Rabu, 27 November 2013

Gerbang Kota



“Janganlah kamu mengenal dan mengikuti kebenaran karena tokohnya; tetapi kenalilah kebenaran itu sendiri, niscaya kamu mengetahui siapa tokohnya.”
-- Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a.

Apa jadinya jika sebuah rumah tidak berpintu? Tidak satu pun dapat masuk atau keluar dari rumah tersebut. Sedemikian penting kegunaan pintu sehingga tak satu pun rumah yang tak berpintu. Karena perannya yang begitu penting, pintu tidak hanya dipasang, tetapi juga dihiasi dengan berbagai warna dan ukiran yang sangat indah. Pertama kali yang dicari oleh seseorang ketika mendatangi sebuah rumah adalah pintu. Demikian pula, pertama kali yang dituju oleh pemilik rumah untuk menyambut yang hendak masuk adalah pintu. Tak heran bila pintu menjadi sebuah bagian yang terintegrasi secara esensial dalam sebuah rumah, tak terpisahkan, tak tergantikan dan tak terwakili oleh yang lain.

Sama peran dengan pintu, gerbang suatu kota merupakan pintu untuk masuk maupun keluar darinya. Suatu kota yang tidak bergerbang, berarti ia telah mengisolasi diri dari dunia luar, menutup dirinya sehingga tak seorang pun dapat mengetahui kedalamannya, dan menjadikan dirinya sebagai sebuah misteri untuk selamanya. Dengan gerbang, ia akan terbuka untuk dikunjungi, didatangi, dan dikenal serta ditelusuri kedalamannya.

Apa yang disebutkan di atas berlaku dalam dunia material, tatapi hal itu berlaku juga pada dunia imaterial. Dalam dunia imaterial, ada juga yang disebut dengan pintu atau gerbang. Perbedaan antara pintu material dan pintu imaterial bukan pada pemaknaannya bahwa yang pertama hakiki, sedang yang kedua bersifat metaforis. Berdasarkan pada pendapat bahwa setiap kata dibuat dan diletakkan pada “inti makna”, bukan pada “terapan makna”, pemaknaan pintu pada benda material maupun pada wujud imaterial harus sama-sama bersifat hakiki. Pintu dalam dunia imaterial sungguh-sungguh memainkan peran sebagai sebuah pintu yang hakiki. Hakikat pintu adalah jalan untuk masuk maupun keluar dari luar ke dalam dan sebaliknya. Sebagaimana hakikat ini dapat ditemukan pada pintu material, kita juga dapat mendapatkannya pada pintu imaterial, bahkan dengan bentuk yang lebih hakiki dan tak tergantikan sama sekali.

Salah satu dari pintu atau gerbang imaterial adalah Ali bin Abi Thalib as. Beliau merupakan gerbang masuk ke kota ilmu Rasulullah saw. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Ana madinatul ilmi wa Aliyyun babuha” (Aku adalah kota ilmu, sedang Ali as. adalah gerbangnya). Penunjukkan Ali as. sebagai gerbang kota ilmu oleh Rasulullah saw. bukan atas pertimbangan semau “Aku”, melainkan berdasarkan pada pertimbangan pada keniscayaan hakiki-rasional; pada potensi dalam diri Ali as. yang mustahil ditemukan pada diri selainnya. Jika demikian, kedudukan Ali as. sebagai gerbang kota ilmu adalah sesuatu yang pertama, tak tergantikan, dan kedua, tidak bisa diberikan kepada orang lain. Berbeda dengan gerbang hakiki-rasional, gerbang “semau Aku” dapat digantikan dengan orang lain sekehendak “Aku”, dan peran dirinya sebagai gerbang dapat diberikan olehnya kepada orang lain. Penunjukkan Ali as. sebagai gerbang kota ilmu tidak dapat dikatakan sebagai suatu wishful thinking, yaitu pemikiran yang mengungkapkan keinginan, tetapi bukan kebenaran dan keniscayaan rasional. Siapa pun yang memerankan diri seperti Rasulullah saw., ia akan dihadapkan pada satu pilihan yang tidak bisa tidak, yaitu menjadikan Ali as. sebagai gerbang bagi setiap orang yang hendak masuk pada kedalaman intelektual dirinya. Bagaimana Ali as. tidak mendapatkan kehormatan sebagai gerbang intelektualitas Rasulullah as., sementara beliau adalah orang yang paling pantas menjadi nabi setelah Rasulullah saw., seandainya saja kenabian tidak ditutup dengan kenabiannya.

Gerbang kota ilmu yang disematkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib as. bukanlah sesuatu yang sifatnya material, hal ini jelas, karena hal-ihwal keilmuan bukanlah di dunia material, melainkan di dunia imaterial. Namun demikian, hukum yang berlaku pada hakikat gerbang, sebagaimana berlaku pada gerbang material, berlaku juga pada gerbang imaterial. Ali as. adalah gerbang masuk bagi siapa pun yang ingin masuk ke dalam kota ilmu. Tanpa gerbang, kota ilmu tidak akan pernah dapat dimasuki dan ditelusuri kedalaman ilmunya. Tanpa gerbang, siapa pun tidak akan pernah bisa menggali ilmu di kota ilmu. Rasulullah as. tidak pernah bermaksud untuk mengisolasi dirinya dari dunia luar dan umat manusia, justru beliau diutus supaya menarik sebanyak mungkin manusia untuk masuk ke dalam dirinya sebagai kota ilmu. Tetapi, kota tersebut tidak bisa dimasuki melalui pintu palsu di mana tidak dapat menyampaikan pemasuknya ke kota tersebut, tidak juga tanpa pintu. Dalam hal ini, Rasulullah as. mengingatkan kita bahwa pintu masuk ke dalam dirinya adalah Ali bin Abi Thalib as. Tak seorang pun dapat masuk kota ilmu tanpa mengenal Ali as., dan tak seorang pun dapat masuk ke kota ilmu melalui pintu selain pintu Ali as. Selain Ali as. adalah pintu-pintu palsu yang justru akan membawa pemasuknya pada kota kebodohan dan kesesatan..

Dalam firmannya, Allah menegaskan:
“Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah orang yang bertakwa (wa lakinnal birro manit taqo). Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya. Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
(QS Al-Baqarah [2]:189).

Dalam ayat ini, diterangkan bahwa kebajikan bukanlah berusaha masuk ke sebuah rumah dari belakangnya, bukan juga hanya konsep “ketakwaan”. Allah, dalam ayat ini, tidak mengatakan, “wa lakinnal birro huwat taqwa”, yang artinya kebajikan adalah ketakwaan, melainkan Dia berkata, “wa lakinnal birro manit taqo”, yang artinya kebajikan adalah orang yang bertakwa. Jadi, ketakwaan selama berupa konsep, ia tidak memiliki kebajikan apa pun. Yang bajik bukanlah yang mengerti arti ketakwaan, ia adalah yang menghayati ketakwaan dalam dirinya, mengamalkan dalam tindakannya, dan ia yang bertakwa, bukan ia yang mengerti konsep ketakwaan. Sekedar mengerti ketakwaan, seseoarang belum mencapai tindak kebajikan.

Dalam konteks ketakwaan, Allah menyebut bahwa salah satu dari bentuk ketakwaan adalah masuk rumah melalui pintunya. Hal sama juga dapat kita katakan bahwa yang bertakwa adalah orang yang sungguh-sungguh memasuki pintu Ali as. menuju kota ilmu Rasulullah saw. Ia tidak masuk dari belakangnya, karena itu bukan kebajikan dan tidak akan mengantarkannya pada tujuan sama sekali. Hanya dengan memasuki pintu Ali, kebajikan dan ketakwaan dapat diraih. Ini artinya, bahwa kita semua umat Islam harus ber-wilayah kepada Ali bin Abi Thalib dalam pengertian bahwa kita semua harus memasuki pintu Ali, dan tidak hanya manjadikan konsep “Ali as. pintu Rasulullah saw.” hanya sebagai bentuk keutamaan dalam lisan. Keutamaan Ali as. sudah terjamin di sisi Allah, baik kita mengikrarkan dan mengucapkannya maupun tidak. Keutamaan tidak terletak pada seberapa yakin kita mengakui Ali as. sebagai pintu Rasulullah, keutamaan hanya terletak pada sejauh mana kita dapat memasuki pintu Ali. Senada dengan ayat di atas, kita dapat katakan: “Laesal birru huwa dukhulu baabi madinatil ilmi, wa lakinnal birro man dakhola baaba madinatil ilmi” (Kebajikan bukanlah konsep “masuk pintu kota ilmu”; kebajikan adalah orang yang memasukinya). Kebajikan bukanlah seseorang menatap dengan penuh kagum dan bangga pintu Ali as. dengan segala keindahan dan kemewahannya dari luar, kebajikan adalah bila ia masuk ke dalam pintu tersebut. Dengan demikian, kita semua tidak hanya harus berbangga-diri dengan Imam Ali as. sebagai gerbang ilmu, melainkan kita harus berbangga-diri dengan menimba ilmu darinya dan melaksanakannya seperti ia melaksanakannya. Kita tidak boleh mendatangi pintu Ali as. dengan tujuan untuk mencari justifikasi atas keyakinan kita, karena itu bertentangan dengan maksud “Ana madinatul ilmi wa Aliyyun babuha”. Kita harus mendatangi dan masuk ke dalamnya dengan diri yang bersih dan kosong dari segala keyakinan-keyakinan yang kotor, dan dengan maksud mendengarkan kebenaran darinya, bukan dengan maksud mencari pembenaran terhadap keyakinan kita, melainkan dalam rangka menerima curahan kebenaran yang harus kita terima. Kita harus menyesuaikan diri dengan Ali as, bukan sebaliknya. Kebenaran Ali as. tidak dapat dipaksakan untuk sesuai dengan keyakinan kita, tapi kebenaran Ali as. harus menjadi kriteria bagi kebenaran keyakinan kita.

Jadi, meski hadis “Ana madinatul ilmi wa Aliyyun babuha” termasuk hadis-hadis keutamaan, yang sering disebut-sebut oleh para pengikutnya dalam pengajian-pengajian tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib as., atau dalam berdebat dengan para penginkar keutamaan beliau, namun demikian, pesan yang lebih mendalam yang dibawa oleh hadis ini lebih dari sekedar apa yang sementara ini dikira orang. Pesan ini tidak hanya ditujukan pada para pengikut setia beliau, tetapi juga pada semua umat Islam dengan pelbagai aliran dan mazhab. Hadis ini tidak hanya sedang menekankan sebuah konsep bahwa pertama, Ali as. adalah gerbang menuju kedalaman ilmu Rasulullah saw., dan kedua, masuk melalui gerbang itu merupakan syarat mutlak untuk sampai pada kota ilmu. Lebih dari itu, hadis ini ingin mengatakan pesannya kepada kita bahwa yang bajik bukanlah sekedar menyakini dua konsep di atas, melainkan kebajikan adalah orang yang masuk melalui pintu Ali as. untuk sampai pada ilmu Rasulullah saw.

Hubungan antara gerbang dan kota ilmu, dalam hal ini Ali as. dan Rasulullah saw., bersifat hakiki dan pasti. Artinya, kita tidak dapat memutus hubungan ini sekehendak hati kita. Keduanya saling terkait secara erat sehingga mustahil kita mampu mencapai kota ilmu Rasulullah selain melalui Ali as. Selain Ali as., tidak ada satu pun pintu masuk ke kota ilmu. Meski selain Ali as. banyak yang menawarkan pintu masuk ke kota ilmu, semua itu tidak mendapat restu dari Rasulullah dan illegal serta tidak direkomendasikan oleh beliau. Hanya Ali as., titik, tiada lainnya.

Ibarat orang yang panik ketika tidak menemukan pintu masuk ke suatu tempat yang hendak dia tuju, demikian pula, siapa pun yang tidak menemukan atau tidak mau masuk pintu Ali as. akan mengalami kepanikan dan kekalutan intelektual sehingga dia semakin jauh dari kebenaran dan dekat kepada kesesatan. Banyak dari pemikir-pemikir telah dan akan mengalami kekalutan dan kepanikan mental-intelektual karena menjauh dari pintu Ali as. Mu’tazilah, umpamanya, harus terjerumus pada derita mensyekutukan Tuhan dalam kekuasaan-Nya dengan konsep “manusia bebas”-nya, dan Asy’ariah terjatuh pada perangkap determinisme karena tidak mampu menyelesaikan apa yang dikiranya bertentangan, yaitu kekuasaan Tuhan yang mutlak dan kebebasan manusia dalam bertindak. Dan banyak lagi contoh-contoh kepanikan lainnya. Semua itu karena mereka karena bu’duhum aw ibti’aduhum a’n Aliyyin (jauh atau menjauhnya mereka dari Ali bin Abi Thalib as.). Dalam banyak riwayat, Ali telah memberikan penyelesaian secara tuntas atas kemusykilan dan kepanikan Asy’ariah dan Mu’tazilah ini, bahkan sebelum mereka lahir. Anda dapat merujuk riwayat-riwayat tersebut pada tafsir Al-Mizan karya Thaba’thaba’i, kitab “Aqoid al-Imammiyyah” dengan komentar Sayyid Kharrazi, dan kitab-kitab lainnya yang membahas tentang konsep “Al-Amru baena al-amrain” (Perkara di antara dua perkara). Solusi bagi mereka hanya satu, yakni bertakwa dengan memasuki pintu Ali as., bukan sekedar menyakini bahwa Ali as. pintu kota ilmu Rasulullah saw., apalagi menjauhi atau mengingkarinya. Setelah itu, Rasulullah saw. serta Ali as. akan memecahkan problem mereka. Sebagai manusia yang benar-benar telah masuk pintu Ali as., Ali bin Musa Ar-Ridha as. pernah ditanya: “Wahai putra Rasulullah diriwayatkan kepada kami bahwa Imam Ja’far Shodiq berkata, “Tidak ada jabr (keterpaksaan) dan tidak ada tafwidh (penyerahan kekuasaan kepada manusia), tetapi (yang benar) adalah perkara di antara dua perkara”, apakah yang dimaksud dengan riwayat ini? Beliau menjawab, “Barang siapa menganggap bahwa Allah yang menciptakan perbuatan kita, lantas menyiksa kita karena itu, ia telah berpendapat dengan keterpaksaan. Dan barang siapa menganggap bahwa Allah menyerahkan perkara penciptaan dan pemberian rizki kepada hujjah-hujjah-Nya (apalagi kepada manusia biasa), ia telah berpendapat dengan penyerahan. Yang berpendapat dengan keterpaksaan adalah kafir, dan yang berpendapat dengan penyerahan adalah musyrik”. Inilah akibat dari tidak mau ber-wilayah kepada Ali bin Abi Thalib as. Akibat menjauh dari pintu Ali dan memaksa masuk kota ilmu tanpa melalui pintunya adalah terjerumus pada kekafiran atau kemusyrikan. Dengan memasuki pintu Ali as., Imam Ja’far Shodiq as. dan Imam Ali bin Musa bin Ja’far as. telah menjadi dua manusia beruntung, karena, sesuai dengan janji Allah, bahwa yang bertakwa dengan memasuki pintu Ali akan menjadi orang-orang yang beruntung. Allah Berfirman, “Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”.




 



Minggu, 24 November 2013

Lihatlah yang terdalam

 
“Lihatlah yang terdalam. Jangan kau seperti Iblish, hanya melihat air & lumpur ketika memandang Adam. Tapi lihatlah dibalik lumpur, beratus-ratus ribu taman yang indah.”
-- Jalaluddin Rumi

Iblis adalah makluk Alloh yang paling bermakrifat kepada Alloh, dia dulunya sebelum Alloh "murkai" adalah penghulu para malaikat dan Guru makrifat bagi semua malaikat. Tetapi karena dalam dirinya masih ada rasa "sombong", merasa diri paling bermakrifat, maka ketika Alloh menciptakan Adam, dan Iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam, Iblis tidak mau.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.” (7:11)
Alloh berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (7:12)

Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (15:33)

Iblis merasa makluk paling baik dan mulya diantara makluk yang lainya, dengan kesombonganya itu..maka Iblis tidak melihat "manifestasi" Nur Muhammad yang ada dalam diri Adam, yang merupakan wujud "Jamal" Alloh yang tersembunyi "terahasiakan" dalam diri Adam, sedangkan Nur Muhammad itu adalah asal kejadian dari segala sesuatu, termasuk asal kejadian dari sang Iblis, Nur Muhammad adalah realitas dari Diri-Nya.

Jasad manusia bersifat baru, ruh (berasal satu dari Nur Muhammad) sudah ada sejak zaman azali dan ketika di dalam rahim telah ma'rifat kepada Alloh, ketika lahir manusia lupa, makanya dalam perjalanan hidupnya manusia harus bersih agar bisa kembali kepada fitrah yaitu ma'rifatullah, dengan jalan menundukkan hawa nafsunya dan mensucikan jiwanya, dengan ruh (nur) inilah diri sejati manusia dapat ma'rifatullah.

Sifat Iblis yang tidak mengakui realita Adam yang merupakan manifestasi dari Nur Muhammad (Cahaya Utusan Alloh), sehingga dengan demikian Iblis secara terang-terangan menolak adanya Nur Muhammad yang menyelimuti dirinya, dengan demikiaan Iblis tidak ada sifat kepatuhan dan ketaatan kepada Tuhan-Nya, yang ada hanya pengingkaran dan pengingkaran, walau sesungguhnya dia bermakrifat kepada Alloh.

Karena hanya dengan adanya Nur Muhammad yang di utus dalam setiap jiwa mukmin, yang mampu menjalankan segala amal ibadah yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad SAW, bagaimana Rasulullah menjalankan perintah dari Alloh, untuk menegakkan shalat lima waktu, zakat, puasa dan haji.

Dengan Nur Muhammadlah seorang mukmin itu mempunyai kesadaran diri untuk menunaikan rukun Islam, termasuk shalat dan zakat dan ibadah sunah yang lainya yang seperti dicontohkan oleh Rasulullah.

Jika ada yang mengatakan bahwa ketika telah mencapai Ma'rifatullah tidak perlu lagi Sholat, tidak perlu lagi Puasa, Zakat dan bahkan tidak perlu pergi berhajji. Justru pada tataran Ma'rifatullah, Sholat, Puasa, Zakat dan Hajji menjadi ke-UTAMA-an pada dirinya yang tidak bisa dipisahkan.

Dan bila diri-mu "bermakrifat kepada Alloh" akan tetapi tidak melaksanakan ibadah Sholat (seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah), apa lagi menganggap shalat lima waktu tidak perlu - hanya sekedar ingat saja - bathin solat sedangkan jasad tidak - tentunya tidak sempurna (Lihat Shalat syariat & Shalat Tarekat Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani), sungguh makrifat-mu telah kau bawa kedalam "golonganya Iblis", karena yang kau contoh adalah makrifatnya Iblis, bermakrifat tapi tidak kau serahkan jiwa ragamu untuk bersujud dan taat kepada-Nya.

Bila kau mencontoh Rasulullah (didalam Al-Qur'an pun Alloh memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mencontoh Rasulullah, sebab hanya dalam diri Rasulullah ada contoh "kebaikan"). Maka ahklaq, kelakuan dan amal ibadah-mu akan mencontoh Rasulullah. Sungguh tiada seorangpun yang baik dan sempurna makrifatnya kecuali Rasulullah SAW.

Sebaiknya hal ini kita jadikan bahan renungan, mau dibawa ke golongan manakah makrifat kita? Mau dibawa kegolonganya Iblis atau kegolonganya Rasulullah?

Maka, siapapun yang mengaku bertarekat tanpa syariat, maka ia bisa dipastikan tersesat. Syariat adalah informasi yang valid, sedangkan tarekat adalah proses transformasi, dan hakikat-ma ’rifat adalah afirmasi. Jika informasinya salah, atau inputnya keliru, prosesnya juga akan keliru..

“Berhati-hatilah dalam memerankan Iblis! Karena jangan-jangan kau malah menampilkan Bagian-Terbaik dari dirimu!”
— Friedrich Wilhelm Nietzsche

Jejak Cinta Seorang Hamba



 Dikutip dari kitab Al-Qashd Al-Mujarrad fi Ma’rifat al-Ism Al-Mufrad karya Ibnu Atha’illah

Imam Abu Bakar Asy-Syibli menceritakan:
Aku berjumpa dengan seorang perempuan yang berasal dari Habsyah yang tampak linglung tak tentu arah. Dia berlari-lari dan berjalan cepat tak tahu tujuan.

Lalu, kukatakan kepadanya, “Wahai Ibu, kasihanilah dirimu!”
Tiba-tiba dia menjawab, “Huwa (Dia).”
“Darimana engkau sebenarnya?” tanyaku.
”Dari Huwa (Dia).”
“Engkau mau pergi kemana?”
“Pergi ke Dia.”

 “Apa yang kau inginkan dari Dia?”
“Dia.”

Akhirnya, aku bertanya, “Berapa kali engkau menyebut Dia?”
“Lidahku tak pernah lelah menyebut Dia (Huwa) sampai aku bertemu dengan Dia!” jawabnya tegas.

Lalu, tiba-tiba dia bersenandung,
“Kehormatan cintaku kepada-Mu tak tergantikan. Hanya Engkau yang kutuju; tidak ada yang lainnya. Aku tergila-gila kepada-Mu, meski mereka menganggapku sakit. Kujawab bahwa sakit ini tak pernah lenyap dari diriku.”

Kemudian, Imam Abu Bakar Asy-Syibli mengatakan kepada perempuan itu:
“Wahai hamba Alloh, apakah yang engkau maksud dengan Dia (Huwa)? Apakah Alloh?

Tiba-tiba, mendengar kata “Alloh” disebut oleh Asy-Syibli di depannya, nafasnya langsung tersengal-sengal, lalu ia secara mengejutkan meninggal dunia sejurus setelah itu.

Imam Abu Bakar Asy-Syibli pun bercerita bahwa ketika dirinya hendak mengurus jenazah wanita tersebut, tiba-tiba dia mendengar suara,
“Wahai Asy-Syibli, barang siapa mabuk cinta kepada Kami, linglung mencari Kami, lalu terus berdzikir mengingat Kami, serta meninggal dengan nama Kami, biarkanlah dia kepada Kami! Pengurusan (jenazahnya) menjadi kewajiban Kami!”

Lalu, segera saja Asy-Syibli menoleh ke arah suara itu. “Aku menoleh ke sumber suara itu, tapi aku tak melihat siapa pun. Aku terhijab. Aku pun tak tahu apakah wanita tersebut diangkat atau dikubur. Wanita itu mendadak hilang. Semoga Alloh mengampuninya.”


Tidak melihat tapi terpandang, tidak ada aksara tapi terbaca, tidak ada suara tapi terdengar...

Gerak adalah awal mula, dan diam adalah akhirnya, hilanglah sakit dan hikmah menyertainya..

Segala sesuatu pasti berlalu, kecuali Yang Maha Satu..

Al-Fana. Situasi di mana hamba lebur dalam nuansa, hangus dalam Ilahi, tiada daya, tiada upaya, tiada sesuatu yang dihadapi lahir maupun batin, kecuali Huwa/Dia..

Wahai Tuhan tambatkan hati kami, agar kami tidak menempuh dunia, agar kami tidak berburu akhirat. Apa yang kami inginkan hanyalah menatap ridha-Mu sampai kami tiba dilarut hari kami.

"Illahi anta maksudi waridhaka matlubi - Diri-Mu lah yang kami tuju, ridho-Mu lah yang kami minta."

Παντα χωρει, ουδει μενει



"Παντα χωρει, ουδει μενει - Segala hal mengalir dan tak satupun yang tinggal diam."
-- Heraclitus

Dialektika adalah sebuah cara untuk memikirkan dan mengartikan dunia baik yang mewujud dalam alam maupun dalam masyarakat. Ia adalah sebuah cara untuk melihat alam semesta, yang berangkat dari aksioma bahwa segala hal berada dalam kondisi yang selalu berubah dan mengalir.

Ketika kita pertama kali merenungkan dunia sekitar kita, kita melihat rangkaian gejala yang demikian banyak dan kompleks, satu jaring laba-laba yang rumit dari berbagai perubahan yang berlangsung tanpa henti, sebab dan akibat, aksi dan reaksi. Kekuatan penggerak [motive force] dari penyelidikan ilmiah adalah gairah untuk mendapatkan pemahaman yang rasional atas lorong penyesat yang membingungkan ini, agar kita dapat menaklukkannya pada satu waktu.

"Di alam tidak satupun yang tinggal tetap. Segala hal berada dalam peralihan, pergerakan dan perubahan yang abadi. Walau demikian, kita menemukan bahwa tidak ada sesuatupun yang muncul dari ketiadaan tanpa memiliki pendahulu yang hadir sebelum dirinya. Sama halnya, tidak ada sesuatupun yang pernah menghilang tanpa bekas, dalam makna bahwa hal ini menimbulkan keadaan di mana tidak sesuatupun yang ada di masa setelah ia menghilang. Karakter umum dunia ini dapat dinyatakan dalam satu prinsip yang kiranya meringkaskan satu himpunan besar berbagai pengalaman, dan yang belum pernah dibuktikan keliru dalam pengamatan atau percobaan apapun, baik yang ilmiah maupun tidak; yaitu, bahwa semua hal datang dari hal lain dan menimbulkan hal yang lain lagi."
-- David Bohm

Proposisi dasar dialektika adalah bahwa segala hal berada dalam proses perubahan, pergerakan dan perkembangan yang terus-menerus. Bahkan ketika bagi kita tidak terlihat sesuatupun terjadi, dalam kenyataannya, materi selalu berubah. Molekul, atom dan partikel-partikel sub-atomik terus bertukar tempat, selalu dalam pergerakan. Dialektika, dengan demikian, adalah sebuah interpretasi yang pada hakikatnya dinamik atas segala gejala dan proses yang terjadi dalam segala tingkat materi, baik yang organik maupun yang anorganik.

Engels menyatakannya: "Gerak, dalam makna yang paling luas, dipandang sebagai cara untuk mengada [mode of existence], sifat inheren, dari materi, mencakup segala perubahan dan proses yang terjadi di alam raya, dari sekedar pertukaran tempat sampai proses berpikir. Penyelidikan atas sifat gerak secara alamiah harus mulai dari yang bentuk-bentuk gerak yang paling rendah dan sederhana, dan untuk belajar memahaminya sebelum penyelidikan itu dapat mencapai penjelasan apapun mengenai bentuk-bentuk pergerakan yang lebih tinggi dan kompleks."