya untuk merenungkanNya. "Aku sesuai dengan prasangka hambaKu. Aku bersamanya sebagaimana ia menyebut NamaKu," firman Alloh.

Alloh tak menyalahkan hamba yang ramai, tak pula yang diam-diam. "Bila ia menyebut Aku di dalam dirinya [hatinya], maka Aku menyebutnya di dalam DiriKu," kata Alloh,"Bila ia menyebutKu di keramaian, maka Aku menyebutnya di khalayak yang lebih baik dari itu."

Alloh juga membesarkan hati hambaNya betapa mudah mendekatiNya. "Bila ia sejengkal mendekatiKu, maka Aku sehasta mendekatinya. Ia sehasta, Aku sedepa. Ia perlahan, Aku cepat."

Jalan kemanusiaan juga merupakan jalan lurus menujuNya. "Tidakkah kau tahu," kata Alloh," jika kau membesuk seorang yang sakit, niscaya kau menemukan Aku? Tidakkah kau tahu, jika kau memberi makan minum seorang yang lapar dahaga, niscaya kau mendapat ganjaranKu?"

Demikian Alloh mencintai hambaNya. Masih dalam Hadits Qudsi, Dia Berfirman,"Bila mencintai hambaNya, Alloh memberitahu Jibril -- sehingga seluruh penghuni langit pun mencintainya." Dan, sebaliknya, "Bila membenci hambaNya, Alloh memberitahu Jibril -- sehingga seluruh penghuni langit pun membencinya."

Sangat jelas ditetapkan dalam Hadits Qudsi bahwa bagi yang DicintaiNya maka kecintaan di bumi pula, dan ditetapkan bagi yang DibenciNya kebencian di bumi pula. "Barangsiapa yang memusuhi KekasihKu," kata Alloh," maka sesungguhnya Aku menyatakan perang kepadanya."

Maha Suci Alloh. Dia pun memberikan ciri-ciri tentang siapa yang Dia Cintai. "Tiada yang lebih Aku sukai dari hambaKu yg mendekatkan diri padaKu selain bahwa ia melaksanakan yang Aku wajibkan." Lalu, Alloh lanjutkan,"Dan tidaklah hambaKu yang mendekatkan diri padaKu selain bahwa ia menjalankan sunnah, sehingga Aku mencintainya."

Dan, tiada dapat dibayangkan bagaimana jika Alloh telah mencintai hambanya. "Bila Aku mencintainya, maka Aku menjelma pendengaran baginya mendengar, penglihatan baginya melihat..." Dan, Alloh mengampuni dosa-dosa meski telah setinggi langit.

Demi Alloh, dan atas nama Cinta, maka tiada alasan bagi kita untuk menunda diri mencintai Alloh -- dan merindukan perjumpaan denganNya. Dalam Hadits Qudsi pula ditetapkan,"Bila hambaku suka berjumpa denganKu, maka Aku pun suka berjumpa dengannya. Bila ia tak suka, Aku pun tak suka."

Dan, yang membuncahkan kecintaan para Kekasih adalah bahwa, "Aku siapkan bagi hambaKu yg berbakti, sesuatu yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, dan tersirat hati." Maha Suci Alloh dengan segala firmanNya..


Berdoa untuk Mengenal Allah



Manusia tidak mengenal Tuhan, atau tidak bersedia mengenal Tuhan? Tidak ada yang lebih berhak menjawab pertanyaan ini kecuali masing-masing manusia itu sendiri. Tidak ada jawaban yang bersifat umum. Sebelum akhirnya hidup sebagai makhluk sosial, manusia adalah makhluk pribadi. Dan, meski telah menjadi makhluk sosial, toh pada dasarnya manusia tetap makhluk pribadi sehingga Tuhan dan hal-hal tentang Tuhan adalah privasi.

Manusia bisa belajar mengenal Tuhan dari bagaimana ia menyediakan kata-kata untuk memohon kepadaNya. Dari bagaimana ia berdoa. Jika menggunakan kata-kata umum, contoh-contoh doa yang selama ini telah tersedia -- tanpa mengurangi rasa hormat dan keyakinan atas keberkahan contoh doa-doa itu -- tampaklah bahwa sedekat apa ia dengan Tuhan. Jika ia menyusun kata-katanya sendiri, sebagaimana kata hati dan keadaan yang nyata baginya, maka terlihat betapa ia mendekat dengan keluguannya yang manusiawi.

Allah adalah Pengatur Alam Semesta, dan tentu saja berbicara kepadaNya tak terbatas oleh kata dan bahasa. Dia tak hanya mengerti bahasa tertentu, Dia Maha Mengetahui bahkan segala yang tebersit di hati. Dalam Q.S. Ali Imran: 38, disebutkan bahwa Zakaria menyebut Allah,"Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa," tentu saja, itu bermakna dengan bahasa apa pun doa disampaikan -- bahkan Dia Maha Mengerti apa yang diminta dan dibutuhkan sebelum pendoa itu memohon kepadaNya.


Maka, seharusnya bahasa tak perlu menjadi kendala, demikian kekhawatiran bahwa doa tidak akan didengarkan, pun tidak dikabulkan. Asalkan meyakini bahwa Allah lebih mengetahui mana yang lebih baik bagi kita, maka setiap doa pasti terkabul dalam wujudnya yang paling baik; tidak selalu seperti yang kita inginkan, tapi tak perlu lagi bahwa kenyataan setelah berdoa itulah yang paling kita sesuai dengan yang semestinya kita terima. Jika Muhammad SAW saja berpetuah,"Sebaik-baik doa adalah memuji Allah, Yang Maha Mengatur Alam Semesta," maka doa adalah tentang bagaimana kita bersyukur.

Dalam Q.S. Al Baqarah: 186, Allah berfirman,"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." Tidak ada keraguan sedikit pun betapa berdoa kepadaNya adalah salah satu cara paling baik untuk belajar mengenalNya, yang dengan cara ini tampak dengan sendirinya cara kita mengenal diri kita sendiri.

Dari bagaimana seseorang berdoa, ia bisa belajar mengenal hakikatnya sebagai hamba Allah. Sebagaimana diabadikan dalam Q.S. Huud: 47, Nuh AS juga belajar tentang dirinya sendiri dengan berdoa," Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari memohon kepadaMu sesuatu yang aku tiada mengetahui hakikatnya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi". Di ayat sebelumnya, Allah memang memperingatkan,"Janganlah engkau memohon kepadaKu sesuatu yang engkau tidak mengetahui hakikatnya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan".


Doa adalah medium komunikasi yang sangat indah antara hamba dan Tuhan. Sang hamba bersimpuh, bahkan bersujud, mengiba dengan ucapan-ucapan dari bahasa airmata, bahasa bibir gemetar, dan bahasa hati yang berharap-harap cemas; sementara Allah menjawab doa dengan memberi keyakinan, harapan, dan petunjuk untuk melangkah menuju kenyataan atas apa yang sang hamba minta. Dalam Q.S. Al A'raf: 55, Allah berpesan,"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

Memaknai berdoa sebagai cara untuk bersyukur juga adalah keindahan tersendiri. Kita berdoa kepada Allah bukan memohon agar beban diringankan, namun agar kekuatan ditambahkan. Dalam Q.S. Al Baqarah: 286 Allah sudah menetapkan bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Segala sesuatu telah ditetapkan sesuai kadar, keadaan, kedudukan, dan kenyataan. Berdoa menjadi cara kita memujiNya dan bersyukur, dan olehkarena kita pandai beryukur maka Allah berjanji akan menambah kenikmatan kepada kita. Bagaimana pun, sebagaimana Q.S. Ar Ra'du: 14,"Hanya bagi Allah-lah hak mengabulkan doa yang benar." []

Sumber: http://www.candramalik.com/post/berdoa-untuk-mengenal-allah

Do'a Berwujud Penghambaan


Tanggalkan permohonan yang kering
dan hampa makna.

Tegaknya sebatang pohon,
mestilah karena bibit telah disebar.

Tapi bahkan jika tak kau miliki benih,
karena hampanya do'amu,
Tuhan akan anugerahi engkau
sebatang pohon kurma,
seraya bersabda, "Alangkah baiknya
penghambaannya!"

Lihatlah Maryam putri Imran
--kerinduannya sampai ke dasar hati,
tapi tak dimilikinya bibit:
maka Sang Maha Indah membuat
pokok kurma kering menghijau baginya.  [1]

Karena wanita mulia itu setia pada-Nya,
Tuhan berikan seratus kebaikan-Nya
tanpa suatu hasrat berdesir di hatinya.


Catatan:
[1]  Merujuk pada saat jelang lahirnya Isa ibn Maryam,
ketika dengan merendah Maryam berkata,
"... Wahai betapa baiknya jika aku mati sebelum ini
dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan
dan dilupakan." (QS Maryam [19]: 23)

Lalu:
"Maka dia (Jibril) berseru dari tempat yang rendah,
'jangan lah engkau bersedih hati, sesungguhnya Rabb-mu
telah jadikan anak sungai di bawahmu.

Dan goyangkan lah pangkal pokok kurma itu ke arahmu,
niscaya pohon itu akan gugurkan buah kurma masak
ke arahmu.' "
(QS Maryam [19]: 24 - 25)


-- Rumi: Matsnavi V: 1188 - 1191
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski.
Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.

Manusia dan Jati Diri

Sabtu, 21 Desember 2013

Buku; Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib ra

Judul : Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib ra
Penulis : H.M.H. Al Hamid Al Husaini
Penerbit : MCB (Muslim Cyber Book)

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib ra adalah sebuah buku yang mengulas dan menceritakan sejarah hidup Ali bin Abi Thalib, salah seorang sahabat utama, sepupu, sekaligus menantu Nabi Muhammad Saw.

Buku ini sekaligus bisa dijadikan sebagai sebuah upaya agar umat Islam lebih mengenal sosok Ali bin Abi Thalib kemudian meneladani sikap dan tindakannya dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan, melawan segala bentuk kebatilan dan kedzaliman.


Ali bin Abi Thalib muda adalah gambaran sosok pemuda cerdas, berani dan memiliki dedikasi tinggi dalam perjuangan membela kebenaran dan keadilan.

Bagi Ali bin Abi Thalib, perjuangan membela kebenaran dan keadilan harus dilaksanakan dalam setiap waktu, setiap kesempatan, setiap saat, bahkan menyeru kepada kebaikan, kebenaran, dan keadilan saja sudah termasuk dalam salah satu bentuk perjuangan untuk membela kebenaran dan keadilan serta menentang kebatilan dan kedzaliman (amar ma'ruf nahy munkar).

Dan sepanjang sejarah hidup beliau, beliau adalah orang yang selalu memperjuangkan dan menegakkan amar ma'ruf nahy munkar.


Download Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib ra disini



Syahadatku Kesaksianku




Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad Rasulullah.

Akulah aku. Tiada aku selain aku. Aku bukan engkau, dia, kalian, atau mereka. Aku tunggal. Dan aku mengalami akuku sendiri.

Aku bukan utara, timur, selatan, barat. Aku bukan arah bagi diriku. Aku tepat berada pada diriku sendiri. Akulah penentu segala penjuru.

Aku sendiri. Aku tidak berdua, tidak mendua. Tidak ada yang seumur hidup bersamaku sejak lahir hingga mati selain aku sendiri.

DariNya, aku berangkat jasmani ruhani. Sepenuhnya, seluruhnya, seutuhnya. KepadaNya, aku pun akan berpulang jasad seisinya. Isi sejagadnya.

Segala yang dariku, pada diriku, dalam diriku, bersamaku, meliputiku, dan milikku, adalah aku. Jiwa ragaku sah mengaku sebagai aku. Mata, telinga, lidah, tangan, dan kakiku adalah aku. Tiada bulu, kulit, tulang, sumsum, urat, darah, dan dagingku, selain aku.

Akulah jagad besar. Tiada yang memimpin selain yang lebih agung dari yang dipimpin. Aku khalifah fil ardli dan rahmatan lil 'alamin.

Siapa yang memandangku, ia menerima aku dalam dirinya. Sekejap kau melihatku, seketika itu pula citraku hidup dalam anak matamu. Tidaklah mata melihat kecuali ia serupa cermin yang memantulkan cahaya. Segala yang dilihat oleh mata, tampak dalam cermin itu.

Aku bersaksi. Aku menyaksikan dan aku menyampaikan kesaksianku kepada Tuhanku -- yg disebabkan oleh perintah Tuhanku. Tidaklah aku menyaksikan selain melihat dengan penglihatanku, mendengar dengan pendengaranku, dan merasakan dengan hatiku.

Aku bersaksi. Aku tidak mengambil kesaksian dari selain kesaksianku sendiri. Saksi bersaksi atas kesaksiannya sendiri. Aku bersaksi. Aku bukan saksi palsu. Aku saksi di bawah sumpah. Tuhanku membenci mereka yang menyampaikan apa yang tidak mereka lakukan.

Aku bersaksi. Pada mulanya, aku telah menyaksikan. Pada saatnya, aku sedang menyaksikan. Pada akhirnya, aku tetap menyaksikan.

Aku bersaksi. Pada mulanya, aku telah menyaksikan. Tuhanku telah mengambil dariku kesaksianku, waktu itu di alam Alastu. Aku bersaksi, sebagaimana QS. Al-A'raf:172, “Alastu birabbikum, qaaluu balaa syahidna. Bukankah Aku ini Tuhanmu? Benar, kami menjadi saksi.”

Aku bersaksi. Akuku, akumu, akunya, aku-kalian, aku-mereka, aku-kami, aku-kita, sungguh sesungguh-sungguhnya sungguh, telah bersaksi.

Aku bersaksi. Pada mulanya, aku telah menyaksikan. Kemudian ditetapkan bagiku hidupku, matiku, rejekiku, jodohku, sebagai penanda.

Aku bersaksi. Pada mulanya, aku telah menyaksikan dan aku bukan golongan orang-orang yang lupa dan lalai, bukan pula yang sibuk berpaling. Allah berfirman di QS. Al-Baqarah:115, “...Ke mana pun kamu menghadap, di situlah Wajah Allah.”

Aku bersaksi. Pada saatnya, aku sedang menyaksikan. "Inni wajjahtu wajhiya," disebutkan di QS. Al-An'am:79, “Sesungguhnya aku menghadapkan diri pada Tuhan.”

Aku bersaksi. Tiada yang lebih baik dari bersaksi. Sebaik-baik kesaksian adalah bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah.

Aku bersaksi. Tiada kebaikan selain itu. “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu adalah suatu kebaikan...”, sebagaimana termaktub di QS. Al-Baqarah:177.

Aku bersaksi. Tiada kebaikan selain itu. Dan, sebaik-baik kesaksian adalah kesaksian yang telah disempurnakan dengan keimanan. Aku tak menuntut kesaksian dari selain diriku sendiri. “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kau.” Tertulis dalam QS. Al-Ankabut:52.

Aku bersaksi. Yang kusaksikan adalah yang kusaksikan, bukan yang kau saksikan. Jika kau menyembah Tuhan selain Allah, itu di luar kuasaku. Sebab, sebagaimana QS. Al-isra:42, “Jika ada tuhan-tuhan lain di sisiNya, niscaya tuhan-tuhan itu pun mencari jalan menuju Tuhannya.”

Aku bersaksi. Sebagaimana Muhammad bersyahadat. Pun Abu Bakr As-Sidiq, Umar ibn al-Khattab, Utsman ibn Affan, Ali ibn Thalib. Bukan sekedar manis di lidah namun dusta adanya. Syahadatku kesaksian jiwa dan raga. Bukan semacam bual belaka.