Senin, 03 Maret 2014

WajhaHu




Adapun bagi Rabi’ah al-Adawiyah, kebahagiaan tertinggi adalah terletak pada kasyf (terbuka hijab untuk bisa melihat Alloh), yang terungkap dalam syairnya tentang cintanya, yaitu :

“Cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu,
Mengungkapkan tabir hingga Engkau kulihat”

Dengan demikian, tujuan cinta Rabi’ah adalah pencarian Kasyf (dapat melihat Alloh) itu sendiri, sehingga tak tampak sedikitpun selain-Nya. Seperti yang di Firman Alloh dalam surat Al-Baqarah ayat 113:

“….dimanapun engkau memandang disitulah Wajah Alloh.”

Al-Qur’an telah menggambarkan kepada kita betapa Maha dasyatnya memandang wajah Alloh swt, surga dan seluruh isinya tidak akan bisa mengalahkan kebahagiaan memandang wajah-Nya, bahkan digambarkan kebahagiaan tertinggi penduduk surga adalah memandang wajah-Nya.

Masihkah kita berusaha berebut kapling di surga kalau sudah tahu bahwa kebahagiaan itu bukan disana? Kebahagiaan itu adalah disaat kita bersama-Nya, menikmati perjamuan-Nya, memandang wajah-Nya, dari sanalah timbul rasa cinta yang menggelora, cinta yang menggetarkan seluruh jiwa dan raga, cinta yang tidak mampu ditulis walau seluruh air laut jadi tinta dan ranting kayu jadi pena. Cinta yang membuat Saidina Ali tidak merasakan pedih kakinya saat panah dicabut, cinta yang membuat Rabi’ah tidak merasakan pedih matanya tertusuk duri.

Inilah jalan Mari'fat, jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang benar-benar bisa merasakan kehadiran-Nya, merasakan getaran cinta-Nya setiap saat, inilah tujuan hidup hakiki…. Yaitu Berjumpa dengan SANG KEKASIH.

Alam dan seluruh isinya adalah wujud dari cahaya Tuhan, karya Agung yang tidak terlepas dari diri-Nya sendiri. Itulah sebabnya sebagian orang menemukan Tuhan dari kehebatan dan keagungan Alam yang mengangumkan manusia, menyadarkan manusia betapa Maha Hebat nya sosok di atas sana yang menciptakan alam sedemikian teratur.

Sebagian manusia lain menemukan Tuhan lewat filsafat dan perenungan diri. Kehebatan akal manusia akan menuntun kepada Sang Maha Hebat yaitu sosok yang menciptakan akal itu sendiri secara luar biasa. Descartes seorang Filosof berkata, “Aku berfikir karena itu aku ada”, dengan pernyataannya yang terkenal itu Descartes telah membuat sebuah prinsip yang menjadikan kesadaran berfikir sebagai parameter bagi segala sesuatu untuk dianggap sebagai ‘ada’. Keberadaan kita didunia ini disadarkan oleh akal, tanpa akal maka manusia tidak akan mengenal apa-apa, tidak akan mengenal Alam, Agama dan Tuhan.

Dalam Al-Qur’an disebutkan, “…dimanapun engkau memandang disitu Wajah Alloh”. Lalu bagaimana manusia bisa memandang wajah Alloh di alam kalau belum pernah mengenal dan melihat-Nya dalam Kegaiban-Nya? Disinilah diperlukan seorang pembimbing sebagaimana Rasulullah SAW di bimbing oleh Jibril as dan Ibnu ‘Arabi dibimbing oleh Gurunya sehingga setelah mengenal Alloh dengan benar maka dimanapun mereka memandang akan bisa menemukan wajah Tuhan disana.

Pencarian Tuhan lewat akal pikiran dan perenungan hanya bisa membawa kita kepada keyakinan bahwa Tuhan itu memang ada di dunia ini, namun untuk bisa sampai kehadirat-Nya diperlukan seorang Master, Pembimbing yang sudah berulang kali bolak balik kesana sehingga jalan yang kita tempuh bukan jalan keliru yang membawa kita kepada kesesatan.

Tidak mungkin manusia  yang tercipta bisa sampai kepada Sang Pencipta, tidak mungkin manusia yang baharu sampai kepada Alloh yang Maha Qadim, kecuali lewat bimbingan para Nabi dan Para Wali yang diberi ilmu oleh Alloh unuk membimbing manusia kejalan-Nya. Tujuan Tuhan menurunkan agama tidak lain agar manusia bisa mengenal dan berkomunikasi sempurna dengan Alloh, sehingga manusia mengetahui dengan pasti apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan kepada dirinya.

Satu hal yang harus di pahami bahwa ibadah, shalat dan lain-lain bukanlah sarana untuk mengenal Alloh, ibadah adalah sarana untuk menyembah-Nya, tentu saja untuk bisa menyembah terlebih dahulu kita harus mengenal yang kita sembah agar penyembahan kita tidak keliru.

Kalau sampai hari ini di dalam ibadah kita tidak menemukan getaran Ilahi, tidak berefek apa-apa pada jasmani dan rohani kita berarti adalah yang salah dalam ibadah yang kita lakukan. Agama pada hakikatnya adalah ilmu eksak, ilmu pasti bukan ilmu menduga atau mencoba-coba. Kalau Rasulullah SAW, Para sahabat bisa akrab dengan Tuhan memakai suatu ilmu tentu saja ketika kita memakai ilmu dan rumus yang sama maka hasilnya akan sama, itu PASTI.

Ketika belum sampai kepada tahap PASTI, berarti kita baru belajar agama secara zahir yang bisa dipelajari oleh siapapun karena pelajaran agama zahir merupakan pelajaran akal pikiran yang akan hilang ketika manusia meninggal dunia. Manusia harus meng-upgradeilmu agamanya sehingga bukan hanya jasmaninya yang beragama tapi juga rohani karena nanti yang kembali kepada Alloh bukanlah jasmani tapi rohani.

Ketika manusia belum mengenal Alloh, dalam ibadah formal yang sangat tenang sekalipun dia tidak akan bisa mendapatkan apa-apa selain kekosongan dan kehampaan serta menduga-duga bahwa dia sedang berhadapan dengan Alloh.

Ketika ilmu agamanya telah di upgrade dibawah bimbingan Guru Yang Ahli, dan ketika kita telah mengenal Tuhan dengan sebenar kenal tanpa keraguan sedikitpun, maka dimanapun kita bisa menjumpai-Nya, tidak hanya ketika melakukan ibadah formal saja, ketika menghadapkan pandangan ke arah langit dengan penuh takjub pun akan ada wajah-Nya disana….



Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!"
(Qs. Al-An‘am [6]: 31)


Bagaimana Melihat Alloh?





Seorang laki-laki bernama Dzi'lib Al-Yamani bertanya kepada Imam Ali bin Abi Thalib k.w :
“Dapatkah Anda melihat Tuhanmu, wahai Amirul Mukminin?”

Jawab Imam Ali bin Abi Thalib r.a, “Akankah aku menyembah sesuatu yang tidak kulihat?!”

“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanya orang itu lagi, maka Imam Ali memberi penjelasannya;

“Dia (Alloh) takkan tercapai oleh penglihatan mata, tetapi oleh mata-hati yang penuh dengan keimanan. Alloh dekat dari segalanya tanpa sentuhan. Jauh tanpa jarak. Berbicara tanpa harus berfikir sebelumnya. Berkehendak tanpa perlu berencana. Berbuat tanpa memerlukan tangan. Lembut tapi tidak tersembunyi. Besar tapi tidak teraih. Melihat tapi tidak bersifat inderawi. Maha penyayang tapi tidak bersifat lunak. Wajah-wajah merunduk di hadapan keagungan-Nya. Jiwa-jiwa bergetar karena ketakutan terhadap-Nya.”

--Dikutip dari buku : Mutiara Nahjul Balghah, Muhammad Al-Baqir, Mizan, tahun 1991, hlmn 25.


Kata melihat disebut dengan berbagai versi dalam bahasa Arab, dan Al-Qur’an. Melihat berarti dengan mata kita. Sedangkan mata kita ada tiga. Mata kepala, mata analisa fikiran, mata hati.

Dalam konteks hubungan dengan “Melihat Alloh” dan “Seakan-akan melihat Alloh”, maka ada sejumlah ayat, misalnya ketika Nabi Musa as, berhasrat ingin melihat Alloh.

“Musa as berkata: Ya Tuhan, tampakkan diriMu padaKu, aku ingin memandangMu.” Alloh menjawab, “Kamu tidak bisa melihatKu.”
(QS. Al-A’raf 143).

Ayat lain menyebutkan:
“Sesungguhnya Akulah Tuhanmu, maka lepaskanlah sandalmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci.”
(QS. Thaha 12)
Dan dia berkata, “Sesungguhnya aku akan menyaksikan Alloh, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya Aku bebas dari kemusyrikan kamu padaKu, melalui selain Dia.”
(QS.  )

Ayat lain menyebutkan,
“Kemana pun engkau menghadap, disanalah Wajah Allah.”
(QS. Al-Baqarah 115)
“Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepatuhan.”
(QS. Al-An’aam 79)

Nabi Musa as, gagal ketika hasratnya menggebu ingin melihat Allah, lalu Allah menjawab, “Kamu tidak bisa melihatKu.”. Dengan kata lain “Kamumu” atau “Akumu” tidak bisa melihatKu. Karena itu Abu Bakr ash-Shiddiq ra berkata, “Aku melihat Tuhanku dengan Mata Tuhanku.” yang berarti bahwa hanya dengan Mata Ilahi saja kita bisa MelihatNya.

Dimaksud dengan “Mata Ilahi” adalah Mata Hati kita yang diberi hidayah dan ‘inayah oleh Allah SWT untuk terbuka, dan senantiasa di sana hanya Wajah Allah yang tampak, sebagaimana dalam Al-Qur’an. Ibnu Athaillah menggambarkan secara bijak:
“Alam semesta ini gelap, dan sebenarnya menjadi terang karena dicahayai Allah di dalamnya. Karena itu siapa yang melihat semesta, namun tidak menyaksikan Allah di dalamnya, atau di sisinya, atau sebelum dan sesudahnya, benar-benar ia telah dikaburkan dari wujud Cahaya, dan tertutup dari matahari ma’rifat oleh mendung-mendung duniawi semesta.”

Karena itu soal “Menyaksikan Allah” hubungannya erat dengan tersingkapnya tirai hijab, yang menghalangi diri hamba dengan Allah, walaupun Allah sesungguhnya tidak bisa dihijabi oleh apa pun. Karena jika ada hijab yang bisa menutupi Allah, berarti hijab itu lebih besar dan lebih hebat dibanding Allah.
Syekh Ibnu Atho’illah mengatakan,
“Zat Yang Haq tidak terhijab (terhalang). Yang terhijab adalah kamu sendiri dalam melihat terhadapNya. Seandainya ada yang membatasi pandangan terhadap Allah, berarti sesuatu itu menutupiNya. Jika ada sesuatu yang menutupiNya berarti wujudNya terkurung. Setiap yang mengurung sesuatu, maka pengurung itu menguasainya. Sedangkan Allah adalah Zat Yang Menguasai seluruh hambanya.”

Oleh sebab itu, dalam menggambarkan Musyahadah (penyaksian Ilahi) ini, Rasulullah menggunakan kata, “Seakan-akan”, karena mata kepala kita dan mata nafsu kita, keakuan kita pasti tak mampu. Kata-kata “Seakan-akan” lebih dekat sebagai bentuk kata untuk sebuah kesadaran jiwa dan kedekatan hati. Tetapi ketika Rasulullah bersabda, “Jika kamu tidak melihatNya, kamu harus yakin bahwa Dia melihatmu.”  Rasul SAW tidak menyabdakan, “Seakan-akan melihatmu.”.

Hal ini menunjukkan bahwa sebuah kedekatan atau taqarrub sampai-sampai seakan-akan melihatNya, adalah akibat dari kesadaran kuat bahwa “Dialah yang melihat kita.” Kesadaran jiwa bahwa Allah SWT melihat kita terus menerus, menimbulkan pantulan pada diri kita, yang membukakan matahati kita dan sirr kita untuk memandangNya.

Kesadaran Memandang Allah, kemudian mengekspresikan sebuah pengalaman demi pengalaman yang berbeda-beda antar para Sufi, sesuai dengan tingkat haliyah ruhaniyah (kondisi ruhani) masing-masing. Ada yang menyadari dalam pandangan tingkat Asma Allah, ada pula sampai ke Sifat Allah, bahkan ada yang sampai ke Dzat Allah. Lalu kemudian turun kembali melihat Sifat-sifatNya, kemudian Asma’-asmaNya, lalu melihat semesta makhlukNya.

Lalu kita perlu mengoreksi diri sendiri lewat perkataan Abu Yazid al-Bisthamy, “Apa pun yang engkau bayangkan tentang Allah, Dia bertempat, berwarna, berpenjuru, bertempat, bergerak, diam, itu semua pasti bukan Allah SWT. Karena sifat-sifat tersebut adalah sifat makhluk.”

Kontemplasi demi kontemplasi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid yang Kamil Mukammil hanya akan menggapai kebuntuan jalan dalam praktek Muroqobah, Musyahadah maupun Ma’rifah.

Bagi mereka yang dicahayai oleh Allah maka digambarkan oleh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam:
“Telah terpancar cahayanya dan jelaslah kegembiraanya, lalu ia pejamkan matanya dari dunia dan berpaling darinya, sama sekali dunia bukan tempat tinggal dan bukan tempat ketentraman. Namun ia jiwanya bangkit di dalam dunia itu, semata menuju Allah Ta’ala, berjalan di dalamnya sembari memohon pertolongan dari Allah untuk datang kepada Allah.
Hamparan tekadnya tak pernah terhenti, dan selamanya berjalan, sampai lunglai di hadapan Hadratul Quds dan hamparan kemeseraan denganNya, sebagai tempat Mufatahah, Muwajahah, Mujalasah, Muhadatsah, Musyahadah, dan Muthala’ah.”

Ibnu Athaillah menyebutkan enam hal dalam soal hubungan hamba dengan Allah di hadapan Allah, yang harus dimaknai dengan rasa terdalam, untuk memahami dan membedakan satu dengan yang lain. Bukan dengan fikiran:

Mufatahah: artinya, permulaan hamba menghadapNya di hamparan remuk redam dirinya dan munajat, lalu Allah membukakan tirai hakikat Asma, Sifat dan keagungan DzatNya, agar hamba luruh di sana dan lupa dari segala yang ada bersamaNya.

Muwajahah, artinya saling berhadapan, adalah sikap menghadapnya hamba pada Tuhannya tanpa sedikit dan sejenak pun berpaling dariNya, tanpa alpa dari mengingatNya. Allah menemui dengan CahayaNya dan hamba menghadapnya dengan Sirrnya, hingga sama sekali tidak ada peluang untuk melihat selainNya, dan tidak menyaksikan kecuali hanya Dia.

Mujalasah, artinya menetap dalam majlisNya dengan tetap teguh terus berdzikir tanpa alpa, patuh tunduk tanpa lalai, beradab penuh tanpa tergoda, dan hamba memuliakanNya seperti penghormatan cinta dan kemesraan agung, lalu disanalah Allah swt berfirman dalam hadits Qudsi, “Akulah berada dalam majlis yang berdzikir padaKu.”

Muhadatsah, maknanya dialog, yaitu menempatkan sirr (rahasia batin) dengan mengingatNya dan menghadapNya dengan hal-hal yang ditampakkan Allah pada sirr itu, hingga cahayaNya meluas dan rahasia-rahasiaNya bertumpuan. Inilah yang disabdakan Nabi saw, “Pada ummat-ummat terdahulu ada kalangan disebut sebagai kalangan yang berdialog dengan Allah, dan pada ummatku pun ada, maka Umar diantaranya.”

Musyahadah, adalah ketersingkapan nyata, yang tidak lagi butuh bukti dan penjelasan, tak ada imajinasi maupun keraguan. Dikatakan, “Syuhud itu dari penyaksian yang disaksikan dan tersingkapnya Wujud.”

Muthala’ah, adalah keselarasan dengan Tauhid dalam setiap kepatuhan, ketaatan dan batin, semuanya kembali pada hakikat tanpa adanya kontemplasi atau analisa, dan setiap yang tampak senantiasa muncul rahasiaNya karena keparipurnaanNya. Wallahu A’lam.

Maka Hadrat Ilahi, telah menjadi kehidupan hatinya, dimana mereka tenteram dan tinggal. Renungkan semua ini dengan hati yang suci.

Ya Allah, jika Engkau menyiksaku dengan suatu siksaan, maka janganlah Engkau menyiksaku dengan hijab yang menghalangiku menatap wajah-Mu.





Mencari dan Mengenal Allah



Pepatah mengatakan : Tak jumpa maka tak kenal, tak kenal maka tak cinta. Cinta kepada Allah semata.  Cinta kasih adalah rahasia Allah. Kata Rosulullah, Dia menciptakan Adam ( manusia ) dalam bayangan rahman.

Bagaimana caranya kita mengenal Dzat Allah? Dimana? Kemana kita harus mencari Dzat Allah? Apakah harus ke Mekkah ataukah ke negeri Cina? Apakah demikian jauhnya Dzat Allah itu berada?  Apakah kita tidak tersesat ???

Hamzah Fansuri berkata,
“Aku berada di Mekkah, mencari Tuhan di Baitul Ka’bah, dari Barus ke Kudus terlalu payah, akhirnya dijumpai di dalam rumah.”

Rumah yang mana???

Jalaluddin Rumi berkata,
“Aku menatap hatiku sendiri, disana kulihat Dia… Dia tidak berada di tempat lain.”

Rosulullah bersabda,
“Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh.”

Yang menjadi pertanyaan adalah :

Apa yang dilakukan Rosulullah di Gua Hiro, sehingga beliau bisa menerima wahyu Allah? Kenapa tidak di Masjidil Harom? Kenapa rosulullah menetap di Madinah, tidak kembali ke wilayah Mekah? Apakah karena Mekah sebagai wilayah musuh bebuyutan nabi Muhammad SAW? Kenapa disebut masjidil Haram?

Apakah mungkin Nabi Muhammad SAW secara tersamar memperingatkan umatnya agar tidak terkecoh karena terpesona oleh situs Ibrahim di Masjidil Haram?

Apakah ada kaitannya dengan Surat At-Taubah, 9: 107-108?
“Dan ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana, untuk kekafiran dan untuk memecah belah diantara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rosulnya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah : “Kami hanya menghendaki kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta.
Jangan engkau melaksanakan sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan sholat di dalamnya…di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang  yang bersih.”

Rosulullah juga berkata : Tuntutlah ilmu sampai ke negri Cina! Kenapa Rosulullah menganjurkan belajar ke negri Cina tidak menganjurkan belajar ke Mekah. Ada pelajaran apa di Cina?

Timur dan Barat adalah milik Allah, kemanapun kau menghadap disanalah Wajah Allah ( AL BAQARAH 2 : 115 )

Ego kita senantiasa menghadap ke Barat dan melupakan Wajah Timur, sehingga hati kita buta, tidak pernah melihat Cahaya yang terbit di Timur.  Ataukah karena Rosulullah sangat arif sehingga bisa memprediksi bahwa sepeninggal beliau akan muncul kembali kemusrikan-kemusrikan di Mekah?  Menurut Rosulullah, sepeninggal beliau, kelak umat Islam-pun akan terpecah-belah.   Ternyata benar setelah beliau dan para sahabat wafat, muncul ilmu fiqih, ilmu usuluddin, ilmu kalam, kemudian umat Islampun terpecah dalam mazhab-mazhab. Moral jahiliyahpun muncul kembali terutama pada masa Bani Umayah, kemudian diperparah oleh Bani Abas.  Masjidil Haram pun dijadikan komoditas bisnis sumber devisa, bahkan dipolitisir…  Sehingga ibadah haji ke situs Ibrahim seolah-olah hukumnya menjadi wajib.  Apakah kita ini umat Ibrahim ataukah umat Muhammad?  Awas hati-hati, jangan sampai tersesat.  Rosulullah telah memperingatkan : Barang siapa mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh. Yang harus kita raihpun bukan haji mabur pakai pesawat namun haji mabrur melalui hati yang bersih, tulus dan ikhlas untuk mendapatkan keridoan Allah… Dari Allah kembali kepada Allah Sang Pencipta … Tidak mengharap kembali ke mahluk ciptaannya yang disebut surga …
Bagi umat Islam sebagai bahan rujukan untuk mencari dan mengenal Allah adalah firman-firman Allah di dalam Al Qur’an dan Sunah Rosulullah.

Berdasarkan Firman-firman Allah :
  1. Bila hamba-hamba-KU bertanya tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat ( AL BAQARAH 2 : 186 )
  2. Lebih dekat Aku dari pada urat leher ( AL QAF 50 : 16 )
  3. Kami akan perlihatkan kepada mereka, tanda-tanda kami disegenap penjuru dan pada diri mereka ( FUSHSHILAT 41 : 53 )
  4. Dzat Allah meliputi segala sesuatu ( FUSHSHILAT 41 : 54 )
  5. Dia bersamamu dimanapun kamu berada ( AL HADID 57 : 4 )
  6. Kami telah mengutus seorang utusan dalam diri-mu ( AT TAUBAH 9 : 128 )
  7. Di dalam dirimu apakah engkau tidak memperhatikan ( AZZARIYAT 52 : 21 )
  8. Tuhan menempatkan diri antara manusia dengan kolbunya (AL ANFAL 8:24)
  9. Aku ciptakan manusia dengan cara yang sempurna ( AT-TIN 95 : 4 )

Manusia diciptakan dengan cara yang sempurna.  Berarti bahan dasarnya juga harus sempurna yaitu Dzat Yang Maha Sempurna.  Setelah Aku sempurnakan kejadiannya Aku tiupkan Ruh-KU kedalamnya ( AL HIJR 15 : 29 ).  Berarti Dzat Allah berada di dalam diri setiap manusia, baik mata belo maupun mata sipit, hidung mancung maupun pesek, kulit hitam, putih, coklat maupun kuning.

Dzat Allah bisa berada di dalam semua mahluk ciptaanNYA, misalnya di dalam bunga yang berwarna-warni.  Dzat Ilahiah menjadi tersembunyi didalam semua mahluk ciptaanNya, seperti halnya biji gandum, setelah menjadi roti, biji gandumnya tidak nampak namun dzat gandumnya tetap ada, tersembunyi di dalam roti.  Disisi lain Dzat Allah meliputi segala sesuatu, berarti alam semesta termasuk planet bumi ini berada di dalam “Jubah” Allah.  Kita semua tenggelam atau baqa dalam Tuhan. Bila Jubah Allah itu bulat seperti bola maka kita semua seperti berada di dalam bola yang kemanapun kita menghadap baik kekiri, ke kanan, ke atas maupun kebawah disanalah Wajah Allah.  DIA ada dimana-mana namun dalam ke-Esa-an-NYA, DIA tidak kemana-mana.

Hadits Qudsi dan Hadits Rasulullah :
  1. Di dalam setiap rongga anak Adam, Aku ciptakaan suatu mahligai yang disebut dada, dalam dada ada kolbu, dalam kolbu ada fuad, dalam fuad ada syagofa, dalam sygofa ada sir, di dalam sir ada Aku, tempat Aku menyimpan rahasia ( Hadits Qudsi )
  2. Man arofa nafsahu faqod arofa robahu : Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhan-nya
  3. Man arofa robbahu faqod jahilan nafsahu : Barang siapa mengenal Tuhan-nya maka dia merasa bodoh.
  4. Man tolabal maolana bi goeri nafsi faqoddola dolalan baida : Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh
  5. Iqro kitab baqo kafa binafsika al yaoma alaika hasbi : Bacalah kitab yang kekal yang berada di dalam diri kalian sendiri
  6. Allahu bathinul insan, al insanu dhohirullah : Allah itu bathinnya manusia, manusia adalah realitas Allah
  7. Al insanu siri wa ana siruhu : Rahasia kalian adalah rahasia-Ku
  8. Laa yarifallaahu ghoirullah : Yang mengenal Allah hanya Allah
  9. Aroftu Robbi bi Robbi : Aku mengenal Tuhan melalui Tuhan
  10. Maa arofnaka haqqo ma’rifataka : Aku tidak mengenal Engkau, kecuali sampai sebatas pengetahuan yang Engkau perintahkan

Apakah kita bisa bertatap muka secara langsung dengan Allah? Mari kita lihat Surat Al Baqarah ayat 1 : Alif Lam Mim. Mengapa tidak dibaca Alam atau Alim??? Hanya Allah yang mengetahui artinya. Yang mengetahui Allah hanya Allah.  Huruf Alif adalah milik Allah, Lam untuk utusan Allah dan Mim untuk Muhammad sebagai insan, manusia … Antara Alif dan Mim ada Lam, antara Allah dan manusia ada apa…???  Ada Sir... Kesadaran yang paling dalam …

Sir dalam hal ini bisa berperan sebagai utusan, sebagai pembawa berita, sebagai naluri, sebagai angan-angan atau imajinasi, sebagai generator dan bisa juga sebagai mikro prosesor penerima atau pengolah data.

Tidak ada seorang-pun yang dapat bercakap-cakap dengan Allah, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan utusan-Nya dengan seizin-Nya ( ASY-SYUARA 42 : 51 )

Mulai hari ini Aku buka tabir yang menutupi matamu, maka pandangan matamu akan menjadi tajam ( AL QAAF 50 : 22 )

Tuhan menempatkan diri antara manusia dengan kolbunya ( AL ANFAL 8 : 24 )

Qolbu merupakan titik terendah dari sumbu komunikasi vertikal kepada Allah. Tabir akan menjadi transparan dan akan menjadi kabel penghubung untuk berkomunikasi dengan Allah, manakala kita tidak ragu-ragu akan kebenaran Al Qur’an dan yakin akan ke ghoiban Allah dimana qolbu merupakan pintu masuk ke alam ghoib.  Komunikasi dengan Allah hanya bisa melalui dzikir qolbu.

Inilah kitab yang tiada diragukan, suatu petunjuk bagi mereka yang takwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghoib ( AL BAQARAH 2 : 2-3 )

Dialah Jibril yang menurunkan Al Qur’an ke dalam hatimu  (AL BAQARAH 2 : 97).

Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya ( AT TAGABUN 64 : 11 )

Dan sebutlah ( nama ) Tuhan-mu dalam hatimu … ( AL A’RAF 7 : 205 )

Oleh karena itu seorang akan betul-betul yakin kepada kebenaran Al Qur’an dan hakikat Dzat, setelah yang bersangkutan mengalami hal-hal yang bersifat ghoib. Pengalaman ghoib itulah yang sangat didambakan oleh para pencari Tuhan. Pengalaman ghoib itulah yang disebut ilmu ilhamiah atau ilmu laduni yang lebih dipercayai oleh mereka para sufi dari pada ilmu akal.

Barang siapa yang hatinya dibuka oleh Allah kepada Islam ( Fitrah ) maka dia itu mendapat Cahaya dari Tuhan-nya ( AZ-ZUMAR 39 : 22 )

Menurut Al Ghazali Dzat Allah itu sangat terang benderang, sehingga hanya bisa ditangkap oleh mata hati.

Cahaya di atas cahaya ( AN NUR 24 : 35 )
Dia ( Allah ) tidak tercapai oleh penglihatan mata ( AL AN’AM 6 : 103 )

Yang pertama-tama Aku berikan kepada mereka ( yang beriman ) adalah Nur-Ku yang Aku taruh di hati mereka ( HADITS QUDSI )

Ketika Musa berdo’a ingin melihat Tuhan, maka Tuhan berfirman :
Engkau (  Musa ) tidak akan sanggup melihat Aku.  Maka manakala Tuhan-nya memperlihatkan diri-Nya di atas bukit, bukit itu hancur dan Musa jatuh tidak sadarkan diri (AL A’RAF 7 : 143).

Maka dengan demikian adalah sangat terlarang untuk menyingkap tabir rahasia Allah, kita tidak boleh melewati batas-batas yang telah ditetapkan Allah.
Rosulullah pun bersabda :

Allah mempunyai tujuh puluh hijab Cahaya dan kegelapan , seandainya Dia menyibakkan hijab-hijab itu, maka keagungan wajah-Nya akan membakar segala yang dilihat oleh mahluk-Nya  ( HADITS ROSULULLAH ).

Berpikirlah kamu tentang makhluk Allah, jangan berpikir tentang Dzat Penciptanya.   Aku tidak mengenal Allah, kecuali sampai sebatas pengetahuan yang telah Allah berikan kepadaku. ( Hadits Rosulullah ).

Bila kita berusaha mencoba menyingkap tabir tersebut, maka kita akan hancur lebur seperti halnya dalam riwayat Nabi Musa yang ingin melihat Allah, dimana gunung sekalipun akan hancur.  Mengenal Tuhan harus melalui Tuhan.  Dia yang mengenali dan Dia yang dikenali adalah sama. Jasmani Musa dengan ke-aku-annya tidak mungkin bisa berhadapan dengan Tuhan, karena tidak ada sesuatu wujud yang lain disamping Allah.  Kekasaran jasmani dan ke-aku-an merupakan tabir yang pekat.
Sesungguhnya Allah telah memberikan peringatan kepada kita semua :
Dia memperingatkan kamu terhadap dirinya ( ALI IMRAN 3 : 30 )
Segala sesuatu akan musnah kecuali Wajah-Nya ( AL QASHASH 28 : 88 )

Bila ingin berjumpa dengan Tuhan, hancur luluhkan dirimu sendiri, ke-akuan-mu, egomu, tutup mata dan telingamu, tutup semua ilmu dan teori tentang Dzat, kosongkan hati dan pikiranmu dari segala sesuatu selain Allah semata, maka Ke-Aku-an Tuhan, Ruh Tuhan dalam dirimu akan muncul memperlihatkan Jamal-Nya. AKU dan AKU saling bertemu dan berdialog. Demikianlah apa yang dilakukan Musa selama 40 hari dan 40 malam, sehingga Musa pun bisa menerima wahyu Sepuluh Perintah Tuhan.  Demikian juga Nabi Muhammad SAW, menurut para sesepuh, wahyu pertama turun setelah 40 hari dan 40 malam di Gua Hira.

Sabda Rosulullah : Kita harus bisa mati sebelum mati.