Minggu, 19 Januari 2014

Demi Langit yang mengandung Hujan!


Langit itu tidak memiliki warna. Namanya juga langit-langit. Mengawang-ngawang saja di atas kepala. Tapi kenapa ia seolah punya warna biru. Kadang berganti merah. Kadang jingga. Kadang ada pelangi. Bahkan kadang ada sejuta warna aurora di relungnya. Simpel. Langit hanya ‘memantulkan’ apapun yang ada di sekitarnya.

“Demi langit yang mengandung hujan.”
{QS. Ath-Thaariq, 86:11}

Ada labirin yang terbuat dari bianglala/pelangi, tapi orang seperti dia tidak pernah dibuat takjub oleh warna-warni, yang membuatnya ‘hidup’ adalah hujan! Dan suara konstan - menggelegar yang turun dari langit..

Beberapa hari terakhir ini, matahari ‘malu-malu’ untuk menyapa siang. Hujan lebat terjadi dimana-mana, mencipta gemuruh dan deras air.

Nikmat Alloh begitu besar untuk kesejukan udara, kesuburan tanah, kesejahteraan makhluk dan iklim. Di sisi lain, ada juga yang merasakan derita dan susah-payah karena banjir.

Seolah-olah Alloh sedang menghujani manusia dengan menunjukan cara-cara untuk bersyukur, berbenah, introspeksi, istirahat, bertanggung jawab, kerja-keras, belajar dan tolong-menolong...

“Allohumma Shayiban Naafi'an.”

Terima kasih atas hujan-Mu ya Alloh, semoga membawa berkah dan kesejahteraan untuk kami. Alloh Ta'ala berfirman:

“Dan, buatkanlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan, Alloh Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
(QS Al-Hadid: 20)

*Tabik!

Antara Cinta, Iman dan Akal


Al-‘aqliyyuun yakin bahwa esensi manusia adalah “keberpikirannya”. Bagi mereka semakin sempurna seorang manusia, semakin sempurna pula pemikirannya. Karena itu insan kamil (manusia sempurna) menurut pandangan ini adalah orang yang paling sempurna nalarnya, dalam arti telah menyingkap rahasia wujud (keberadaan) sebagaimana kenyataannya.

Tafakkur, -dalam pengertian rasionalnya-, merupakan satu aktifitas utama yang menghantarkan manusia mencapai tujuannya. Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil – albaab. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi : ` Yaa Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
(QS. Ali ‘Imran 190-191).

Di sisi lain, para ‘urafa, meyakini bahwa esensi manusia adalah al-qalb (hati). Dalam pandangan ini ihsas (rasa) dan ‘isyq (Cinta) manusia mempunyai nilai lebih dibanding tafakkur – nya. Perlu dicatat di sini bahwa ‘isyq bukanlah dalam arti cinta seksual seperti cinta pada umumnya. Ada dua ciri ‘isyq menurut para ‘urafa ;

1.Cinta ini bergerak menuju kepada Allah. Ma’syuq (obyek yang dicintai)-nya hanyalah Allah SWT.

2.Cinta ini mengalir pada semua yang maujud; bintang, bulan, matahari dan yang ada di sekalian alam.

Dalam pandangan ini, seluruh keharmonisan alam adalah tanda aliran ‘isyq (Cinta) dalam segala sesuatu.

Bulan dan matahari
Langit dan bumi
Semuanya berputar-putar
Sedang Sang Penyanyi bergeletar

Bulan dan matahari
Langit dan bumi
Semuanya bak berpelukan
Bercumbu dan mencumbu Tuhan semata

Belum lagi ujung rumput nan ber-embun-an
Menambah sejuk segar hawa pagi nan ber-segar-an
Sepoi angin semilir rancak nan bertiupan
Ia pun mengatakan mari kita mencumbu Tuhan

Dalam semua adalah cinta
Meresapi semua adalah cinta
Tapi cinta pada Tuhan semata
Semua mencinta Tuhan semata

Walau mencumbu tapi tak perlu merayu
Walau mencumbu tapi tak perlu memeluk
Cukup katakan pada-Nya Duhai Sang Ayu
Sampai membanjir airmata meninggalkan ceruk

Hati (al-qalb) adalah sentral Cinta. Maka bagaimana agar manusia mencapai insan kamil ? Para ‘urafa yakin bahwa dengan akal (baca; nalar), manusia tidak akan pernah mencapai kesempurnaan yang hakiki. Maulana Jalaluddin Rumi mengatakan;

Kaki para filosof terbuat dari kayu
Kaki yang terbuat dari kayu tidaklah berkekuatan sedikitpun

Sebaliknya para ‘urafa meyakini adanya kitab’azali yang terdapat dalam diri setiap orang. Kitab Agung tempat khazanah pengetahuan Tuhan. Yaitu; hati. Tuhan tidak akan pernah dapat ditampung bumi dan langit, tapi Tuhan dapat ditampung (baca; hadir) pada hati mukmin. Dengan membersihkan hati (tazkiyyatun-nafs) dan mengkonsentrasikan hati serta mengarahkannya hanya kepada Allah, maka seseorang akan dapat mencapai derajat insan kamil.

Dalam kitab sufi tidak terdapat tulisan dan kata,
Yang ada hanya hati putih bak salju

Karena tulisan dan kata hanyalah rerantingan
Sedang Wujud yang dirasa adalah akar

Dan tulisan dan kata hanyalah kekhayalan
Sedang rasakanlah Ia yang lebih dekat dari urat leher

Dalam hati sufi tidak terdapat berbagai pengetahuan
Yang ada hanya lah Ia sendiri

Qur’an Suci mengatakan; Beruntunglah mereka yang telah membersihkan dirinya (QS Asy-Syams 9).

Di sisi lain Qur’an Suci mengatakan ; Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling berwasiat tentang kebenaran, dan saling berwasiat tentang kesabaran. Jelas amal shalih apapun tanpa iman adalah seperti seorang gadis tanpa ruh. Walaupun secantik apapun hanyalah mayat. Sebaliknya iman tanpa amal shalih pun mustahil, seperti adanya aliran elektron tanpa arus listrik.

Iman (+amal shalih), akal dan cinta adalah tiga ekivalensi tapi mempunyai dimensi masing-masing. Tidak mungkin beriman terhadap sesuatu yang tidak masuk akal. Tidak mungkin mencintai sesuatu yang tidak diimani wujud-nya. Dan tidak mungkin akal kita dapat berkonsentrasi terus menerus untuk menyingkap rahasia Wujud Yang Maha Agung tanpa dorongan dari geletar ‘isyq yang ada dalam dada.

Apa kesimpulannya?

Ketiganya hanyalah manifestasi dari satu hal yang sama. Tiadanya yang satu memustikan ketiadaan yang lain. Hanya saja dimensi kehidupan tak berhingga. Mana kala kita pandang dari sudut nalar, akal-lah namanya. Manakala kita pandang dari sudut hati, cinta-lah namanya dan manakala kita pandang dari sudut keyakinan, iman-lah namanya.

Dengan ketiganya, – atau mungkin lebih tepat lagi dengan segenap wujud nya-, seorang manusia dapat mendekatkan diri kepada Allah. Ketika seseorang sampai pada pintu keselamatan, tidak ada lagi hijab antara ia dengan Allah. Dia dapat melihat Allah dengan mata hatinya. Baginya Tuhan benar-benar dapat disifati sebagai Azh-Zhaahir ( Yang Maha Lahir), atau bahkan An-Nuur (Cahaya (Mutlak)), sehingga tak ada suatu apa pun yang lebih jelas dari-Nya.

Imam Husein bin ‘Ali (r.a.), -cucu Rasulullah (SAW) yang akan menjadi satu dari pemimpin para pemuda di surga-, mengatakan; “ Adakah maujud yang lebih jelas dan terang dari-Mu?”


Sumber

Matahari; tentang Cinta dan Akal



Siang dan malam silih berganti, Cinta memberi tanpa diminta. Pagi dan petang pergi dan datang, Rindu menjaga tiada jeda dan lena. Cinta pada sesama dan rindu pada kebersamaan menjadi spirit utama dalam menebarkan pesan kebaikan. Alloh mengabadikan firmanNya tentang pergantian siang dan malam dalam sejumlah ayat di Al Qur'an. Dalam QS. Asy Syams, Dia bahkan bersumpah,

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya.”


Sungguh tiada ternilai sumpah Tuhan itu bagi hati manusia yang di dalamnya hidup cinta. Jika diri manusia adalah jagat, maka hati adalah mataharinya dan akal serupa planet yang mengelilingi matahari itu. Jika cinta hidup di dalam hati, maka rindu hidup di dalam akal.

Rindu inilah yang melahirkan gagasan-gagasan tentang perjumpaan, sekaligus ide, konsep, teori, dan rencana untuk selalu bersama. Sedangkan Cinta melahirkan kehendak, hasrat, gairah, dan imaji tentang kehadiran, yang di dalamnya terkandung niat, semangat, maksud, dan tujuan untuk selalu ada.

Matahari dan planet sesungguhnya menyatu, disatukan oleh lingkar orbit, namun hakikatnya pula satu dan lainnya memisah, pun dipisahkan oleh lingkar orbit itu. Terlalu dekat dengan Yang dicinta, sang rindu justru terbakar dan musnah.

Cinta ini dekat namun tak bersentuhan, pun jauh tapi tak berjarak, dengan rindu, seperti halnya matahari yang tetap berada di atas sana namun cahaya, sinar, terang, dan panasnya sampai permukaan bumi. Bahkan, menembus hingga ke dasarnya dan terciptalah magma.

Cinta sesungguhnya tertanam di dasar rindu yang paling dalam, sebagaimana magma yang hakikatnya adalah panas matahari itu sendiri.

Belajar dari hubungan antara matahari dan bumi, menjadi mudah dicerna mengapa Alloh berfirman bahwa Dia sesungguhnya meliputi segala sesuatu. Menjadi sederhana untuk di mengerti bahwa Alloh lebih dekat dari urat leher. Menjadi tidak rumit dipikirkan mengapa orang beriman bergetar hatinya jika disebut nama Alloh. Menjadi mudah dipahami pula betapa sesungguhnya cinta pun hidup di setiap akal manusia. Rindu yang berubah menjadi dendam, kemudian memunculkan kebencian dan permusuhan, pun sebenarnya bermula dari rasa cinta itu sendiri. Bergantung bagaimana akal mengolah energi cinta itu menjadi kebaikan atau keburukan.

Bila akal berada di dalam raga, maka hati berada di dalam jiwa. Bila magma sesungguhnya panas matahari yang terserap bumi, maka pada hakikatnya terkandung jiwa di dalam akal. Terdapat kebaikan di dalam keburukan, pun terdapat keburukan di dalam kebaikan, segalanya bergantung pada faktor manusia sebagai pengolahnya. Seburuk-buruk bakteri, virus, racun, dan kotoran, memiliki manfaat. Sebaik-baik obat, makanan, minuman, dan madu, tetap memiliki mudharat.

“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Alloh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Maha Suci Alloh yang memfirmankan, masih dalam QS. Asy Syams, bahwa Dia mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaan. Keburukan dan kebaikan. Di dalam setiap hal, ada dua sisi yang menyatu namun terpisah, melekat namun saling memunggungi. Cinta memberi, entah itu kebaikan atau pun keburukan. Dan rindu menjaga, baik itu kebaikan maupun keburukan, yang berasal dari cinta itu.

Alloh menciptakan manusia paling mulia di antara makhluk lainnya dengan anugerah akal, dan Dia memuji ulil albab atau akal yang digunakan untuk berpikir dan mengolah segala hal yang pada mulanya berasal dari cinta.

*Tabik!

 

Jumat, 17 Januari 2014

Tabir Perlindungan Allah pada Diri



Dikutip dari terjemah Al-Hikam’ Ibnu Ata’illah:
(144)
“Tutupan Allah itu terbagi dua: ditutup dari bermaksiat, dan ditutup dari perbuatan maksiat. Manusia pada umumnya minta kepada Allah supaya ditutupi perbuatan dosanya, karena khawatir jatuh kedudukannya dalam pandangan sesama manusia. Tetapi orang-orang yang khusus minta kepada Allah supaya ditutupi dari perbuatan maksiat, jangan sampai berbuat dosa karena takut jatuh dari pandangan Allah.”
(145)
“Siapa yang menghormat kepadamu, sebenarnya ia hanya menghormat pada keindahan tutupan Allah terhadapmu. Oleh karena itu seharusnyalah pujian itu disampaikan pada Dia yang menutupi engkau, bukan pada orang yang memuji dan berterima kasih kepadamu.”

Tiap orang pastilah ada cela kebusukannya, yang andaikan diketahui oleh orang lain pasti akan membuat kebencian dan ketidaksukaan. Yang menyebabkan adanya orang tetap memuji dan menghormat bukanlah karena kebaikan yang dimilikinya, tapi karena Allah berkenan menutupi kebusukan dan cacatnya. Maka pujian itu seharunya kembali pada Allah yang menutupi aibnya.

Tiap orang pasti memiliki hal yang membuatnya malu jika diketahui orang lain. Karena itu, jika ada orang memuji dirinya, itu tidak lain hanya karena indahnya tabir yang dipasangkan Allah pada dirinya, sehingga tertutup celanya dan terlihat bagusnya semata-mata.

Karena itu, ia wajib bersyukur pada Allah yang berkenan menutupi dirinya, dan bukan pada manusia yang memujinya karena tidak tahu kejelekannya.

Imam An-Nifari; Tentang Tauhid




Allah swt berseru kepada hamba-Nya:

Wahai hamba! Engkau tidak memiliki sesuatu pun, kecuali apa-apa yang telah Aku kehendaki untuk menjadi milikmu. Tidak juga engkau memiliki dirimu sendiri, karena Akulah Penciptanya! Tidak pula engkau sekedar memiliki jasadmu, karena Aku Sang Pembentuknya! Hanya dengan Pertolongan-Ku engkau dapat berdiri, dan dengan Kalimat-Ku engkau hadir di dunia ini.

Wahai hamba, katakanlah “Tiada Tuhan melainkan Allah!”, kemudian tegaklah berdiri di jalan yang benar, maka tiada Tuhan melainkan Aku! Dan tiada pula wujud yang sebenarnya wujud, kecuali untuk-Ku! Segala sesuatu yang selain Aku adalah dari buatan Tangan-Ku dan dari tiupan Ruh-Ku.

Wahai hamba! Segala sesuatu adalah kepunyaan-Ku, bagi-Ku, dan untuk-Ku! Jangan sekali-kali engkau merebut apa yang menjadi kepunyaan-Ku!

Kembalikan segala sesuatu kepada-Ku, niscaya akan Kubuahkan pengembalianmu dengan Tangan-Ku, dan Kutambahkan padanya dengan Kepemurahan-Ku. Serahkan segala sesuatu kepada-Ku, niscaya Kuselamatkan engkau dari segala sesuatu!

Ketahuilah, bahwa hamba-Ku yang terpercaya adalah yang mengembalikan segala sesuatu selain-Ku kepada-Ku! Tengoklah dengan pandangan tajam kepada-Ku, bagaimana cara-Ku melakukan pembagian, niscaya engkau akan melihat pemberian dan penolakan merupakan dua bentuk yang dinamakan, agar dengan demikian engkau dapat mengenal-Ku!

Hai hamba! Sesungguhnya engkau telah melihat Aku sebelum dunia ini terhampar, dan engkau mengenal siapa yang engkau lihat. Dan hanya kepada-Ku lah engkau akan kembali!

Kemudian Aku ciptakan segala sesuatu untukmu, dan Aku labuhkan tirai hijab atasmu, lalu engkau pun terhijab dengan tirai wujudmu sendiri, kemudian Aku menghijab engkau dengan diri-diri yang lain, yang mana diri-diri yang lain itu menyeru kepadamu dan kepada dirinya sendiri, dan kesemuanya itu menjadi hijab terhadap Aku!

Setelah semua hal itu, Aku pun akan kembali Dzahir, dari balik semua itu Aku akan memperkenalkan Diri-Ku. Aku katakan kepadamu, bahwa Aku-lah Sang Khaaliq, Aku-lah yang menciptakan segala sesuatu, dan bahwasanya Aku telah menjadikan engkau sebagai khalifah atas kesemuanya itu. Dan ketahuilah, bahwa semua hal itu hanyalah amanah atasmu, dan diwajibkan atas setiap pengemban amanah untuk mengembalikannya!

Maka telitilah dirimu, setelah engkau mempercayai-Ku, sudahkah engkau mengembalikan segala sesuatu itu kepada-Ku? Sudahkah engkau memenuhi perjanjian yang telah engkau buat dengan-Ku?

Hai hamba! Aku ciptakan segala sesuatu itu untukmu, maka bagaimana Aku akan rela kalau engkau peruntukkan dirimu bagi sesuatu itu! Sesungguhnya Aku melarang engkau untuk menggantungkan dirimu kepada sesuatu itu, karena Aku Maha Pencemburu padamu!

Hai hamba! Aku tidak rela engkau peruntukkan dirimu bagi sesuatu, walau harapanmu akan sorga sekalipun, karena Aku ciptakan engkau hanya untuk-Ku, di sisi yang tiada sisi, dan di mana yang tiada mana!

Aku ciptakan engkau atas pola Citra-Ku, seorang diri, tunggal, mendengar, melihat, berkemauan serta berbicara. Dan Aku jadikan engkau berkemampuan untuk mentajalikan Nama-nama-Ku, dan tempat untuk Pemeliharaan-Ku.

Engkau adalah sasaran Pandang-Ku! Tiada dinding penghalang yang memisahkan antara Aku dan engkau! Engkau adalah kawan duduk semajelis dengan-Ku, maka tiada pembatas antara Aku dan engkau

Hai hamba! Tiada diantara Aku dan engkau, antara. Aku lebih dekat kepadamu dari dirimu sendiri, Aku lebih dekat kepadamu dari ucapan lisanmu, maka pandanglah kepada-Ku, karena Aku senang memandang kepadamu.

-- Dari Al-Mauqif wal Mukhatabah, Imam An-Niffari,
(dikutip dari sebuah catatan dari Zamzam Ahmad Jamaluddin).

Aurora



Kala kita melihat sesuatu yang luar biasa (menakjubkan) menurut kadar pemikiran kita, biasanya setelah mata melihat lantas Muncul Alloh, sehingga mulutpun berucap Subhanallah! begitu besar Kuasa Alloh. Padahal sesungguhnya baik di pandang oleh mata manusia, ataupun tak ada yang memandang pun kehadiran Alloh telah mendahului sesuatu yang menakjubkan itu. Bahkan sesungguhnya tak ada yang tak menakjubkan jika kita terlebih dulu memandang Alloh Baru Kekuasaan-Nya...


Bumi mengeluarkan energi ke luar angkasa membentuk sabuk elektromagnetik. Sabuk ini mirip sabuk khayali. Tidak bisa disentuh tapi ada!

Khusus di daerah dekat kutub, sabuk elektromagnetik itu bisa di lihat sebagai cahaya berwarna warni di malam hari yg selalu bergerak-gerak. Namanya indah: Aurora!



Fenomena unik yang seringkali terjadi pada langit malam yang gelap tiba-tiba menjadi terang benderang di belahan bumi utara terutama Alaska dianggap sebagian orang sebagai peristiwa yang mengandung unsur-unsur kepercayaan kuno. Fenomena ini biasa dikenal dengan ‘Aurora’. Aurora biasanya muncul dengan warna hijau, merah, biru atau lembayung. Orang-orang kuno menghubung-hubungkan munculnya fenomena alam itu dengan penyakit dan peperangan. Aurora berwarna merah terang pernah dianggap sebagai “kolam darah” para pejuang yang gugur dalam peperangan. di North Country, Inggris, aurora dikenal sebagai “lembing terbakar”.

Sebelum revolusi perancis meletus, sebuah aurora muncul. Penduduk Skotlandia dan Inggris mengaku mendengar suara pertempuran dan melihat peperangan di angkasa. Pada tanggal 24 Februari 1716, berbarengan dengan kematian James Ratcliffe, Earl Derwentwater terakhir, muncul aurora berwarna merah terang dan bergerak cepat di langit. Sejak saat itu aurora itu dikenal sebagai “Cahaya Lord Derwenwater” (www.tripod.lycos.com).

Orang Eskimo atau suku Inuit percaya fenomena alam yang terkenal dengan sebutan Aurora Borealis atau Cahaya Utara itu muncul karena para arwah sedang bermain bola–memakai tengkorak singa laut–di angkasa. Mereka juga percaya orang yang terlalu sering menonton “pertandingan” itu akan menjadi gila (www.tempointeraktif.com).

Terlepas dari kepercayaan kuno tersebut, sebenarnya fenomena aurora dapat dijelaskan menurut hukum fisika. Fenomena ini merupakan peristiwa yang umum terjadi di bumi dan planet-planet lainnya khususnya di daerah kutub yang merupakan daerah dengan medan magnet yang kuat.


*Pengertian Aurora

Aurora adalah fenomena pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh matahari (angin matahari) (en.wikipedia.com).


*Penyebab Terjadinya Aurora

Aurora adalah cahaya yang tercipta di udara yang disebabkan oleh atom-atom dan molekul yang bertumbukan dengan partikel- partikel bermuatan, terutama elektron dan proton yang berasal dari matahari. Partikel-partikel tersebut terlempar dari matahari dengan kecepatan lebih dari 500 mil per detik dan terhisap medan magnet bumi di sekitar kutub Utara dan Selatan. Warna-warna yang dihasilkan disebabkan benturan partikel dan molekul atau atom yang berbeda. Misalnya, aurora hijau terbentuk oleh benturan partikel elektron dengan molekul nitrogen. Aurora merah terjadi akibat benturan antara partikel elektron dan atom oksigen (www.tripod.lycos.com). Bagian penting dari mekanisme aurora adalah “angin matahari”, yaitu sebuah aliran partikel yang keluar dari matahari. Angin matahari menggerakkan sejumlah besar listrik di atmosfer (Sabuk Van Allen).

Energi ini akan mempercepat partikel ke atmosfer bagian atas yang kemudian akan bertabrakkan dengan berbagai gas. Hasilnya adalah warna-warna di angkasa yang bergerak-gerak. Tekanan listrik mengeluarkan molekul gas menjadi keadaan energi yang lebih tinggi, yang mengakibatkan lepasnya foton. Warna tergantung pada frekuensi tumbukkan antara partikel-partikel dan gas-gas. Mekanisme ini hampir sama dengan nyala lampu berpendar atau lampu neon (www.tripod.lycos.com).

*Fenomena Aurora yang Terjadi di Kutub Utara



Aurora terjadi di daerah di sekitar kutub Utara dan kutub Selatan. Daerah kutub memiliki medan magnetik yang cukup kuat sehingga dapat memunculkan aurora. Aurora yang terjadi di daerah sebelah Utara dikenal dengan nama Aurora Borealis , yang dinamai bersempena Dewi Fajar Rom, Aurora, dan nama Yunani untuk angin utara, Boreas. Ini karena di Eropa ia kerap dilihat kemerah-merahan di ufuk utara seolah-olah matahari akan terbit dari arah tersebut. Aurora borealis selalu terjadi di antara September dan Oktober dan Maret dan April. Fenomena aurora di sebelah Selatan yang dikenal dengan Aurora Australis mempunyai sifat-sifat yang serupa (en.wikipedia.com).


*Fenomena Aurora yang Terjadi di Kutub Planet Mars dan Saturnus



Kemunculan aurora-aurora di Mars sepanjang tahun berhasil direkam wahana Mars Express milik badan antariksa Eropa yang kini mengorbit planet tersebut. Tim peneliti dari Perancis berhasil mengamati sembilan aurora di atmosfer Mars dan menyusunnya dalam satu peta. Cahaya-cahaya tersebut tampak dengan warna antara hijau hingga ungu. Seperti halnya aurora yang terbentuk di atsmofer Bumi, cahaya tersebut pada dasarnya ultraviolet yang terbentuk saat partikel-partikel bermuatan listrik dari Matahari bereaksi karena pengaruh medan magnet planet tersebut.

Seperti di planet-planet lainnya, misalnya Bumi atau Jupiter, cahaya aurora pun terlihat di Planet Saturnus. Wahana ruang angkasa Cassini berhasil merekam fenomena yang langka tersebut saat melintas dekat planet raksasa tersebut.

Aurora terbentuk saat partikel-partikel bermuatan listrik yang dipancarkan Matahari menabrak medan magnet. Saat menembus lapisan atmosfer, perubahan muatannya menghasilkan semburat cahaya berwarna-warni.

Cahaya aurora yang direkam Cassini terjadi di atas salah satu kutub Saturnus. Namun, aurora yang terjadi di Saturnus mengejutkan para ilmuwan di badan antariksa AS (NASA) karena sangat luas.

Aurora ini berbeda seperti yang terjadi di Jupiter atau Bumi. Aurora ini melingkupi wilayah yang sangat luas di sepanjang kutub.Rekaman inframerah yang dibuat Cassini menunjukkan aurora tersebut mengalami perubahan yang konstan. Rata-rata muncul dengan periode selama 45 menit sebelum akhirnya hilang.


*Aurora, Bahayakah?

Aurora merupakan peristiwa yang lazim ditemui di daerah kutub. Bahaya aurora tehadap manusia sampai saat ini belum pernah dibuktikan. Akan tetapi fenomena ini dapat mengganggu jaringan telekomunikasi. Pengaruh proton-proton yang bertumbukkan dengan atom di atmosfer dapat mengganggu penerimaan radio, televisi dan telegram. Hal ini disebabkan karena saat titik-titik di atmosfer terganggu oleh proton dari matahari, atmosfer tidak lagi menahan sinyal dan memantulkannya ke bumi. Sinyal tersebut justru diteruskan ke luar angkasa. Akibatnya tidak ada sinyal yang diterima televisi, radio atau telegram. Partikel yang bermuatan dalam angin matahari, magnetometer dan ionosfer membawa aliran listrik berskala besar. Jika aliran ini berubah di dekat bumi, dapat menyebabkan kerusakan peralatan listrik.


Gangguan aurora pada kawat telegraf yang paling menakjubkan terjadi di Amerika Serikat. Sebuah aurora fantastis yang terjadi pada bulan September 1851, telah mengganggu seluruh saluran telegraf di New England dan memporak porandakan transaksi bisnis. Pada tanggal 19 Februari 1852, aurora lainnya tercatat dalam sejara telekomunikasi. Para ilmuwan percaya bahwa aurora mencerminkan apa yang terjadi di magnetosfer, yaitu daerah yang partikel bermuatannya terperangkap oleh medan magnet bumi. Angin matahari menjepit magnetosfer di dekat bumi di siang hari, dan menyeretnya hingga jutaan kilometer pada malam hari.

Penelitian terkini yang melibatkan Spacelab di pesawat ulang-alik telah mempelajari pengaruh aurora. Aurora dapat juga dipotret oleh astronot pesawat ulang alik dan satelit. Satelit dapat memberikan gambaran aurora secara global. Dengan memotret dari angkasa luar, cahaya matahari yang menyilaukan tidak lagi menjadi masalah dan aurora dapat terlihat sama baiknya baik pada siang maupun malam hari.


 
 
 





Sumber:

www.kaskus.us. Disadur tanggal 16 Januari 2009
www.kompas.com. Disadur tanggal 16 Januari 2009
www.tempointeraktif.com. Disadur tanggal 16 Januari 2009
www.tripod.lycos.com. Disadur tanggal 16 Januari 2009
www.wikipedia.com. Disadur tanggal 16 Januari 2009

Kamis, 16 Januari 2014

Hidup!



“Jika seseorang belum menemukan sesuatu untuk diperjuangkan hingga akhir hayatnya, maka kehidupannya tidak berharga.”
-- Martin Luther King Jr, Aktivis HAM

Seorang pejuang yang paling diburu tentara elit istana akhirnya tertangkap hidup. Ia tertangkap setelah beberapa panah menembus kaki kiri dan kanannya. Namun begitu, tangan kakinya tetap dirantai dengan gembok baja.

Sepanjang perjalanan dalam gerobak kayu yang membawanya menuju istana, sang pejuang tidak menampakkan sedikit pun takut dan penyesalan.

Kerumunan rakyat yang secara kebetulan berpapasan dengan iring-iringan tentara dan tawanan sang pejuang menatapinya dengan berbagai rasa. Terbesit di telinga sang pejuang suara rakyat yang berbisik ke sesama mereka,

 “Kasihan, ya!”

Mendapati tawanan sang pejuang sudah tiba di istana, raja begitu gembira. Ia berjanji akan memberi hadiah kepada pasukan elitnya. Saat itu juga, berita gembira itu pun disampaikan sang raja ke seluruh menterinya.

“Besok, ia akan dihukum pancung karena berani menentangku!” teriak sang raja bersemangat.

Salah seorang menteri yang masih kerabat dengan sang pejuang yang ditawan, meminta izin untuk bertemu untuk terakhir kalinya. Ia begitu prihatin melihat keadaan kerabatnya yang begitu mengenaskan. Sambil berbungkuk, sang menteri berbisik,

“Saudaraku, kenapa kau tidak berpura-pura mengakui kekuasaan sang raja. Kalau kamu tetap keras seperti ini, esok kamu akan dihukum mati!”

Sang pejuang yang terkulai lemas pun tiba-tiba menatap tajam kerabatnya.

“Saudaraku, semua yang hidup di dunia ini pasti akan mati. Tapi perhatikanlah, tidak semua yang akan mati itu, benar-benar hidup!” ucap sang pejuang sambil tetap menatap tajam kerabatnya.

Hidup adalah arena pertarungan antara yang hak dan batil. Pertarungan antara idealisme sebuah kebenaran dengan tuntutan syahwat kemanusiaan. Di situlah, Alloh menguji orang-orang beriman dan para aktivis kebenaran: apakah fitrah, nurani, dan jiwa mereka bisa tetap bertahan hidup dalam ruh yang mulia?

Apa yang ingin disampaikan sang pejuang ketika akan berhadapan dengan kematian adalah,

”Saudaraku, hidup bukanlah sekadar bersatunya nyawa dan jasad. Hidup adalah ketika nurani kita bisa tetap konsisten untuk memilih mana yang HAK dan mana yang BATIL, mana KEMULIAAN dan mana KEHINAAN?”


*Night Shift III, CPP LAB.*