Rabu, 12 Maret 2014

Konsep Insan Kamil Ibn Arabi


 
Muhammad Ibn Ali bin Muhammad Ibn al-Arabi al-Hatimi yang dikenal dengan sebutan Ibn Arabi dilahirkan di Murcia, Spanyol bagian tenggara pada tanggal 17 Ramadan 560 H/ 29 Juli 1165 M). Pada usia 8 tahun ia dibawa oleh orang tuanya ke Sevilla. Di sana ia belajar Alquran, hadis, fikih dan tasawuf. Pada tahun 598 H / 1202 M ia berangkat ke Timur dan mengembara di daerah-daerah dan kota-kota : Mesir, Makkah, Yerusalem, Aleppo, Asia kecil dan akhirnya menetap di Damaskus sampai akhir hayatnya pada 28 Rabiul Akhir 638 H / 1240 M.

Insan kamil ialah manusia yang sempurna dari segi wujud dan pengetahuannya. Kesempurnaan dari segi wujudnya ialah karena dia merupakan manifestasi sempurna dari citra Tuhan, yang pada dirinya tercermin nama-nama dan sifat Tuhan secara utuh. Adapun kesempurnaan dari segi pengetahuannya ialah karena dia telah mencapai tingkat kesadaran tertinggi, yakni menyadari kesatuan esensinya dengan Tuhan, yang disebut makrifat. [2]

Ibn Arabi memandang insan kamil sebagai wadahtajalliTuhan yang paripurna. Pandangan demikian didasarkan pada asumsi, bahwa segenap wujud hanya mempunyai satu realitas. Realitas tunggal itu adalah wujud mutlak yang bebas dari segenap pemikiran, hubungan, arah dan waktu. Ia adalah esensi murni, tidak bernama, tidak bersifat dan tidak mempunyai relasi dengan sesuatu. [3]
Kemudian, wujud mutlak itu ber-tajallisecara sempurna pada alam semesta yang serba ganda ini.Tajallitersebut terjadi bersamaan dengan penciptaan alam yang dilakukan oleh Tuhan dengan kodrat-Nya dari tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). [4]
Bagi para sufi, alam dunia adalah cermin dan sifat-sifat Tuhan dan nama-nama indah-Nya (al-asmā’ al-husnā). Masing-masing tingkat eksistensi yaitu mineral, tumbuhan dan hewan dipandang mencerminkan sifat-sifat tertentu Tuhan. Di tingkat mineral, misalnya, keindahan Tuhan tercermin sampai batas tertentu, dalam batu-batuan atau logam mulia. Demikian juga dalam dunia tumbuh-tumbuhan ribuan jenis bunga-bunga dengan aneka warnanya yang unik dan serasi tidak henti-hentinya mengilhami para penyair dengan inspirasi yang sangat mengesankan. Begitu pula, pesona yang diberikan oleh berbagai jenis hewan yang sangat beraneka bentuk dan posturnya. Tetapi dari semua makhluk yang ada di alam dunia, tidak ada yang bisa mencerminkan sifat-sifat Tuhan secara begitu lengkap kecuali manusia. Ini karena manusia sebagai mikrokosmos yang terkandung di dalamnya seluruh unsur kosmik, bisa mencerminkan seluruh sifat Ilahi dengan sempurna, ketika ia telah mencapai tingkat kesempurnaannya, yang disebut insan kamil, manusia sempurna, atau manusia universal. [5]
Kesempurnaan insan kamil itu pada dasarnya disebabkan karena pada dirinya Tuhan ber-tajalli secara sempurna melalui hakikat Muhammad (al-haqiqah al-Muhammadiyah). Hakikat Muhammad (nur Muhammad) merupakan wadah tajalli Tuhan yang sempurna dan merupakan makhluk yang paling pertama diciptakan oleh Tuhan. [6]
Jadi, dari satu sisi, insan kamil merupakan wadah tajalli Tuhan yang paripurna, sementara disisi lain, ia merupakan miniatur dari segenap jagad raya, karena pada dirinya terproyeksi segenap realitas individual dari alam semesta, baik alam fisika maupun metafisika. Hati insan kamil berpadanan dengan arasy Tuhan, “ke-Aku-an”nya sepadan dengan kursi Tuhan, peringkat rohaninya dengan sidratul muntaha, akalnya dengan pena yang tinggi, jiwanya dengan lauh mahfūz,tabiatnya dengan elemen-elemen, kemampuannya dengan hayūla, tubuhnya dengan habā’dan lain-lain. [7]
Bani Adam secara potensial adalah insan kamil, meski hanya di kalangan para nabi dan wali saja potensi itu menjadi aktual. Alquran surat al-Isra’: 70 menjelaskan

“Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut merekat di daratan dan lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”(Qs. al-Isra’: 70). [8]
Al-Jili membagi insan kamil atas tiga tingkatan. Tingkat pertama disebutnya sebagai tingkat permulaan (al-bidāyah). Pada tingkat ini insan kamil mulai dapat merealisasikan asma dan sifat-sifat Ilahi pada dirinya. Tingkat kedua adalah tingkat menengah (at-tawasut).Pada tingkat ini insan kamil sebagai orbit kehalusan sifat kemanusiaan yang terkait dengan realitas kasih Tuhan (al-haqāiq ar-rahmāniyah). Sementara itu, pengetahuan yang dimiliki oleh insan kamil pada tingkat ini juga telah meningkat dari pengetahuan biasa, karena sebagian dari hal-hal yang gaib telah dibukakan Tuhan kepadanya. Tingkat ketiga ialah tingkat terakhir (al-khitām). Pada tingkat ini insan kamil telah dapat merealisasikan citra Tuhan secara utuh. Di samping itu, ia pun telah dapat mengetahui rincian dari rahasia penciptaan takdir. Dengan demikian pada insan kamil sering terjadi hal-hal yang luar biasa. [9]
Akan tetapi, insan kamil yang muncul dalam setiap zaman, semenjak Adam a.s. tidak dapat mencapai peringkat tertinggi, kecuali Nabi Muhammad saw. Alquran surat al-Ahzāb : 21 menjelaskan

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(Qs. al-Ahzāb: 21). [10]
Jadi setiap manusia secara potensial merupakan citra Tuhan, pada insan kamil potensi itu menjadi aktual, karena pada dirinya termanifestasi nama-nama dan sifat Tuhan. Tetapi citra itu belum sempurna sampai ia menyadari kesatuan esensialnya dengan Tuhan. Setiap insan kamil adalah sufi, karena kesadaran seperti itu hanya bisa diperoleh di dalam tasawuf.

Proses Munculnya Insan Kamil
Munculnya insan kamil dapat ditelusuri melalui dua sisi. Pertama melalui tahap-tahap tajalli Tuhan pada alam sampai munculnya insan kamil. Kedua melalui maqamat (peringkat-peringkat kerohanian) yang dicapai oleh seseorang sampai pada kesadaran tertinggi yang terdapat pada insan kamil.
Tajalli Tuhan – dalam pandangan Ibn Arabi – mengambil dua bentuk: pertama tajalli gaib atau tajalli żāti yang berbentuk penciptaan potensi, dan kedua tajalli syuhūdi (penampakan diri secara nyata), yang mengambil bentuk pertama, secara intrinsik hanya terjadi di dalam esensi Tuhan tersendiri. Oleh karena itu, wujudnya tidak berbeda dengan esensi Tuhan itu sendiri karena ia tidak lebih dari suatu proses ilmu Tuhan di dalam esensi-Nya sendiri, sedangkan tajalli  dalam bentuk kedua ialah ketika potensi-potensi yang ada di dalam esensi mengambil bentuk aktual dalam berbagai fenomena alam semesta.[11]
Tajalli żāti, menurut Ibn Arabi, terdiri dari dua martabat: pertama martabat ahadiyah dan kedua martabat wahīdiyah. Pada martabat ahadiyah, Tuhan merupakan wujud tunggal lagi mutlak, yang belum dihubungkan dengan kualitas (sifat) apapun, sehingga ia belum dikenal oleh siapapun. Esensi Tuhan pada peringkat ini, begitu kata Ibn Arabi, hanya merupakan totalitas dari potensi (quwwah) yang berada dalam kabut tipis (al-‘amā’) yakni awan tipis yang membatasi “langit” ahadiyah dan “bumi” keserbagandaan makhluk, yang identik dengan nafs ar-Rahmān (nafas  Tuhan yang Maha Pengasih).[12]
Wujud Tuhan dalam martabat ahadiyah masih terlepas dari segala kualitas dan pluralitas apapun: tidak terkait dengan sifat, nama, rupa (rasm), ruang, waktu, syarat, sebab dan sebagainya. Ia betul-betul transenden atas segala-galanya. Di dalam transendensi-Nya itu, ia ingin dikenal oleh yang selain dari diri-Nya, maka diciptakan-Nya makhluk. Dari martabat ahadiyah tajalli Tuhan akan berlanjut pada martabat-martabat di bawahnya sampai pada martabat dimana Tuhan dapat dikenal oleh makhluk.[13]
Pada martabat wahidiyah Tuhan memanifestasikan diri-Nya secara ilahiah yang unik di luar batas ruang dan waktu dalam citra sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat tersebut terjelma dalam asma Tuhan. Sifat-sifat dan asma itu merupakan satu kesatuan dengan hakikat alam semesta yang berupa entitas-entitas laten (‘a’yān sābitah). Bila sifat-sifat dan nama-nama itu dipandang dari aspek ketuhanan, ia disebut asma’ ilāhiyah (nama-nama ketuhanan), bila dipandang dari aspek kealaman (makhluk), ia disebut asma’ kiyāniyah (nama-nama kealaman). Aspek kedua, meski dipandang satu dengan aspek pertama, ia juga merupakan tajalli dari aspek pertama, karena pada asma’ kiyāniyah itu asma Tuhan mengambil bentuk entitas (‘ain). Oleh karena itu, setiap kali asma ilahi muncul, ia senantiasa berpasangan dengan asma’ kiyāniyah sebagai wadah tajalli-nya.[14] Ibn Arabi menjelaskan
فَلَمَّا اَرَادَ وُجُوْدَالْعَالَمِ انْفَعَلَ عَنْ تِلْكَ الاِرَادَةِ الْمُقَدَّسَةِ حَقِيْقَةٌ تُسَمَّى الْهَبَاءُ ثُمَّ اِنَّهُ سُبْحَانَهُ تَجَلَّى بِنُوْرِهِ اِلَى ذَلِكَ الْهَبَاءِ وَيُسَمُّوْنَهُ اَصْحَابُ الاَفْكَارِ الْهَيُوْلىَ الْكُلَّ وَالْعَالَمُ كُلُّهُ فِيْهِ بِالْقُوَّةِ وَالصَّلاَحِيَّةِ فَقَبِلَ مِنْهُ تَعَالَى كُلُّ شَيْئٍ فِى ذَلِكَ الْهَبَاءِ عَلَى حَسْبِ قُوَّتِهِ وَاسْتِعْدَادِهِ كَمَا تَقْبِلُ زَوَايَاالْبَيْتِ نُوْرَا لسِّرَاجِ وَعَلَى قَدْرِ قُرْبِهِ مِنْ ذَلِكَ النُّوْرِ يَسْتَدُّ ضَوْءُهُ وَقَبُوْلُهُ فَلَمْ يَكُنْ اَقْرَبُ اِلَيْهِ قُبُوْلاً فِى ذَلِكَ الْهَبَاءِ اِلاَّ حَقِيْقَةٌ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ وُجُوْدُهُ مِنْ ذَلِكَ النُّوْرِ الاِلَهِيِّ وَمِنَ الْهَبَاءِ وَمِنَ الْحَقِيْقَةِ الُكُلِّيَّةِ

“Tatkala (Allah) menghendaki adanya alam terjadilah dari iradat suci itu suatu hakikat yang disebut habâ’ (materi prima). Kemudian Allah subhanahu ber-tajalli dengan nur-Nya pada habâ’ itu, yang oleh ahli pikir disebut al-hayûla al-kull (materi universal), yang alam semesta ini secara potensial dan serasi berada di dalamnya. Segala sesuatu dalam habâ’ itu menerima (nur) Allah menurut potensi dan kesediaannya masing-masing, seperti sudut-sudut sebuah rumah menerima sinar lampu, yang lebih dekat kepada nur itu lebih terang dan lebih banyak menerimanya. Tiada yang lebih banyak menerimanya di dalam habâ’ itu daripada hakikat Muhammad s.a.w., yang wujudnya dari nur ilahi itu, dari habâ’ dan dari realitas universal.”[15]
Adapun yang pertama kali muncul pada tajalli syuhudi ialah al-jism al-kulli (jasad universal) sebagai penampakan lahir dari nama Tuhan az-Zāhir (Yang Maha Nyata). Kemudian “jasad universal” tersebut mengambil bentuk asy-syakl al-kulli (bentuk universal) sebagai efek dari tajalli Tuhan dengan nama-Nya al-Hakīm (Yang Maha Bijaksana). Selanjutnya Tuhan dengan nama-Nya al-Muhīth (Yang Maha Melingkupi), asy-Syakūr (Yang Maha Melipatgandakan pahala), al-Gāni (Yang Maha Kaya) dan Al-Muqtadir (Yang Maha Memberi Kekuasaan) masing-masing menampakkan diri pada arasy (singgasana) Tuhan, kursi, falak al-būrūj (falak bintang-bintang), dan falak al-manāzil (falak berorbit). Setelah falak al-manāzil, secara berturut-turut muncul langit pertama hingga langit keenam dan langit dunia. Kemudian muncul pula eter, api, udara, air, tanah, mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, malaikat, jin, manusia dan insan kamil. Masing-masing merupakan tajalli dari nama-nama Tuhan: ar-Rabb (Yang Maha Mengatur), al-Alīm (Yang Maha Mengetahui), al-Qāhir (Yang Maha Perkasa), an-Nūr (yang bersinar), al-Musawwir (yang membentuk rupa), al-Muhsī (yang mencatat), al-matīn (Yang Maha Kokoh), al-Qābid (yang membatasi), al-Hayy (Yang Maha Hidup), al –Muhyī (Yang Menghidupkan), al-Mumīt (Yang Mematikan), al-Azīz (Yang Maha Mulia), ar-Razzāq (Yang Memberi rezki), al-Mużill (Yang Menghina), al-Qawī (Yang Maha Kuat), al-Latīf (Yang Maha Halus), al-Jāmi’ (Yang Menghimpunkan), Rāfi’ ad-Darajāt (Yang Maha tinggi derajatnya). Pada peringkat insan kamil itu sempurnalah tajalli Tuhan pada makhluk, karena pada insan kamil telah termanifestasi segenap sifat dan asma-Nya.[16]
Dari pembahasan di atas kelihatan bahwa hubungan antara tajalli bentuk pertama dan yang sesudahnya merupakan suatu bentuk peralihan dari sesuatu yang potensial kepada yang aktual dan ini terjadi secara abadi, karena tajalli ilahi tidak pernah berhenti pada suatu batas perhentian. Tujuannya ialah agar Tuhan dapat dikenal lewat nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada alam semesta. Akan tetapi alam semesta ini berada dalam wujud yang terpecah-pecah, sehingga tidak dapat menampung citra Tuhan secara utuh, hanya pada manusia citra Tuhan dapat tergambar secara sempurna, yaitu pada insan kamil. Martabat insan kamil ini baru dapat dicapai setelah melalui beberapa maqâm (tingkat-tingkat kerohanian, jamaknya: maqāmāt). Dalam perjalanan melalui tingkat-tingkat kerohanian itu sufi akan mengalami beberapa keadaan batin (hāl, jamaknya: ahwāl).[17]
Maqāmāt adalah tahap-tahap perjalanan spiritual yang dengan gigih diusahakan oleh para sufi untuk memperolehnya. Perjuangan ini pada hakikatnya merupakan perjuangan spiritual yang panjang dan melelahkan untuk melawan hawa nafsu, termasuk ego manusia yang dipandang berhala terbesar dan karena itu kendala menuju Tuhan. Kerasnya perjuangan spiritual ini misalnya dapat dilihat dari kenyataan bahwa seorang sufi kadang memerlukan waktu puluhan tahun hanya untuk bergeser dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Sedangkan “ahwāl” sering diperoleh secara spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Di antara ahwāl yang sering disebut adalah takut, syukur, rendah hati, takwa, ikhlas, gembira. Meskipun ada perdebatan di antara para penulis tasawuf, namun kebanyakan mereka mengatakan bahwa ahwāl dialami secara spontan, berlangsung sebentar dan diperoleh tidak berdasarkan usaha sadar dan perjuangan keras seperti halnya maqāmāt, melainkan sebagai hadiah berupa kilatan-kilatan ilahi (Divine Flashes), yang biasa disebut “lama’at.”[18]
قال بروى احمد طبانه فى مقدمة احياء علوم الدين للغزالى : (ربع المنجيات) فى ابواب الخوف والرجاء والصبر والشكر والفقر والزهد والتوحيد والتوكل والمحبة والشوق والانس والرضا

Barwa Ahmad Tabanah berkata dalam Muqadimah Ihyā’ Ulumudin karya al-Ghazali: “Seperempat bagian yang menyelamatkan (maqāmāt) dalam bab khauf (takut), rajā’ (berharap), sabar, syukur, kefakiran, zuhud, tauhid, tawakal, cinta, rindu, mesra, dan rida.[19]
Al-Kalabadzi menyebutkan 10 maqāmāt yaitu: tobat, zuhud, sabar, kefakiran, rendah hati, tawakal, rida, cinta dan makrifat.[20] Tahap-tahap puncak yang dicapai oleh sufi dalam perjalanan spiritualnya itu ialah ketika ia mencapai maqām makrifat dan mahabbah. Makrifat dimulai dengan mengenal dan menyadari jati diri. Dengan mengenal dan menyadari jati diri, niscaya sufi akan kenal dan sadar terhadap Tuhannya. Kesadaran akan eksistensi Tuhan berarti mengenal Tuhan sebagai wujud hakiki yang mutlak, sedangkan wujud yang selain-Nya adalah wujud bayangan yang bersifat nisbi. Wujud bayangan, sebenarnya hanya image belaka, sehingga yang benar-benar ada ialah wujud Tuhan.[21]
Setelah menempuh segala maqām sampailah sufi kepada keadaan fanā’ dan baqā’. Dalam keadaan demikian, insan kembali kepada wujud asalnya, yakni wujud mutlak. Fanā’ adalah sirnanya kesadaran manusia terhadap segala alam fenomena, dan bahkan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Tuhan (fanā’ ‘an sifāt al-haqq), sehingga yang betul-betul ada secara hakiki dan abadi (baqā’) di dalam kesadarannya ialah wujud mutlak. Untuk sampai kepada keadaan demikian, sufi secara gradual, harus menempuh enam tingkat fanā’ yang mendahuluinya, yaitu:
1.      Fanā’ ‘an al-Mukhālafāt (sirna dari segala dosa). Pada tahap ini sufi memandang bahwa semua tindakan yang bertentangan dengan kaidah moral sebenarnya berasal dari Tuhan juga. Dengan demikian, ia mulai mengarah kepada wujud tunggal yang menjadi sumber segala-galanya. Dalam tahap ini sufi berada dalam hadrah an-nūr al-mahd (hadirat cahaya murni). Jika seseorang masih memandang tindakannya sebagai miliknya yang hakiki, ini menandakan ia masih berada pada hadrah az-zulmah al-mahd (hadirat kegelapan murni).
2.      Fanā’ ‘an af’āl al-‘ibād (sirna dari tindakan-tindakan hamba). Pada tahap sufi menyadari bahwa segala tindakan manusia pada hakikatnya dikendalikan oleh Tuhan dari balik tabir alam semesta. Dengan demikian sufi menyadari adanya “satu agen mutlak” dalam alam ini, yakni Tuhan.
3.      Fanā’ ‘an sifāt al-makhlūqīn (sirna dari sifat-sifat makhluk). Pada tahap ini sufi menyadari bahwa segala atribut dan kualitas wujud mumkin (contingent) tidak lain adalah milik Allah. Dengan demikian, sufi menghayati segala sesuatu dengan kesadaran ketuhanan, ia melihat dengan penglihatan Tuhan, mendengar dengan pendengaran Tuhan, dan seterusnya.
4.      Fanā’ ‘an kull az-zāt (sirna dari personalitas diri). Pada tahap ini sufi menyadari non-eksistensi dirinya, sehingga yang benar-benar ada di balik dirinya ialah zat yang tidak bisa sirna selama-lamanya.
5.      Fanā’ ‘an kull al-‘alam (sirna dari segenap alam). Pada tahap ini sufi menyadari bahwa segenap aspek alam fenomenal ini pada hakikatnya hanya khayal, yang benar-benar ada hanya realitas yang mendasari fenomena.
6.      Fanā’ ‘an kull mā siwā ‘l-lāh (sirna dari segala sesuatu yang selain Allah). Pada tahap ini sufi menyadari bahwa zat yang betul-betul ada hanya zat Allah.[22]
Ketika sufi mencapai fanā’ tahap keenam ia menyadari bahwa yang benar-benar ada adalah wujud mutlak yang mujarrad dari segenap kualitas nama dan sifat seperti permulaan keberadaan-Nya. Inilah perjalanan panjang sufi menuju ke asal. Kesadaran puncak mistis seperti inilah yang dicapai insan kamil.

Kedudukan Insan Kamil
Insan kamil jika dilihat dari segi fisik biologisnya tidak berbeda dengan manusia lainnya. Namun dari segi mental spiritual ia memiliki kualitas-kualitas yang jauh lebih tinggi dan sempurna dibanding manusia lain. Karena kualitas dan kesempurnaan itulah Tuhan menjadikan insan kamil sebagai khalifah-Nya. Yang dimaksud dengan khalifah bukan semata-mata jabatan pemerintahan lahir dalam suatu wilayah negara (al-khilāfah az-zāhiriyyah) tetapi lebih dikhususkan pada khalifah sebagai wakil Allah (al-khilāfah al-ma’nawiyyah) dengan manifestasi nama-nama dan sifat-Nya sehingga kenyataan adanya Tuhan terlihat padanya.

Dalam pandangan Ibn  ‘Arabi, kedua bentuk khalifah diatas sama-sama mempunyai urgensi dalam eternalisasi eksistensi alam semesta. Namun demikian, khilāfah ma’nawiyyah menempati posisi paling asasi. Di satu sisi, ia merupakan fokus kesadaran diri Tuhan, sementara disisi lain, ia merupakan sebab muncul dan lestarinya alam semesta. Posisi demikian berlainan dengan khilāfah zāhiriyyah, yang fungsinya tidak lebih dari melestarikan masyarakat dan negara, dengan menciptakan keadilan, ketentraman, dan kemakmuran dalam masyarakat. Dengan demikian, tugas khilāfah zāhiriyyah ini merupakan penunjang tugas khilāfah ma’nawiyyah. Ini bukan berarti khilāfah zāhiriyyah tersebut dapat diabaikan, karena tanpa dia niscaya akan terjadi kegoncangan pada khilāfah ma’nawiyyah.[23]

Kedudukan khalifah pertama kali ditempati oleh Adam a.s. karena pada dirinya termanifestasi nama-nama dan sifat Tuhan. Bahkan jabatan yang diduduki oleh Adam a.s. itu (sebenarnya) tidak terlepas dari rekayasa Tuhan, seperti disebutkan dalam Alquran surat al-Baqarah: 30.
وَاِذْقَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى اْلاَرْضِ خَلِيْفَةًً قلى قاَلُوْا اَتَجْعَل فِيْهَا مَنْ يُفْسِدَ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءِ ج وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قلى قَالَ اِنِّيْ اَعْلَمُ مَالاَ تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesunggguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? “Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. al- Baqarah: 30).[24]

Jadi, keunggulan Adam a.s. yang menyebabkan ia diangkat oleh Tuhan sebagai khalifah di sini bukan karena kesalehannya, tetapi karena dirinya dapat memanifestasikan asma dan sifat-sifat Tuhan. Diakui bahwa malaikat adalah makhluk Tuhan yang senantiasa berada dalam kesalehan, tetapi ia tidak dapat menyandang jabatan khalifah, karena dirinya tidak mampu menerima tajalli ilahi secara sempurna, ia hanya dapat memanifestasikan salah satu dari sifat dasar Tuhan: sifat jamāl (maha indah) ataupun sifat jalāl (maha perkasa). Hal demikian berlainan dengan Adam a.s., pada diri Adam termanifestasi sifat-sifat jamāl, seperti kasih sayang, santun dan pemurah; dan juga sifat jalāl, seperti perkasa, menjatuhkan hukuman atas yang bersalah, dan bangga. Oleh sebab itu ketika Tuhan memerintahkan segenap malaikat bersujud kepada Adam, maka semuanya bersujud kecuali Iblis. Ia menolak untuk melakukan sujud karena kesombongannya, sehingga ia termasuk golongan kafir.[25] Alasan iblis tidak mau sujud karena ia merasa dirinya lebih baik daripada Adam, ia dijadikan dari api sedangkan Adam dari tanah.[26]
Iblis, kata Ibn ‘Arabi, adalah suatu makhluk yang paling banyak dipengaruhi oleh daya ilusi (al-quwah al-wahmiyah), sehingga ia terhalang dari kebenaran karena daya ilusi tersebut. Maka ketika mendapat perintah dari Tuhan agar melakukan sujud kepada Adam, ia tidak mematuhinya. Iblis disebut juga jin, yakni suatu kelompok alam gaib yang rendah (al-malākūt as-sufliyah), yang pada mulanya hidup bersama-sama malaikat-malaikat langit yang suci, tetapi tidak dapat mencapai kebenaran mutlak karena terhalang oleh kebenaran nisbi, maka ia pun termasuk golongan kafir.[27]
Di sisi lain, insan kamil dipandang sebagai orang yang mendapat pengetahuan esoterik yang dikenal dengan pengetahuan rahasia (‘ilm al-asrār), ilmu ladunni atau pengetahuan gaib. Pengetahuan esoterik, pada dasarnya identik dengan pengetahuan Tuhan sendiri. Oleh karena itu orang yang bisa mencapainya hanyalah orang yang telah menyadari kesatuan esensialnya dengan Tuhan, dalam hal fanā’ dan baqā’. Jika seseorang telah dapat mengosongkan aql dan qalbnya dari egoisme, keakuan, keangkuhan, dengan keikhlasan total dan kemudian berusaha keras, dengan menyiapkan diri menjadi murid memohon Allah mengajarkan kepadanya kebenaran, dan dengan aktif ia mengikuti aql dan qalbnya merangkaikan berbagai realitas yang hadir dalam berbagai dimensinya, maka Tuhan hadir membukakan pintu kebenaran dan ia masuk ke dalamnya, memasuki kebenaran itu, dan ketika ia keluar, maka ia menjadi dan menyatu dengan kebenaran yang telah dimasukinya.[28] Pengetahuan esoterik adalah karunia (mawhibat) dari Tuhan, setelah seseorang menempuh penyucian diri (tazkiyah an-nafs).
Insan kamil juga dipandang sebagai wali tertinggi, atau disebut juga qutb (poros). Dalam struktur hierarki spiritual sufi, quthb adalah pemegang pimpinan tertinggi dari para wali. Ia hanya satu orang dalam setiap zaman. Qutb bisa pula disebut gaws (penolong), yang termasuk orang yang paling dekat dengan Tuhan, quthb dikitari oleh dua orang imam yang bertugas sebagai wazirnya. Di samping itu, ada pula empat orang awtād (pilar-pilar), yang bertugas sebagai penjaga empat penjuru bumi, masing-masing dari empat orang awtād itu berdomisili di arah timur, barat, utara, dan selatan dari ka’bah. Selain itu, terdapat tujuh orang abdāl (pengganti-pengganti), yang bertugas mengurus tujuh benua; dua belas orang nuqabā’ (pemimpin-pemimpin), yang mengatur perjalanan dua belas bintang; dan masih ada delapan orang nujabā’ (orang-orang yang mulia), hawāriyūn (para penolong), dan rajābiyūn (wali-wali yang hanya muncul pada bulan Rajab).[29]
Dari kajian di atas dapat dipahami bahwa insan kamil adalah wadah tajalli Tuhan yang berkedudukan sebagai khalifah dan sebagai wali tertinggi (qutb). Sebagai wadah tajalli Tuhan ia merupakan sebab tercipta dan lestarinya alam, dalam kedudukannya sebagai khalifah ia adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk memanifestasikan kemakmuran, keadilan, dan kedamaian, dan dalam kedudukannya sebagai quthb, ia adalah sumber pengetahuan esoterik yang tidak pernah kering.
Kedudukan Norma dalam Insan Kamil
Taklif syarak merupakan norma-norma keagamaan untuk menata kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesamanya dan dengan makhluk lain. Kalau aturan-aturan ini dilanggar atau tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya niscaya akan terjadi kekacauan dalam kehidupan manusia. Pada aspek aksiologis, Tuhan merupakan wujud yang maha baik, yang menyukai kebaikan, dan ingin menyebarkan kebaikan. Karena itu, ia memanifestasikan diri-Nya dengan norma, hukum, atau wahyu. Jadi wahyu juga merupakan salah satu wadah tajalli-Nya. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa syariat yang merupakan aktualisasi dari wahyu itu mengandung nilai-nilai keilahian.[30]
Untuk mencapai martabat insan kamil, sufi harus mematuhi aturan-aturan formal keagamaan, yang bersumber dari kitab suci Alquran dan sunnah Nabi Muhammad saw. Pengetahuan dan tindakan yang tidak didukung oleh kitab suci dan sunnah Nabi saw. merupakan pengetahuan dan tindakan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, bahkan menyesatkan. Oleh sebab itu, jika seseorang memperoleh ilham, dia harus mempertimbangkannya lebih dahulu atas kriteria kandungan Alquran dan sunnah; jika ilham yang diperolehnya itu sesuai dengan kandungan Alquran dan sunnah, menandakan ilham yang didapatnya itu datang dari Allah dan dia boleh melaksanakannya; tetapi kalau ilham itu tidak sesuai dengan kandungan Alquran dan sunnah dia tidak boleh mengamalkannya, karena boleh jadi ilham yang demikian bersumber dari bisikan iblis yang menyusup ke dalam lubuk hatinya.[31]
Semakin tinggi martabat spiritual sufi bertambah sulit pula jalan yang ditempuh dalam suluknya. Jalan berliku menanjak, petir menyambar, hujan mengguyur dalam gelap gulita malam sementara tujuan belum tercapai ditambah godaan setan dari yang kasar sampai yang halus menghanyutkan, sufi yang sudah kebal dengan rayuan setan kelas teri tentu diburu oleh setan kelas kakap bahkan the big bos juga turun tangan. Dikisahkan pada suatu ketika Syekh Abd al-Qadir al-Jilāny melihat cahaya terang, di dalamnya terdapat penampakan yang memanggil: “Hai Abd al-Qadir, aku tuhanmu, aku halalkan untukmu segala yang diharamkan! Dia menjawab: “Aku berlindung dengan Allah dari setan yang dirajam, pergilah hai terkutuk! Padamlah cahaya terang itu, setan yang mengaku tuhan itu berkata: “Engkau telah selamat dariku dengan hukum Tuhanmu dan kepahamanmu dalam mempertahankan martabat spiritual. Padahal aku telah menyesatkan tujuh puluh ahli suluk dengan metode ini. “Dia menjawab: “hanya milik Tuhanku segala keutamaan dan anugerah.” Syekh ditanya: “Dengan apa engkau mengerti bahwa penampakan itu setan?” Dia menjawab: “Dengan ucapannya telah kuhalalkan, untukmu segala yang diharamkan, maka aku segera mengerti sesungguhnya Allah tidak memerintahkan dengan kejahatan.”[32]
Abu Bakar al-Makky berkata: “Para salik (penempuh spiritual) harus melakukan syariah, thariqat, dan haqiqah. Syari’ah adalah perintah-perintah yang diperintahkan Allah dan larangan-larangan yang dilarang Allah. Thariqah adalah melakukan dan mengamalkan syariah. Haqiqah adalah memandang bahwa esensi dan penggerak perbuatan adalah Allah. Pernyataan hanya kepada-Mu aku menyembah merupakan dimensi syariah dengan memandang perbuatan lahir yang dilakukan hamba, dan pernyataan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan merupakan dimensi haqiqah karena hamba memfanâ’kan daya upayanya dengan menyadari segala perbuatan tidak akan terlaksana tanpa bantuan dan kekuatan Allah.”[33]
Insan kamil sebagai manusia sempurna tentu mematuhi norma taklif yang dibebankan Allah. Tata laku lahir berupa norma taklif dirancang Allah untuk kebaikan manusia. Alquran surat al-Bayyinah: 5 menjelaskan:
وَمَا اُمِرُوْا اِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلَوةَ وَيُؤْتُواالزَّكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ
Artinya:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Qs. al-Bayyinah: 5)[34]
Pada aspek fikih bersuci atau tahārah merupakan syarat untuk melakukan berbagai ritual ibadah. Bisa dibayangkan apabila tidak wudu, mandi wajib, apalagi jarang mandi karena menjalani “laku garingan” tentu tubuh akan kotor, gatal dan ibadahpun menjadi tidak nyaman. Puasa Ramadhan yang berupa kewajiban bagi orang-orang beriman juga memiliki efek positif untuk kesehatan manusia. Demikian pula awāmir (perintah-perintah) lain selalu menyimpan kemaslahatan lahir batin manusia. Pada sisi lain nawāhy (larangan-larangan) secara akurat merusak fisik, moral dan tatanan sosial. Pencurian, korupsi, zina, penganiayaan terhadap makhluk hidup dan perilaku melanggar norma yang lain tentu merusak tatanan individual maupun kolektif.


[1]  Yunasril Ali, Manusia Citra Ilahi, Jakarta: Paramadina, 1997, h. 49.
[2] Ibid., h. 60.
[3] Ibid., h. 111.
[4] Ibid., h. 112.
[5] Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Jakarta: Erlangga, 2006m h. 66.
[6] Yunasril Ali, op.cit., h. 56.
[7] Ibid., h. 119.
[8] Departemen Agama RI, Alqur’an dan Terjemahnya…, h. 435.
[9] Yunasril Ali, op.cit., h. 123.
[10] Departemen Agama RI, op.cit., h. 670.
[11] Yunasril Ali, op.cit., h. 61.
[12] Yunasril Ali, loc.cit.
[13] Ibid., h. 62.
[14] Ibid., h. 63.
[15] Ibid., h. 66.
[16] Ibid., h. 70.
[17] Yunasril Ali, loc.cit.
[18] Mulyadi Kartanegara, op.cit., h. 180.
[19] Barwa Ahmad Tabanah, Muqadimah Ihya’ Ulumudin, Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, tt, h. 37.
[20] Mulyadi Kartanegara, op.cit., h. 185.
[21] Yunasril Ali, op.cit., h. 73.
[22] Ibid., h. 78.
[23] Ibid., h. 81.
[24] Departemen Agama RI, op.cit., h. 13.
[25] Q., s. al-Baqarah / 2: 34.
[26] Q., s. al-A’râf / 7: 12.
[27] Yunasril Ali, op.cit., h. 83.
[28] Musa Asy’arie, Filsafat Islam Sunnah Nabi dalam Berpikir, Yogyakarta: LESFI, 2002, h. 74.
[29] Yunasril Ali, op.cit., h. 93.
[30] Ibid., h. 97.
[31] Ibid., h. 167.
[32] Muslih Ibn Abd ar-Rahman, an-Nur al-Burhany, Semarang: Toha Putra, tt, h. 46.
[33] Abu Bakar al-Makky, Kifayah al-Atqiyā’ wa Minhāj al-Asfiyā’, Semarang: Toha Putra, tt, h. 9.
[34] Departemen Agama RI, op.cit., h. 1084.      




Kamis, 06 Maret 2014

Konsep Manusia Sempurna

 

Dengan berkat Rahmat dan Inayah-Nya semata, manusia telah diciptakan dengan segala kesempurnaan bahkan dinyatakan secara isyarat di dalam firman- Nya: bahwa "manusia adalah makhluk sempurna dan termulia dari seluruh makhluk ciptaan" (QS. 95:4).

Karena hakikat manusia diciptakan tidak lain untuk dijadikan wadah kecintaan Allah (Mounadi; 1987:2). Menurut al-Jilli, nama esensial dan sifat-sifat ilahi pada dasarnya menjadi milik manusia sempurna oleh adanya hak fundamental, yakni sebagai keniscayaan yang inheren dalam esense dirinya. Demikianlah, dengan ungkapan yang sering kita dengar bahwa Tuhan berfungsi sebagai kaca bagi manusia, juga demikian halnya manusia menjadi kaca tempat Tuhan melihat dirinya.

Sebagai kaca yang dipakai seseorang melihat bentuk dirinya dan tidak bisa melihat dirinya itu tanpa adanya kaca tersebut, maka sedemikianlah hubungan yang berlangsung antara Tuhan dan manusia sempurna. Tuhan itu "menyatakan diri" dalam dua cara yakni, dengan berbagai tamsil objektif, ayat-ayat kauniyah, epifani dan secara pribadi bagi pribadi-pribadi pilihan yang paska muthmainnah yakni, Teofani.

Nabi-nabi, Rasul-rasul Allah adalah contoh pribadi pilihan yang layar kesadarannya mendekati layar kesadaran sejernih-jernihnya di sisi-Nya, yakni papan yang sangat mulia Lauh al Mahfudz.

Manusia tidak hanya terdiri dari unsur jasadiyah, tetapi hal yang lebih penting lagi dari jasadiyah adalah keberadaan unsur daya potensi ketenagaan di dalam diri yang menggerakkan dan mengaktifkan jasadiyah, Ketenangan inilah yang harusnya menjadi pusat perhatian manusia, karena tidak ada artinya bila hanya sepihak jasadiyah yang diperhatikan, sementara beberapa unsur di dalam diri yang sifatnya katenangan diabaikan saling berbenturan (Moenadi, 1987:4). Unsur-unsur itu merupakan penentu setimbang tidaknya pertumbuhan unsur daya-potensi ketenagaan di dalam diri manusia. Sedangkan yang dimaksud unsur-unsur ketenagaan di dalam diri itu adalah: unsur ruh, unsur rasa, unsur hati, unsur akal dan yang terakhir unsur nafsu (Moenadi, 1987: 16).

Konsep manusia sempurna seperti yang ditulis Soejono Redjo dalam 'Dongeng Kaca Benggala Ageng' menunjukkan pada penjelasan tentang manusia sempurna yaitu manusia yang lupa akan diri (Soejono, 1922:15) tidak lain hanya mengakui pribadi yang satu tanpa warna dan rupa, namun semua warna dan rupa itu merupakan sifat/watak, yaitu bukan arah atau tempat, namun berdiri ditengah-tengah arah di sepanjang tempat. Adanya kaca benggala itu ibarat sifat/watak manusia yang sudah sempurna, yaitu manusia yang sudah tidak sombong (korup) pada diri sendiri artinya, tidak sekalipun mempunyai niat memamerkan diri, membandingkan diri, Ujub, riya, takabur, dsb. Seperti dijelaskan dalam martabat tujuh dengan kata mudah yang berasal dari istilah muhdats. Mudah terdiri dari: nur, rahsa, ruh, nafsu dan budi. Mudah yang empat kemudian diterangkan sebagai berikut: (1) budi : keadaan pranama, menarik kejelasan kehendak menjadi pangkal pembicara, (2) nafsu : keadaan hawa, menarik kejelasan suara, menjadi pangkal pendengaran, (3) suksma (roh): keadaan nyawa, menarik kejelasan cipta, menjadi pangkal perasaan, (4) Rahasia: keadaan atma, menarik kejelasan kuasa, menjadi pangkal perasaan (Simuh, 1988:313).

Aspek Rahasia dan Budi
Manusia yang sempurna tidak memperlihatkan keadaan dirinya, membandingkan dengan yang lainnya. Keadaan semua orang dirasakan sifatnya pribadi, karena baik dan buruk dirinya tersembunyi, jadi cermin memperlihatkan keadaan orang lain, seperti sama pada dirinya. Cara memandang keadaan satu sama lain itu benar serta tidak melibatkan rahsa. Benar artinya, sesuai dengan kenyataannya. Tidak melibatkan rahasia artinya, tidak senang atau benci dengan yang baik dan buruk atau benar dan salah.

Rahasia itu mungkin sulit untuk dilihat dengan mata, namun manusia biasanya merasakan contohnya kalau panasnya badan bisa disiram dengan air, tetapi kalau panasnya hati tidak. Ada juga apa yang dirasakan hati tidak sama dengan apa yang dirasakan badan seperti: suka, susah, gembira, benci, kagum, menyesal, malu, gugup, takut, khawatir, sedih, iri hati, marah, kasihan, terenyuh dsb, yang demikian itu hanya ada di dalam hati. Rahasia adalah wujud getar (obah-obahan) terkadang juga bisa diam/berhenti (ngumpul). Rasa adalah tempatnya rahasiayang mencakup semua rahsa. Jadi rasa diumpamakan badannya, rahasia diumpamakan tangannya, atau bisa juga rasa diumpamakan pohon dan rahasia diumpamakan cabangnya (Soejono, 1922: 24).

Budi
Budi itu adalah cahaya yang menyinari hati/rohnya manusia, yang berwujud terangnya pikiran (angan-angan). Terangnya pikir diumpamakan rembulan, dan terangnya budi diumpamakan matahari (cahaya rembulan itu sebenarnya adalah cahaya matahari) (Soejono, 1922:25).

Referensi Makalah®
(sebagian dikutip dari sudinco blogspot.com)

Konsep Insan Kamil Menurut Islam

 

Rumi mengatakan, “Sekiranya ia tidak ada, langit dan para malaikat tidak akan memiliki tempat; sekiranya ia tidak ada, maka bumi tidak akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan mengembangkan bunga melati.”

Ia dalam pembicaraan Rumi adalah sosok insan kamil atau manusia sempurna yang telah mencapai derajat yang paling tinggi dari kemanusiaan dan kesempurnaan dirinya dari seluruh makhluk dan mengatasi makhluk lainnya. Ia adalah insan kamil.

Pembicaraan mengenai insan kamil adalah pembicaraan yang menjadi titik tolak dalam pembicaaraan tentang ciptaan-ciptaaan Allah Swt khususnya dalam dunia tasawuf dan filsafat Islam. Karena itu pembicaraan mengenai insal kamil pada khazanah irfan adalah sisi batin dari manusia.

Ada dua karya besar yang berbicara mengenai insan kamil.

Pertama, al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakhir wa al-Awail karya Syekh Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1366-1430 M) dan al-Insan al-Kamil karya Azizuddin Nasafi.

Dalam dunia tasawuf, eksistensi selain Allah adalah eksistensi yang relatif atau nisbi. Pasalnya, segala sesuatu selain Allah Swt adalah pancaran dari diri Allah Swt. Disebutkan juga dalam dunia tasawuf bahwa alam semesta ini atau segala yang berkaitan yang diciptakan oleh Allah Swt, tidak lain adalah menifestasi dari Allah Swt. La maujudan illallah dan la mahbuban illallah dan la maqshudan illallah.

Allah mengambarkan semua ini sebagai tanda-Nya atau ayat-Nya seperti dikatakan dalam ayat, Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, (QS. 41:53)

Mengapa Allah mengatakan semua ini sebagai tanda bagi diri-Nya? Bukanlah hal ini adalah riil-Nya. Namun, ia hanyalah dapat mengantarkan kita kepada pemahaman sesuatu yang diisyaratkan-Nya dan sesuatu di balik dari semua ini tidak lain adalah Allah Azza wa Jalla.

Karena itu, dalam keyakinan para arif dan sufi, apa yang muncul dari alam ini adalah wujud yang tidak nyata, hanya sebagai sebuah isyarat saja. Bahkan diri dan eksistensi kita bukan disebabkan oleh dirinya, melainkan oleh sesuatu yang lain itu. Dari sinilah pembicaraan mengenai insan kamil itu muncul.

Pembicaraan mengenai insan kamil ini menjadi sesuatu penting disebabkan, pertama, orang hanya dapat mengenai hakikat Allah yang sejati melalui pemahamannya terhadap insan kamil. Yang sebelumnya mungkin manusia mengenai Allah melalui bentuk dari tanda-tanda-Nya atau ciptaan-ciptaan-Nya, bukan melalui hakikat yang diisyaratkan-Nya. Hal ini disebabkan bahwa makrifat kita belum sempurna.

Para sufi pun mengkritisi para filosof, yang berbasis pemahaman akal, dengan mengatakan bagaimana mungkin Anda memahami cahaya Allah dengan cahaya lilin, bagaimana mungkin pemahaman makhluk ini digandengkan dengan Tuhan. Bagaimana Anda akan memahami cahaya matahari yang luar biasa melalui cahaya lilin? Anda harus membuka jendela rumah Anda dan di situ Anda akan menemukan cahaya matahari yang sesungguhnya. Anda harus mengangkat pemahaman Anda dari akal ini dan membuka pintu hati Anda. Diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Ali as, ”Bagaimana mungkin engkau menyembah Tuhan yang tidak engkau saksikan?” Imam Ali berkata, ”Bagaimana mungkin aku menyembah Dia sementara aku belum menyaksikan-Nya?”

Dalam hal ini, Imam Ali sudah mencapai derajat kesempurnaannya. Derajat kedekatan kita ditentukan oleh kedekatan kita dalam mengenal-Nya.

Yang kedua adalah kita mengenali hakikat kita yang sesungguhnya. Ke mana kita akan berjalan atau kita memiliki tujuan dalam perjalanan hidup kita? Tujuan yang paling mendasar dari hidup kita adalah Allah Swt. Bagaimana kita mampu berjalan menuju Allah?

Posisi insan kamil ini adalah orang-orang yang sudah melakukan proses perjalanan itu sehingga ia mampu mengikuti-Nya. Kita selalu berdoa, ”Bimbinglah kami ke jalan yang lurus.” Jalan siapa itu? Adalah jalan orang-orang yang Kami beri kenikmatan dan mereka tidak berada dalam kesesatan.

Poin penting ketiga adalah kita mampu melihat realitas diri Muhammad, diri para nabi para rasul dan kekasih Allah dengan makna yang benar. Apakah pandangan mereka salah? Dikarenakan pandangan mereka (orang awam) selama ini adalah pandangan dalam bentuk fisiknya.

Berdasarkan tiga poin ini maka pembicaraan mengenai insan kamil ini menjadi penting. Pertama, adalah hakikat penciptaan manusia; kedua, tentang khalifah dan hakikat insan kamil; dan ketiga, ketergantungan seluruh semesta terhadap insan kamil dalam perjalanan menuju Allah Swt.


*Hakikat Penciptaaan Manusia
Bahwa Allah Swt pada hadis Qudsi berfirman, ”Aku adalah pembendaharaan yang tersembunyi dan cinta untuk dikenal, maka Aku ciptakanlah beragam ciptaan.”

Allah mengisyaratkan tentang diri-Nya dengan kata Dia (Yang Tersembunyi), dalam ketunggalan-Nya, karena kecintaan diri-Nya untuk dikenal. Ibarat manusia yang selalu bercermin terhadap dirinya disebabkan manusia mencintai dirinya atau sebagai dorongan cinta terhadap dirinya dan beragam pengetahuaan manusia tentang dirinya itu muncul. Keberagaman pengetahuan yang muncul dari diri-Nya inilah memunculkan keberagaman hal. Allah Swt ketika memahami diri-Nya, munculnya pengetahuan tentang diri-Nya, baru dari pengetahuan inilah, muncul alam semesta ini. Maka Allah mengatakan, ”Maka Aku ciptakan beragam ciptaaan”, baru fase atau proses ketiga muncul.

Setiap kemunculan dari diri Allah itu, maka muncullah persepsi nama Allah yang indah dan mengantarkan pada kesempurnaan. Dalam ayat disebutkan, Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik). (QS 17: 110)
Karena itu, beragam nama di sini, setiap nama ini memanifestasikannya ke alam semesta. Setiap alam ini menunjukkan gambaran atau manifestasi nama Allah Swt.


*Hakikat Manusia Dalam Matsnawi Rumi
“Karena itu, sementara dalam bentuk engkau adalah mikrokosmos, pada hakikatnya engkau adalah makrokosmos. Tampaknya ranting itu tempat tumbuhnya buah padahal ranting itu tumbuh justru demi buah. Kalau bukan karena mengharap dan menginginkan tubuh, betapa pekebun itu akan menanam pohon. Jadi sekalipun tampaknya pohon itulah yang melahirkan buah (Tapi) pada hakikatnya (justru) pohon itulah yang lahir dari buah.”

(al-Mastnawi 4:30)
Maulana Jalaluddin Rumi al-Balkhi adalah seorang arif besar. Beliau lebih dikenal dengan Maulawi Rumi, dan merupakan sastrawan Persia abad ke tujuh Hijriah. Salah satu karya masterpiece-nya adalah Matsnawi, yang isinya membahas tentang banyak hal. Dalam buku Menapak Jalan Spiritual, Murtadha Muthahhari mengatakan, “Matsnawi merupakan samudra filsafat dan irfan, yang sarat dan penuh dengan berbagai hal yang pelik yang bersifat spiritual, sosial dan irfan.”

Pembahasan tentang hakikat manusia adalah salah satu bahasan khusus yang dibahas oleh Rumi dalam Matsnawinya. Memahami hakikat manusia sangatlah sulit bagi sebagian dari kita. Padahal itu merupakan hakikat dirinya. Imam Khomeini pernah mengatakan “Menjadi ulama itu gampang tapi menjadi manusia itu amatlah sulit.” Dengan mengetahui esensi manusia akan mengantarkan seseorang kepada pengetahuan akan Tuhan.

Allah mengungkapkan tanda keagungan dan kekuaasaan-Nya melalui alam dan dalam diri manusia. Sehingga kalau kita mengetahuinya dengan baik maka hidup kita pun akan baik. Allah berfirman:

“Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat (Tanda-tanda Kekuasaan) kami di ufuk (tepi langit) dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran ini sebenarnya (dari Allah). Tidakkah cukup bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-Ankabut : 53)

Manusia adalah makhluk yang unik. Hingga kini fisiknya saja masih diteliti dan masih banyak rahasia yang belum terpecahkan. Telebih lagi dari sisi jiwanya. Yang merupakan inti dari segala hal. Dalam hadis banyak disebutkan tentang keutamaan ma’rifatun nafs ini (pengetahuan tentang hakikat diri). Misalnya, Imam Ali berkata,

“Barang siapa yang mengetahui hakikat dirinya, maka dia telah mencapai puncak setiap makrifah dan ilmu.”

“Janganlah kalian bodoh dengan tidak mengetahui hakikat diri kalian, karena kalau kalian bodoh dengan itu berarti kalian bodoh dengan segala hal.”

“Cukuplah pengetahuan seseorang itu kalau mengetahui hakikat dirinya dan cukuplah kebodohannya kalau tidak tahu akan hakikat dirinya.”

Maulawi Rumi adalah termasuk orang yang mengetahui hakikat dirinya, sehingga dia mencapai puncak makrifat dan keyakinan. Sebagaimana yang diutarakan dalam bait-bait syairnya. Dalam bait pertama dia mengatakan:

“Karena itu, sementara dalam bentuk engkau adalah mikrokosmos, pada hakikatnya engkau adalah makrokosmos.”


Dari segi fisiknya, manusia adalah bagian dari makrokosmos, karena kita hidup di alam. Kita membutuhkan makan, kita membutuhkan air, kita perlu sayuran, kita pun perlu untuk makan daging. Apakah kebutuhan kita akan semua itu secara fitri dan tidak bisa dilepaskan sampai kapan pun? Atau makanan hanyalah sebagai penunjang saja agar kita bisa bertahan hidup? Dan alam diciptakan sebagai penunjang dalam hidup manusia?

Rumi mengatakan bahwa dalam hakikatnya manusia, (bukan fisiknya) adalah makrokosmos. Kita adalah alam lain yang lebih besar dari alam ini. Sebagaimana perkataannya Imam Ali,

“Apakah kalian mengira kalian, hanya tubuh kecil ini, padahal kalian adalah alam yang sangat besar.”

Aneh memang manusia itu lebih banyak meneliti hal-hal diluar dirinya sedangkan hakikat dirinya sendiri tidak pernah diteliti, tidak pernah mencoba meneropong kedalam jiwanya. Selanjutnya Maulawi Rumi menjelaskan lebih jauh dengan sebuah perumpamaan:

“Tampaknya ranting itu tempat tumbuhnya buah padahal ranting itu tumbuh justru demi buah.”

Beliau umpamakan bahwa manusia itu ibarat buah, dan buah merupakan hasil akhir dan harapan petani penanam buah. Sedangkan alam ibarat ranting, ranting tercipta demi buah, ranting hanyalah sebagai wasilah untuk tumbuhnya buah. Jadi yang paling penting itu adalah buahnya bukan ranting atau pun pohon.

Sebagaimana sering disebutkan dalam Al-Quran bahwa alam diciptakan merupakan tanda dari kasih sayang Allah akan manusia. Agar manusia bisa memanfaatkannya untuk lebih mendekatkan dirinya kepada Allah. Jadi inti dari itu semua adalah alam diciptakan untuk manusia, yang harus dijadikan sebagai perantara untuk mencapai ridha Allah.

Tapi sayang berapa banyak dari manusia ini yang menjadikan alam, materi, kekayaan sebagai tujuan bukannya sebagai perantara penghantar kepada Tuhan.

Dan akibat dari itu adalah penyimpangan dan keserakahan untuk mendapatkan kekayaan dengan menggunakan segala cara. Kita terkadang melebihi binatang untuk mendapatkan hal yang kita inginkan. Kita banyak melakukan penyelewengan dalam menggunakan alam. Yang semestinya kita gunakan untuk kemajuan kemanusiaan kita malah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan demi menguasai alam. Sebagaimana Allah berfirman,

“Apabila kami berikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan darinya (tidak berterima kasih) tapi apabila ia tertimpa kejahatan, ia (berdoa) dengan doa yang panjang.”

Tubuh kita hanyalah perantara, karena kita hidup di alam fisik, alam yang senantiasa bebenturan dengan materi, Rumi melanjutkan:

“Kalau bukan mengharap dan menginginkan tubuh betapa pekebun itu akan menanam pohon.”


Pohon hanya sebagai perantara sang petani untuk mendapatkan buah, karena buah tidak mungkin ada tanpa adanya pohon. Begitu juga hakikat manusia itu tidak akan bercahaya tanpa melalui perantara tubuh kasar ini, tubuh harus mengikuti ruh, dan harus seiring dengan ruh,jangan sampai tubuh dan tuntutannya (hawa nafsu) yang mengendalikan.

Kalau kita pandang sekilas nampaknya kita bagian dari alam, kita tidak bisa lepas dari alam, tapi kalau kita teliti dan mencoba menganalisis lebih jauh rahasia-rahasia alam maka akan nampak dan akan kita ketahui bahwa alam diciptakan untuk kita, alam berasal dari kita, alam sebagai pemandu dan pengingat kita akan keagungan dan kebesaran sang pencipta, sepertinya pohon tumbuh untuk melahirkan buah padahal pohon asalnya dari buah. “Jadi sekalipun pohon itu tampaknya yang melahirkan buah (tetapi) pada hakikatnya justru pohon itulah yang lahir dari buah.”

Maulawi belum menerangkan secara rinci akan hakikat manusia, dia baru menerangkan bahwa kita adalah alam yang lain (makrokosmos lain) dan bukannya bagian dari alam, karena alam yang ini diciptakan demi cintanya Allah pada manusia sebagai bukti, pengantar dan pengingat akan kebesaran-Nya.

Hakikat manusia dalam kaca mata Rumi adalah debu, debu yang mengepul ketika kuda lewat, debu yang mengecap sepatu kuda ketika kaki kuda menginjaknya.

Debu yang diinjak kaki sang kuda akan mengecap kaki kuda karena tidak mungkin jika debu diinjak kaki kuda menimbulkan tanda dan cap yang lain, bukan kaki kuda. Manusia seharusnya menjadi khalifah di alam dan bukannya perusak alam. Manusia seharusnya merupakan Tajalli (Manisfestasi) dari keagungan sifat-sifatNya. Manusia seharusnya menjadi khalifah dan duta kebesaran-Nya. Adakah manusia yang seperti itu?

Jelas ada karena hakikat manusia yang sebenarnya adalah mereka, mereka yang sudah mencapai maqam kedekatan kepada-Nya, merekalah orang-orang yang senantiasa menjaga bumi, menjaga kelestarian alam dan penghuninya, merekalah yang senantiasa mengingatkan kita kepada Pencipta alam yaitu Allah, merekalah para Nabi, para Imam dan para aulia Allah.

Kita harus menjadi debu di kaki-Nya. Karena seharusnya setiap individu adalah menjadi debu di kaki-Nya. Agar kita menjadi hamba-Nya yang berserah diri seperti para wali Allah, supaya kita menjadi mahkota diatas kepala raja, keagungan di atas keagungan.

“…Setiap individu adalah debu, Hanya telapak kaki kuda itu menjadi cap kaki-Nya di atas debu, jadilah debu di kaki-Nya demi cap kaki kuda itu agar engkau dapat menjadi Laksana mahkota di atas kepala raja.”

Namun bagaimanakah caranya untuk mengetahui hakikat diri ini, setelah kita mengetahui bahwa kita adalah makrokosmos dan alam sebagai wasilah kemudian hakikat kita adalah debu di kaki-Nya? Dan bagaimanakah agar supaya hakikat diri ini senantiasa ada dan terpatri kuat dalam jiwa? Sehingga kita bisa menjadi mahkota di atas kepala raja?

Karena mungkin saja banyak yang mengetahui hakikat diri tapi sayang hanya sekedar isapan jempol belaka, karena makrifat ini memiliki standar dan ciri tersendiri yang akan selalu tampak dalam sikap dan perbuatan kita sehari-hari, kita hanya terbiasa melihat bulan yang ada di air. Kita terpaku dan terpana dengan melihat indahnya rembulan yang ada di air padahal hakikat bulan ada di langit.

Maulawi Rumi dalam perkataannya yang lain, menerangkan tentang cara untuk mencapai makrifah diri ini, dia mengatakan bahwa untuk mencapai makrifah ini adalah dengan cara Taskiyatun nafs, membersihkan diri dari debu keegoisan, mensucikan diri dari lumpur kemaksiatan dan mengosongkan diri dari selain-Nya.

Senantiasa menghiasi diri dengan mengingat-Nya.menerangi jiwa dengan selalu berbuat baik, dan menanamkan asma-NYA dalam jiwa agar tidak gelap.

Sehingga dengan jelas akan terlihat jalan dan tidak pernah tersandung, jalannya akan senantiasa lurus dan tidak pernah bengkok karena selalu dalam sinaran-Nya.

Hanya dengan mengosongkan diri dari selain-Nya dan menghiasi jiwa dengan keagungan-Nya kita bisa tahu siapa diri ktia, apa hakikat diri kita yang sebenarnya. Kita harus senantiasa berkontemplasi agar tahu hakikat diri kita dengan pasti. Rumi bertutur:

“Oh sucikanlah seluruh jiwamu dari debu keegoisan bebaskanlah dirimu dari sifat mementingkan diri sendiri sehingga kau lihat sendiri hakikat dirimu bersih tanpa noda, lihatlah dalam lubuk hatimu pengetahuan para nabi tanpa buku, tanpa perantara, tanpa guru.”

Itulah sosok Maulawi Rumi, Wali Allah yang telah mengetahui dirinya, telah mengosongkan dirinya dari selain-Nya, telah sampai kepada kedudukan debu di kaki-Nya. Sehingga dengan lancar dan gamblang menggambarkan kepada kita cara mengetahui dan menjadi debu di kaki-Nya. Kita sebagai manusia yang tidak mengetahui kebutuhan jasadi saja harus kembali merenungi perkataan sang maulawi, agar kita seperti dia, menjadi debu di kaki-Nya.

Akhirnya Maulawi mengungkapkan kekesalannya dengan mengungkapkan sebuah cerita, yaitu dia merasa kesal karena tidak pernah bertemu dengan manusia.

Dia hanya selalu bertemu dengan hantu dan hewan-hewan yang menakutkan. Dia ingin sekali bertemu dengan manusia. Dan ingin selalu mencarinya, walau pun butuh waktu yang lama. Dia mengungkapkan kekesalannya dengan syairnya :

“Kemarin sang tuan jalan-jalan keliling kota, dan lentera di tangannya. Ia berkata, “aku bosan dengan hantu dan hewan, aku rindu bertemu manusia, hatiku jenuh melihat sahabat patah semangat. Aku ingin melihat singa Tuhan rastam putra zal, mereka berkata : “kami telah mencarinya dalam waktu yang panjang ia tak ditemukan ia Menjawab, “Sesuatu yang tak ditemukan itulah yang senantiasa aku cari.”

Sumber: Majalah Syi’ar terbitan Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta

Insan Kamil menurut Murtadha Muthahhari


Kamal atau kamil digunakan untuk sesuatu yang utuh dan rampung, dalam tingkat atau derajat yang lebih tinggi, bahkan dari yang tinggi ini ada yang lebih tinggi lagi dan seterusnya. Kamal atau kamil adalah sifat bagi sesuatu secara vertikal, sedangkan taam adalah sifat bagi sesuatu secara horisontal. Ketika sesuatu telah sampai pada batas akhirnya atau selesai secara horisontal, maka dapat dikatakan telah menjadi ta’am, dan ketika sesuatu itu bergerak secara vertikal, maka ia telah memperoleh kamil.

Insan Kamil secara umum, adalah manusia ta’am yang mulai melangkah secara vertikal, sehingga menjadi kamil, lebih kamil lagi dan seterusnya hingga pada batas akhir kesempurnaan ketika tak seorangpun dapat menjangkau kedudukannya. Manusia yang telah mencapai tingkat itu adalah manusia yang paling sempurna.

Insan Kamil menurut Murtadha Muthahhari adalah manusia teladan atau manusia ideal. Manusia seperti halnya makhluk-makhluk yang lain, ada yang sempurna, ada yang tidak, ada yang sakit, yang sehat, cacat dan ada juga yang utuh. Manusia sehat sendiri terbagi menjadi dua bagian yaitu manusia sehat yang kamil dan manusia sehat yang tidak kamil.

Dalam pandangan Islam, mengenal dan mengkaji atau membicarakan Insan Kamil atau manusia teladan itu adalah wajib hukumnya, karena merupakan contoh, dan standar dan model bagi setiap muslim. Keterangan lebih lanjut diungkapkan oleh Murtadha Muthahhari bahwa jika hendak menjadi seorang sempurna dan ingin mencapai kesempurnaan, maka terlebih dahulu kita harus mengenal manusia sempurna itu, bagaimana jiwa dan mentalnya, apa ciri-cirinya.

Dalam perspektif Murtadha Muthahhari, manusia sempurna itu adalah manusia teladan, unggul, luhur pada semua nilai-nilai insani dan selalu menang di medan-medan tempur kemanusiaan. Di samping itu manusia tersebut seluruh nilai insaninya berkembang secara seimbang dan stabil serta tidak satupun dari nilai-nilai yang berkembang itu tidak selaras dengan nilai-nilai yang lain. Dengan demikian menurut Murtadha Muthahhari manusia yang kamil memiliki jiwa dan mental yang sehat yaitu yang seluruh nilai insaninya berkembang secara seimbang dan stabil dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai yang lain.

Murtadha Muthahhari berpendapat bahwa manusia memiliki dua sisi nilai dalam dirinya, yakni pribadi dan kepribadian, atau badan dan ruh, atau fisik dan mental, dimana nilai yang satu berbeda dengan yang lainnya. Menurutnya sebagian orang yang menganggap bahwa roh, kepribadian atau mental manusia seratus persen mengikuti badan, fisik atau raganya, telah membuat suatu kesalahan yang besar.

Roh manusia bersifat independen, terpisah dari badan dan (sama sekali) tidak mengikuti badan secara mutlak. Demikian pula badan ia berdiri sendiri dan tidak mengikuti jiwa secara mutlak akan tetapi selalu satu sama lain saling mempengaruhi dan berinteraksi.

Menurut Murtadha Muthahhari, untuk bisa mencapai derajat Insan Kamil, manusia tersebut harus lebih dahulu mengenal pribadi-pribadi yang memiliki kategori Insan Kamil. Kategori Insan Kamil yaitu pertama, selalu menang dalam medan pertempuran kemanusiaan, artinya ia mampu mengendalikan nafsu yang ada pada dirinya. Kedua, nilai insaninya berkembang secra seimbang. Ketiga, nilai insaninya stabil dan tidak satupun dari nila-nilai yang berkembang itu tidak selaras dengan nilai-nilai yang lain. Oleh sebab itu, syarat menjadi Insan Kamil adalah dengan mengenal Insan Kamil itu sendiri.

Lebih lanjut Murtadha Muthahhari menyatakan bahwa untuk mengenal Insan Kamil ada dua cara, yaitu :

Pertama, dengan melihat bagaimana al-Quran dan Hadis menggambarkan manusia sempurna tersebut (walaupun al-Quran dan Hadis sendiri tidak menyebutkan istilah Insan Kamil, akan tetapi menggunakan istilah Muslim dan Mukmin. Dalam konteksnya dengan istilah Muslim dan Mukmin, bahwa kata Mukmin (jama’nya : Mukminun atau Mukminin) ialah orang yang beriman, yaitu orang yang menyatakan pengikraran terhadapa rukun iman dengan lisan yang bertolak dari qolbu yang mendorong pengamalan. Sedangkan kata Muslim (jama’nya : Muslimin atau Muslimun) ialah orang yang pasrah diri kepada ketentuan Allah dengan sepenuh pengabdian.

Kedua, mengenal Insan Kamil dengan cara mengenal langsung individu-individu yang meyakinkan bahwa mereka adalah orang-orang yang terbina sedemikian rupa sebagaimana yang diinginkan oleh al-Quran dan hadits. Mereka inilah wujud nyata dari Insan-Insan Kamil Islam, karena Insan Kamil menurut Islam bukan sekedar ide atau khayalan yang tidak akan pernah kita jumpai dan hanya merupakan hasil rekayasa. Insan Kamil memang benar-benar ada dan nyata, dalam tingkat yang rendah maupun dalam tingkat yang lebih tinggi. Rasulullah saw sendiri adalah potret utuh Insan Kamil.

Menurut Murtadha Muthahhari, ciri Insan Kamil yaitu mampu menyeimbangkan dan menstabilkan serangkaian potensi insaninya. Kamal atau kesempurnaan manusia terletak pada kestabilan dan keseimbangan nilai-nilainya.

Untuk lebih dapat memahami masalah keseimbangan, lebih lanjut Murtadha Muthahharimemberikan gambaran dengan analog pasang surutnya air laut. Laut senantiasa dalam keadaan pasang-surut bergelombang dan selalu dinamis. Ruh manusia dan masyarakat manusia tak ubahnya seperti laut yang selalu bergelombang terkadang pasang dan terkadang surut. Demikian pula halnya dengan nilai-nilai insani. Manusia mempunyai suatu kecenderungan normal yang tidak bertentangan dengan agama, bahkan dianjurkan oleh agama. Namun bisa jadi dia terjerat dan terjerumus jauh sekali ke dalam satu nilai saja dalam bentuk kecenderungan yang berlebihan. Akibatnya, ia lupa dan lalai terhadap nilai-nilai insaninya yang lain, sehingga keseimbangan nilai-nilai insaninya terganggu, seperti manusia yang hanya sebagian tubuhnya saja berkembang.

Keseimbangan antara nilai-nilai insaniyah dalam diri manusia menurut Murtadha Muthahhari sangat penting. Hal ini dikarenakan manusia dikatakan dapat meraih predikat Insan Kamil apabila ia mampu mengembangkan semua kualitas yang baik secara seimbang. Kualitas itu boleh jadi cinta kasih, intelek, keberanian, kejujuran atau kreativitas. Manusia yang hanya mengembangkan cinta saja dengan mengesampingkan intelek bukanlah Insan Kamil akan tetapi ia adalah sufi yang ekstrim. Manusia yan memuja akal secara berlebihan juga bukan Insan Kamil, ia merupakan filosof yang kering.

Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Murtadha Muthahhari, Kritik Islam Terhadap Faham Materialisme, terj. Achsin Muhammad, (Jakarta: Risalah Massa, 1992).
Murtadha Muthahhari, Manusia Seutuhnya, terj. Abdillah Hamid Ba’abud, (Bangil: YAPI, 1995).
Sayyid Muhammad Alwy al Maliky, Insan Kamil Sosok Keteladanan Muhammad SAW, terj. Hasan Baharun, (Surabaya: Bina Ilmu, 1999).
Ahmad Muhammad al Hufy, Keteladanan Akhlaq Nabi Muhammad SAW, terj. Abdullah Zakiy al Kaaf (Bandung: CV.Pustaka Setia, 2000).
Abi Husain Ibnu Hajaj Al Qushary An-Naisyabury, Shahih Muslim, (Beirut : Dar Al Fikr, t.th).
Murtadha Muthahhari, Manusia Sempurna, terj. M Hashem, (Jakarta: Lentera, 2003).

Sumber

Rabu, 05 Maret 2014

Mengingat Alloh



Dari Zaid bin Haritsah –maula NabiShallallahu 'Alaihi Wasallam- berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Siapa yang membaca Asataghfirullaah Laa Ilaaha Illaa Huwal Hayyal Qayyuma wa Atuubu Ilaihi maka akan diampuni dosanya walaupun ia pernah lari dari medan perang.”
(HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, al-Thabrani, Al-Hakim dan Ibnu Abi Syaibah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullahdi Shahih Abi Dawud dan Shahih al-Tirmidzi)

Terdapat tambahan dalam sebagian riwayat –seperti dalam Sunan Al-Tirmidzi & al-Hakim-, “Astaghfirullah Al-‘Adzim”.

“Asataghfirullaah Laa Ilaaha Illaa HuwalHayyal Qayyuma wa Atuubu Ilaihi - Aku mohon ampun dan bertaubat kepada Allah yang tiada tuhan (berhak disembah) kecuali hanya Dia, Dzat Maha hidup kekal dan berdiri sendiri.”

Salah satu kekuatan yang dapat menolong kita dalam melakukan peperangan antara kebaikan dan keburukan yang terjadi di dalam diri kita, adalah “mengingat Allah” dengan lisan dan hati. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).”
(QS. Al-Ankabut : 4)

Kata-kata“Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain)”menjadi bukti bahwa zikir (mengingat Allah) itu mencakup shalat, zakat, haji, amar makruf dan semuanya, dilakukan semata-mata untuk mengingat Allah.

“Sesungguhnya Aku ini adalah Alloh, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”
(QS. Thaha : 41)

Artinya, tidak ada Tuhan yang memberikan pengaruh di alam wujud kecuali Aku, dan wajib atas kamu beribadah kepada-Ku, dengan tujuan mengingat Aku, yang merupakan sebesar-besarnya kewajiban.

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.”
 (QS.Al-Muzammil: 5-8)

Ini berarti, zikir (mengingat Alloh) lebih tinggi daripada perkataan berat yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya Al-Musthafa SAW. Terkadang zikir dilakukan dengan hati atau dengan lisan, dan terkadang disertai dengan kekhusyukan dan terkadang juga tidak.

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab : 41)

Kita harus berzikir kepada Alloh dengan zikir sebanyak-banyaknya, dan dilakukan dalam setiap keadaan, serta dengan segala cara yang layak. Di samping itu Anda juga harus bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa Al-Quran Al-Karim sangat menekankan sekali kewajiban terbesar ini, dan kita harus melaksanakannya sehingga kita dapat memperoleh pertolongan dari Allaoh SWT dalam mempermudah – setidak-tidaknya – urusan-urusan dunia kita, dan Dia akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang senantiasa berzikir kepada-Nya di alam akhirat. Karena perintah Alloh SWT senantiasa dibarengi dengan pahala dan ganjaran.

Barangsiapa ingin bisa mengalahkan hawa nafsunya, maka dia harus memilih sebuah zikir dan mengucapkannya sehari-hari, dan pada setiap saat tidak ada satu pun waktu yang berlalu tanpa berzikir kepada Alloh. Sebagian orang memilih zikir yang berbunyi La Ilaha Illallah (tiada Tuhan kecuali Alloh), dan mengulang-ulanginya di dalam setiap kesempatan. Sebagian yang lain ada yang memilih kata-kata La Hawla wa La Quwwata Illa Billahil ‘Aliyyil ‘Azhim (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuatan Alloh yang Mahatinggi dan Mahaagung). Sebagian orang lagi mengulang suatu ayat Al-Quran Al-Karim, dan begitu seterusnya. Perlu kita ketahui bahwa zikir-zikir ini menutup pintu bagi setan, baik setan dari jenis jin maupun dari jenis manusia. Dan zikir-zikir ini juga mengeluarkan penzikir dari keadaan was-was, penuh ragu, gelisah dan pikiran-pikiran yang meresahkan, yang biasa menimpa manusia di dalam kehidupan dunia yang hina ini. Seutama-utamanya zikir adalah ucapan kalimat La Ilaha Illallah, karena kata “Alloh” adalah berarti “Zat” yang mana seluruh makhluk menghambakan diri kepada-Nya tatkala mereka mempunyai kebutuhan dan menghadapi kesulitan, pada saat mereka telah putus pengharapan dari segala sesuatu selain-Nya.

Seorang manusia dapat memanfaatkan waktu ketika dia menempuh perjalanan dari rumah ke tempat kerja dengan mengucapkan salah satu bentuk zikir tadi atau semacamnya. Karena, riwayat-riwayat menyebutkan, bisa saja seorang pemuda keluar dari rumahnya menuju tempat pekerjaannya dalam keadaan taat beragama, namun kemudian pada sore harinya ketika dia kembali ke rumah dia dalam keadaan kafir. Inilah yang terjadi pada banyak pemuda, yang disebabkan mereka mendengar hal-hal syubhat yang berlabel kebenaran, padahal sesungguhnya itu tidak lain semata-mata kebatilan, sehingga dengan begitu agamanya menjadi guncang. Kelemahan akidahnya dan keminiman ilmunya juga mendorong kepada hal itu. Dan yang demikian itu tidak mendatangkan kerugian sedikit pun kepada Alloh.

Seorang teman yang buruk dapat menyelewengkan sahabatnya kepada jalan yang tidak terpuji. Pada bulan Ramadhan, seorang teman yang jahat bisa saja menarik sahabatnya untuk berbuka puasa di siang hari, atau melakukan perbuatan-perbuatan dosa besar lainnya. Oleh karena itu, saya mengingatkan kepada diri saya dan juga kepada para pembaca yang mulia tentang perlunya menjauhi bisikan-bisikan yang terkadang dibisikkan oleh seorang teman yang jahat, meskipun pada dasarnya kita merasa cukup dari bisikan-bisikan itu dengan adanya zikir yang Allah anugrahkan kepada kita, dan menjadikannya sebagai hadiah terbesar bagi hamba-hamba-Nya yang berpegang teguh kepada ajaran-Nya.

Terkadang seseorang dengan perantaraan sebuah zikir dapat berubah menjadi seorang mukmin yang mukhlis, yang mempunyai kedudukan yang sedemikian tinggi sehingga menyamai kedudukan malaikat yang ada di langit dan yang ada di bumi. Kalimat La Ilaha Illallah yang keluar dari mulut yang ikhlas semata-mata karena Allah, dapat berubah menjadi sebuah gunung yang tinggi dan kokoh. Zikir mempunyai rasa dan kedudukan yang khas. Karena, zikir mempunyai andil dalam merubah pikiran, hati dan amal perbuatan menjadi baik.

Zikir ada dua macam :Pertama, zikir dengan lisan, dan Kedua, zikir dengan hati.

Para pakar ilmu jiwa menyebutkan begitu besarnya pengaruh zikir lisan kepada jiwa manusia. Zikir lisan masuk ke dalam hati melalui talqin (pendiktean ucapan lisan), dan ini merupakan salah satu macamnya. Ucapan zikir La Ilaha Illallah sebanyak seribu kali, bisa saja Anda ucapkan dan Anda baca secara berulang-ulang tanpa memahami maknanya, namun secara tiba-tiba Anda dapat merasakan pengaruhnya di dalam hati Anda. Yang demikian itu dapat kita umpamakan seperti api dan batu bara. Batu bara yang diletakkan di tengah-tengah api, tidak bisa terbakar kecuali sedikit demi sedikit, untuk kemudian secara tiba-tiba batu bara itu menyala dan berubah seluruhnya menjadi api.

Jika Anda diperintahkan untuk membaca Al-Quran sementara Anda berada pada waktu-waktu luang Anda di sekolah, di kampus atau waktu-waktu luang Anda yang lain, maka janganlah Anda malas, dan kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada Anda, karena selang beberapa waktu setelah sebagian kalimat-kalimat Al-Quran tertanam di hati Anda, niscaya Anda akan dapat menyaksikan pengaruh bacaan Al-Quran ke dalam hati Anda.

Barangsiapa yang Al-Quran tertanam kokoh di hatinya, maka pasti dia akan sampai kepada keridhaan Allah SWT. Demikian juga halnya dengan tasbih Az-Zahra, yang dibaca setiap selesai shalat fardhu. Yaitu tasbih yang terdiri dari bacaan Allahu Akbar sebanyak 34 kali, bacaan Alhamdulillah sebanyak 33 kali dan bacaan Subhanallah sebanyak 33 kali. Mungkin Anda tidak meyakini pentingnya bacaan Allahu Akbar sebanyak 33 kali, namun pengalaman membuktikan pentingnya bacaan ini dan pengaruhnya ke dalam hati seorang Muslim.

Kata-kata yang diucapkan dapat memberikan pengaruh negatif atau pun pengaruh positif kepada hati. Terkadang kata-kata itu menyebabkan hati menjadi keras atau pun sebaliknya. Demikian juga halnya dengan zikir. Zikir memberikan pengaruh kepada hati manusia. Dia memasukkan cahaya ke dalam hati. Islam memberikan perhatian yang khusus kepadazikir lafzhi, melebihi perhatian yang diberikan Islam kepada kewajiban-kewajiban yang lain. Yang demikian itu dilakukan adalah senantiasa mengingatkan hati kepada Allah Yang Mahamulia dan Mahakuasa.

Betapa indah kata-kata Al-Quran yang berbunyi,
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah.”
 (QS. An-Nur : 37).

Ayat ini menerangkan kepada kita mengenai pentingnya zikir dan pengaruhnya yang hebat kepada jiwa manusia, untuk bisa sampai ke tempat yang diridhai oleh Alloh SWT.

Seorang pezikir dapat sampai kepada suatu keadaan di mana segala sesuatu di dalam hidupnya adalah zikir kepada Alloh. Sedang berada di rumah dia ingat Alloh, dan begitu juga ketika sedang pergi ke tempat kerja. Ketika tengah makan, makanan yang dimakannya mengingatkannya kepada nikmat Alloh SWT yang lain. Bahkan terkadang seorang manusia sampai kepada tingkatan yang lebih tinggi lagi, yaitu di mana dia mengingat Kekasihnya Alloh SWT hingga di dalam tidurnya.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”
(QS. Ar-Ra’d : 28)

Kata ala (ingatlah) di dalam ayat ini adalah untuk penegasan, begitu juga bentuk jar majrur yang datang sesudahnya, sehingga ayat ini kira-kira berbunyi, “Tidak diragukan bahwa mengingat Allah itu menentramkan hati, sehingga tidak ada itu yang namanya keresahan dan kegelisahan.”

Aku arahklan pandanganku ke padang pasir, maka aku pun melihat Engkau
Aku selami kedalaman lautan, dan aku pun melihat Engkau
Setiap kali aku melihat gunung, daratan dan lembah
Maka aku pun tahu bahwa semuanya itu
Sebagai petunjuk akan keindahan Wajah-Mu.

“Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.”
 (QS. Fushshilat : 53)

Di dalam ayat tersebut juga terdapat penekanan. Dengan penekanan ini Allah SWT hendak menjelaskan bahwa penyebutan ayat-ayat yang tentang ufuk ini adalah supaya manusia memahami alam mikro, dan supaya manusia mengetahui bahwa tidak ada penolong atau pun pencipta selain dari Allah SWT. Seorang yang pandai, mengetahui betul bahwa untuk bisa melihat Alloh SWT di ufuk dan di dalam diri kita sendiri, tidak mungkin dapat dilakukan kecuali dengan zikir lafzhi (zikir dengan ucapan). Oleh karena itu, kita harus mengarahkan pandangan kita dan memperhatikan ayat-ayat Allah yang tidak terhitung jumlahnya, supaya kita mengetahui bahwa keberadaan ayat-ayat Allah ini menjadi petunjuk bagi keberadaan penciptanya.

Ya Alloh, berikanlah kekuatan kepada kami untuk bisa berzikir lafzhi dan berzikir qalbi, demi hak ucapan “Tidak ada Tuhan selain Engkau”, dan sampaikanlah shalawat dan salam kepada Muhammad SAW dan keluarganya yang suci.

Dzikrullah




*MAJELIS CINTA DZIKIR

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi Musa a.s. bertanya kepada Alloh SWT, “Tuhanku, apakah balasannya bagi orang-orang yang dzikir kepada-Mu dengan lisan dan hatinya?”

Alloh Swt. berfirman: “Wahai Musa, Aku akan melindunginya di Hari Kiamat dengan naungan 'Arsy, dan Aku akan menjadikannya di bawah kekuasaan-Ku.”

Nabi Musa a.s. bertanya lagi, “Tuhanku, siapakah hamba-Mu yang paling merugi?”

Alloh SWT berfirman, “Orang yang tidak mengambil manfaat dari petuah dan orang yang tidak dzikir kepada-Ku sewaktu sendirian.”

Dzikir merupakan cara yang paling efektif untuk berdialog dengan Alloh SWT dan membuat hamba-Nya mampu secara aktif berpartisipasi dalam komunikasi dengan Alloh SWT. Tentu saja kondisi spiritual dari pikiran atau hati setiap orang akan berbeda dalam menerimanya, tergantung dari kemajuan spiritual yang dialaminya. Secara umum dzikir akan selalu melahirkan sifat al-murâqabah (perasaan selalu diawasi oleh Alloh) sehingga akan memasukkan pelakunya ke pintu al-Ihsan. Orang-orang yang lalai tentu tidak akan sampai ke derajat al-Ihsan. Dzikir juga akan melahirkan al-inabah (dorongan jiwa ingin selalu kembali kepada Alloh) sehingga hanya Alloh-lah yang ditakuti, dan tempat kembali serta berlindung.

Jadi sangat na’if jika masih ada orang yang gemar membid’ahkan kegiatan dzikir. Bagaimana mereka memandang Hadis yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin ‘Anbasah r.a. ini. Beliau berkata Rasulullah SAW bersabda, “Di sebelah kanan Tuhan yang Maha Rahmân, begitu juga di hadapan-Nya, ada sekelompok manusia yang bukan para nabi dan bukan para syuhada. Sinar wajah mereka menyilaukan siapa saja yang melihatnya, sehingga para nabi dan para syuhada merasa iri atas kedudukan mereka dan dekatnya mereka di hadirat Alloh Azza wa Jalla.”

Rasulullah SAW ditanya, “Siapakah mereka itu ya Rasulullah?”

Rasulullah Saw. menjawab, ”Mereka adalah sekumpulan manusia dari berbagai kabillah yang berkumpul untuk melakukan dzikir kepada Alloh. Mereka memelihara ucapan-ucapan yang baik seperti halnya orang yang makan kurma menjaga dan memilih hanya kurma-kurma yang baik,”
(HR Thabrani).

Abdullah bin Busr r.a. mengatakan, “Sesungguhnya ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Ya Rasulullah, perintah dalam syariat Islam ini banyak. Baritahukanlah kepada kami sesuatu yang dapat kami jadikan amalan dan kesibukan.”

Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa membasahi lidahmu dengan dzikrullâh.”

Maka, mari nikmati hidangan hidayah Alloh dengan berdzikir. Mari kita masuki taman-taman surga dengan berdzikir. Ibnu Taimiyyah berkata, “Sesungguhnya di dunia ada surga. Barangsiapa tidak masuk ke dalam surga itu, ia tidak akan masuk ke dalam surga Akhirat.” Ibnu Taimiyyah ditanya, “Apakah yang dimaksud dengan surga dunia itu?” Beliau menjawab, “Majelis-majelis dzikir.”

Pendapat ini didasarkan pada Hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, yang bertanya kepada Rasulullah SAW. Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah ghanimah majelis-majelis dzikir?”
Rasulullah SAW menjawab, ”Ghanimah majelis dzikir adalah surga.” (HR Ahmad).


*FAIDAH ZIKIR BAGI MANUSIA

• Zikir akan mendatangkan sesuatu yang paling mulia dan paling agung yang dengan itu kalbu manusia menjadi hidup seperti hidupnya tanaman karena hujan.

• Zikir adalah makanan rohani sebagaimana nutrisi adalah makanan tubuh. Ia juga merupakan perangkat yang membuat kalbu bersih dari karat berupa lalai mengikuti hawa nafsu.

• Menjadi lampu penerang bagi pikiran yang memberi petunjuk dalam kegelapan.

• Bumi akan menjadi saksi atas orang yang berzikir sebagaimana ia menjadi saksi atas orang-orang yang bermaksiat dan orang-orang yang taat.

• Zikir bisa mengangkat derajat hamba pada kedudukan yang paling tinggi.

• Orang yang berzikir akan tetap hidup walaupun sudah mati. Sebaliknya, orang yang lalai walaupun masih hidup sebetulnya ia tergolong mati.

• Zikir menghilangkan rasa dahaga di saat kematian tiba sekaligus memberikan rasa aman dari segala kecemasan.

• Pezikir yang berada di tengah-tengah orang lalai seperti rumah gelap yang di dalamnya ada lampu. Orang lalai seperti malam gelap gulita yang tak pernah sampai ke pagi.

• Pezikir yang terlalaikan oleh sesesuatu bisa mendapatkan hukuman. Hal ini sama seperti orang yang duduk bersama raja tanpa adab.

• Sesaat saja menghadirkan kalbu dalam zikir, akan melindungi diri dari maksiat. Walaupun perlindungan tersebut sedikit, namun mempunyai manfaat yang sangat besar.

-- Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam Miftahu Al-Falah wa Mishbahu Al-Arwah.

Semua faidah berdzikir dalam kitab ini mencapai 68 macam. Ini hanya beberapa dari faidahnya saja. Mari kita manfaatkan waktu kita untuk berdzikir, kapan pun dan dimana pun.

Dialah Yang Maha Hidup dan terus mengurus makhluk
Keagungan dan kebesaran adalah pakaian-Nya
Dia memberi kekayaan, kecukupan, dan penerangan lewat cahaya-Nya

Seluruh alam, angkasa, langit dan bumi-Nya
Semua bersinar dengan cahaya keindahan-Nya
Karunia terwujud dengan jalan petunjuk-Nya

Alloh….Alloh…Alloh…

Yang Maha Agung menganugerahkan kepada kita
Kekuatan yang dengannya Alloh mengantar kita kepada pengetahuan

-- Ibnu Atha’illah dalam Al-Qashd Al-Mujarrad fi Ma’arifat Al-Ism Al-Mufrad


Syeikh Hisyam Kabbani mengatakan: “Zikrullah adalah sebab yang membuat para malaikat berdoa agar kalian dikaruniai tajali Sakiinah Alloh, untuk merasakan kedamaian itu di dalam kalbu. Itulah sebabnya disarankan oleh banyak Syuyukh bahwa ketika kalian sedang melakukan awrad, tutupi diri kalian dengan kain putih dan memakai busana berwarna putih, dan `imaamah putih atau peci putih, sementara yang wanita dapat memakai kerudung putih, tutupi diri kalian dan lakukan zikrullah.”

"Mereka" yang selalu berdzikir (mengingat Alloh), tiada merasa tertimpa masalah dan musibah, sebab rasa cinta yang begitu besar (Mahabbah), mereka merasa apa yang sekarang terjadi dan menimpa dirinya adalah yang terbaik bagi baginya, karena sudah ketentuan dari Tuhan-Nya, dan Tuhan menghendaki ini terjadi pada dirinya. Maka ini adalah sebaik-baik keadaan yang harus terjadi, dan itu yang terbaik baginya dari ketentuan Tuhan-Nya. Hanya dengan rasa cinta kepada Alloh, yang mampu mengubah rasa duka, gelisah dan kesempitan, menjadi suka, tengan dan lapang.

Cinta yang mengubah segala keadaan menjadi satu kesempatan untuk semakin mencintai-Nya, dengan menjadikan setiap keadaan menjadi jalan untuk semakin mencintai dan mendekat kepada Alloh.

Biar dia duduk berpikir seperti tukang duduk mengukir kalau tak tahu artinya DZIKIR hanyutlah amal seperti air.....

Senin, 03 Maret 2014

Pandangan Perennial terhadap Alam Semesta (Theophany)

 
Sebagai sebuah narasi kosmos, filsafat perennial pun memiliki pandangan mengenai alam semesta. Pandangan perennial terhadap alam semesta (theophany), bukan sekadar pengetahuan empirik ataupun sekadar keindahan-keindahan alam yang sering muncul dalam puisi-puisi romantik. Memang, kosmologi pengetahuan tentang alam-dalam pandangan ini meliputi aspek yang utuh seluruh jagad. Tetapi sifat pandangannya tidak sepenuhnya sensorik yang mengandalkan panca indra, sebab pada kenyataannya kosmologi perennial juga melihat jagad raya dari aspek metafisik yang terkait dengan aspek Intelek.
Kosmologi tradisional teramat sering menggunakan bahasa-bahasa simbolik, tetapi juga dirumuskannya betul-betul merupakan sains-bukan sebuah sentimen atau pun imajinasi puitik. Karena faktor ini, pandangan perennial terhadap alam semesta (theophany), tetap eksis dengan memperlihatkan karakternya yang khas dan tipikal. Ia muncul sebagai suatu refleksi dan pelengkap bagi keseluruhan bangunan filsafat perennial itu sendiri dan secara esensial memperhatikan aspek metafisik. Karena itu, tak mengherankan jika Nasr misalnya secara sadar mengatakan “the Cosmos as Theophany”, alam semesta tak lain adalah penampakan dari Tuhan. Keyakinan seperti ini, menjadi paradigma dominan dalam bangunan filsafat perennial tentang alam.

Dalam pandangan perennial terhadap alam semesta (theophany), alam semesta dan manusia, pada dasarnya hanyalah tajalli dari Tuhan yang dalam kategori Smith disebut sebagai yang Infinite/Spirit-seperti diuraikan sebelumnya atau dalam tradisi Islam disebut sebagai al-Haqq. Dalam konteks tajalli ini, Noer mengemukakan:

Tajalli terjadi terus menerus tanpa awal dan tanpa akhir, “yang selama-lamanya ada dan akan selalu ada” (al-da’im al-ladzilam yazal wala yazal). Tajalli dalam bentuk-bentuk yang lebih kongkret. Tajalli tidak bisa terjadi kecuali dalam bentuk-bentuk nyata yang telah ditentukan dan dikhususkan. Karena itu, tajalli tidak lain dari penampakan diri al-Haqq dalam bentuk-bentuk yang telah ditentukan dan dikhususkan ini. Penampakan diri ini disebut ta’ayyun (entitikasi). Tuhan melakukan tajalli dalam bentuk-bentuk yang tidak terbatas jumlahnya. Bentuk-bentuk itu tidak ada yang sama dan tidak pernah dan tidak akan terulang secara persisi sama. Semua terjadi dalam perubahan terus-menerus tanpa henti.

Ibn al-‘Arabi mengatakan, apa yang terdapat dalam alam berubah dari satu keadaan kepada keadaan lain. Alam temporal berubah setiap saat. Demikian pula alam nafas berubah pada setiap nafas, dan alam tajalli berubah pada setiap tajalli. Dalilnya ialah firman Allah: “Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”

Dari uraian tersebut, tampak bahwa pandangan filsafat perennial terhadap alam semesta, alam semesta bahkan termasuk manusia tak lain dari “penampakan” Tuhan di bumi ini. Atau dengan kata lain, manifestasi-manifestasi dari kualitas Ilahi, yang secara konstan hadir tanpa henti.

Di samping bahasan simbolisnya, pandangan perennial terhadap alam semesta (theophany), juga dicirikan oleh adanya kontemplasi mengenai bentuk-bentuk kealaman tertentu sebagai refleksi dari kualitas-kualitas Ketuhanan. Nasr menyatakan bahwa realisasi spiritual yang didasarkan pada pandangan perennial juga merupakan “transparansi secara metafisik dari bentuk-bentuk dan obyek-obyek kealaman” sebagai dimensi ‘melihat Tuhan di mana saja’. Dalam perspektif ini maka kosmologi yang menggunakan intelek sebagaimana dikembangkan Filsafat Perennial berarti melihat alam tidak sebagai fakta kasar dan berdiri sendiri. Tetapi ia melihatnya sebagai panggung pertunjukan yang merefleksikan wajah Yang Tercinta, dan sekaligus sebagai perwujudan Tuhan dan Realitas yang terletak di pusat manusia itu sendiri. Dengan kata lain, “untuk melihat alam sebagai perwujudan Tuhan berarti melihat refleksi Diri sendiri dalam alam dan bentuk-bentuknya.

Selanjutnya pandangan perennial terhadap alam semesta (theophany), ternyata tidak hanya mempelajari pola dasar alam dan melakukan kontemplasi metafisis. Tetapi keserasian dalam bentuk hubungan secara amat memikat antara berbagai cipta seperti binatang, tumbuhan, dan mineral, antara makhluk dalam berbagai iklim dan juga antara wujud-wujud kasar, halus dan spiritual. Keserasian ini, baru segelintir saja di kaji oleh ekologi adalah ibarat keserasian dari bagian-bagian tubuh manusia; demikian juga tubuh (body), jiwa (soul), dan ruh (spirit) manusia perantara yang memang sangat terkait dengan keserasian manusia di alami secara kongkret. Sebab, bentuk keserasian yang terakhir ini (keserasian dalam tubuh manusia), sebagaimana halnya keserasian alam, berasal dari harmoni yang sempurna dari wujud Manusia Universal yang merupakan protipe, baik bagi manusia maupun bagi alam. Apalagi alam merupakan kristalisasi suara-suara musik, dan keserasian musik adalah kunci untuk memahami struktur alam mulai dari tingkat gerakan pertama sampai dengan energi yang paling kecil, maka hal itu adalah karena harmoni yang ada pada aspek wujud yang paling dasar pada archetypal yang membentuk segala sesuatu.


Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Kautsar Azhari Noer. Ibn al-‘Arabi. Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan, (Jakarta: Paramadina, 1995).
Seyyed Hossein Nasr. Salasa Hukama’Muslim,diterjemahkan Ahmad Mujahidm “Tiga Pemikir Islam: Ibnu Sina, Suhrawardi, Ibnu Arabi”, (Bandung: Risalah, 1986).