Selasa, 07 Januari 2014

Imam An-Nifari: Makna Al-Islam




Alloh berseru kepada hamba-Nya:

“Hendaklah engkau menyerah kepada-Ku dengan sepenuh hatimu, dan menyerah kepada perantara-perantara dengan tubuhmu, supaya engkau bersama-Ku dengan kemauan kerasmu, dan bersama selain-Ku dengan akal budimu.

Maka engkau senantiasa menghimpun kemauan kerasmu atas-Ku, tiada bagian bagi selain-Ku terhadap dirimu melainkan hanya kehadiranmu bersamanya, dengan akal budimu saja.

Maka janganlah engkau bersuka ria atas karunia yang dianugerahkan-Nya kepadamu, dan jangan mudah marah kepada orang yang menyakiti hatimu. Jangan pula bermegah karena kejayaanmu, dan menepuk dada menyombongkan ilmu pengetahuanmu.

Waspadalah, jangan tertipu oleh karunia-Ku, dan jangan putus harapanmu karena ujian-Ku, dan jangan jinak bermanja-manja dengan sesuatu selain-Ku.

Laksanakanlah apa yang menjadi perintah-Ku tanpa menoleh kebelakang, maka jika demikian halmu sama dengan malaikat-Ku yang berkemauan teguh.

Bila engkau berlengah-lengah menanti perintah-Ku—sedangkan engkau sudah mengetahui—, maka jika demikian engkau terang-terangan menentang perintah-Ku.”

-- Imam An-Nifari (Muhammad ibnu Abd Jabbar bin al Husain an-Nifary), Ra’aytullah.

Munajat Sayyidina Ali KW





“Segala puji bagi-Mu, wahai Pemilik Kedermawanan, Keagungan, dan Ketinggian.
Engkau Maha Agung, memberi dan mencegah siapa yang Kau kehendaki.

Hanya kepada-Mu aku mengadu di saat sulit dan bahagia, wahai Tuhanku, Penciptaku, Pelindungku dan Suakaku

Ilahi, jika dosa telah menumpuk, maka maaf-Mu lebih agung dan lebih lapang dari dosaku

Ilahi, jika kuturuti segala kehendak nafsuku, maka kini aku berkelana di sahara penyesalan.

Ilahi, Engkau melihat kefakiran dan kepapaanku, sedangkan Engkau mendengar munajatku yang tersembunyi

Ilahi, jangan Kau putus harapanku dan jangan biarkan hatiku tersesat, karena asaku tertumpu pada aliran karunia-Mu

Ilahi, jangan Kau sia-siakan daku atau Kau campakkan aku, maka siapa lagi yang dapat kuharap dan kujadikan penyafaat

Ilahi, lindungilah aku dari siksa-Mu, karena aku adalah hamba-Mu yang terpenjara, hina, takut dan bersimpuh pada-Mu

Ilahi, bahagiakanlah aku dengan mengajarkan hujjahku bila aku sudah kembali ke alam kuburku

Ilahi, jika Kau siksa daku seribu tahun, maka temali harapanku kepada-Mu tak kan terputus

Ilahi, biarkan aku merasakan manisnya maaf-Mu pada hari tiada keturunan dan harta yang bermanfaat di sana

Ilahi, jika Kau tak menjagaku, niscaya aku kan binasa, dan jika Kau memeliharaku, maka aku takkan binasa

Ilahi, jika Engkau tak maafkan pendosa, maka siapakah yang kan memaafkan orang jahat yang berlumuran hawa nafsu?

Ilahi, jika aku teledor dalam mencari ketakwaan, maka kini aku berlari mengejar maaf-Mu

Ilahi, jika aku berbuat kesalahan tanpa sepengetahuanku, aku selalu mengharap-Mu sehingga orang-orang berkata, “Alangkah tidak takutnya ia!”

Ilahi, dosa-dosaku telah menumpuk bak gunung menjulang, namun ampunan-Mu lebih agung dan tinggi dari dosaku

Ilahi, mengingat karunia-Mu dapat menyelamatkan bara (hati dan kekhawatiran)ku, sedangkan mengingat dosa-dosa, maka mengucurlah air mataku

Ilahi, maafkanlah kesalahanku dan musnahkanlah dosa-dosaku, karena aku mengaku, takut dan bersimpuh di haribaan-Mu

Ilahi, berilah kebahagiaan dan ketenangan kepadaku, karena aku tak kan mengetuk pintu selain-Mu

Ilahi, jika Kau usir aku atau Kau hinakan aku, maka apa dayaku dan tak ada yang bisa kuperbuat, ya Rabbi?

Ilahi, pencinta-Mu kan terjaga sepanjang malam, bermunajat dan memohon kepada-Mu, sedangkan orang yang lupa akan terlelap tidur

Ilahi, makhluk ini berada di antara dua tidur, maka kala sadar ia bersimpuh di malam hari.Mereka semua mengharap karunia agung-Mu, mengharap rahmat-Mu yang agung dan menginginkan keabadian

Ilahi, asaku memberikan sebuah harapan kebahagiaan, sedang keburukan dosaku akan menghinakanku

Ilahi, jika Kau memaafkanku, maka maaf-Mu adalah penyelamatku, dan jika tidak, aku kan hancur dengan dosa yang membinasakan ini

Ilahi, bangkitkanlah aku untuk agama Muhammad dan segera bertaubat, bertakwa, khusyu’ dan bersimpuh di haribaan-Mu

Ilahi, jangan Kau halangi aku dari syafaatnya yang agung, karena syafaatnya pasti terkabulkan. Curahkan sholawat atas mereka selama para muwahhid memohon dan orang-orang saleh bermunajat bersimpuh di pintu-Mu.”

Sabtu, 04 Januari 2014

Khidir AS dan Ali bin Abi Thalib



Pada waktu Ali ra sedang melakukan thawaf, tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki bergantung pada kelambu Ka’bah sambil berdo’a,

”Ya Tuhan, yang tidak direpotkan oleh sebutan-sebutan, yang elok dan tidak disilapkan oleh permintaan-permintaan yang banyak dan tidak disibukkan oleh pengaduan-pengaduan yang bertubi-tubi, bolehlah aku mencicipi dinginnya ampunan-Mu dan manisnya rahmat-Mu”.

Ali ra pun memanggil dan berkata,
”Wahai hamba Allah, ulangilah perkataanmu itu.”

Kata orang itu, ”Apakah Anda mendengarkanku?”

Ali pun menjawab, ”Ya”

Lalu orang itu berkata lagi,
”Demi Khidir yang jiwanya berada didalam genggaman-Nya, siapa-siapa orang yang mengucapkan do’a itu pada setiap selesai shalat fardhu maka pasti ia akan mendapatkan ampunan dosa-dosanya dari Allah, sekalipun dosa-dosanya itu laksana bilangan pasir dan seperti butir-butir air hujan atau bagaikan banyaknya daun-daun pepohonan”.

-- Riwayat Al Khathib dalam tarikh Baghdad dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Abdullah bin Mhraz, dari Yazid bin Ashamm dari Ali bin Abi Thalib

***********************************************************************************

 



Dalam sebuah riwayat lain dikatakan

Ketika Ali bin Abi Thalib sedang thawaf mengelilingi Ka’bah, dia melihat ada seseorang yang sedang bergelanyut di penutup (kiswah) Ka’bah seraya berdoa:

“Yaa man laa yusyghiluhu sam’un ‘an sam’in. Yaa man laa tughlithuhul masaa`il. Yaa man la yatabarromu bi ilhaahil malhiin. Adziqnii burda ‘afwika wa halaawata rohmatika - Wahai Dzat yang tidak sibuk untuk mendengarkan “suara” apa pun. Wahai Dzat yang tidak akan keliru memberi kepada banyak peminta. Wahai Dzat yang tidak pernah bosan dengan permintaan yang terus menerus. Berikan aku sejuknya rasa maaf-Mu dan manisnya rahmat-Mu!”

Ali bin Abi Thalib takjub dan berkata pada orang itu,
“Wahai hamba Allah! Doamu itu sungguh dahsyat!”

“Apakah kamu sudah pernah mendengarnya?” tanya lelaki itu.

“Ya, saya pernah mendengar,” jawab Ali.

Lalu, lelaki itu berkata: “Gunakan doa ini di setiap akhir shalat, demi Dzat yang jiwa Khidir ada ditangannya. Kalau kamu punya dosa sebanyak bintang di langit, dan sebanyak kerikil di bumi. Maka, akan diampuni lebih cepat kedipan mata!”

-- HR. Ibn ‘Asyakir

Dalam Fathul Bari disebutkan, “(Lelaki) dia itu sebenarnya Khidir!”
 

Rabbmu Melihat Hatimu



Pada suatu hari, Hasan Al-Basri pergi mengunjungi Habib Ajmi, seorang sufi besar lain. Pada waktu salatnya, Hasan mendengar Ajmi banyak melafalkan bacaan salatnya dengan keliru. Oleh karena itu, Hasan memutuskan untuk tidak salat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang pantaslah bagi dirinya untuk salat bersama orang yang tak boleh mengucapkan bacaan salat dengan benar.

Di malam harinya, Hasan Al-Basri bermimpi. Ia mendengar Tuhan berbicara kepadanya,
“Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan salatmu, kau akan memperoleh keridaan-Ku, dan salat kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh salat dalam hidupmu. Kau mencoba mencari kesalahan dalam bacaan salatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan tajwid yang sempurna.”

Dunia Makrifat, Dunia Kebahagiaan



Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Da'tsur melihat Rasulullah SAW duduk sendirian di bawah pohon kurma. Saat itu beliau tengah istirahat. Segera saja ia menghampiri beliau, menghunus pedang lalu menodongkannya ke leher Rasulullah SAW.

“Wahai Muhammad, sekarang engkau sendirian. Siapa yang akan menolongmu?”, gertak Da'tsur.
Dengan mantap Rasulullah bersabda, “Allah!”

Mendengar kata “Allah”, Da'tsur langsung gemetar, lemas sekujur tubuhnya, hingga pedang yang dihunusnya jatuh. Rasul segera mengambil pedang itu, lalu balik menodongkannya pada Da'tsur,

“Sekarang, siapa yang akan menolongmu?”, seru beliau.
“Tidak ada wahai Muhammad, kecuali engkau mau menolongku!”

Bagi para ahli makrifat, kisah ini sangat mudah dibaca. Dengan sangat cepat, Rasulullah SAW mampu mengalihkan perhatian dari makhluk kepada kepada Dzat Yang Menguasai makhluk. Mata beliau melihat Da'tsur, namun hati belua fokus kepada Allah yang menguasai Da'tsur. Sehingga apa yang beliau ucapkan sangat powerfull. Kata “Allah” diucapkan sepenuh keyakinan. Itulah yang membuat Da'tsur terguncang.

Saudaraku, ketika kita melihat lukisan yang sangat indah, biasanya pikiran kita langsung tersambung kepada pembuat lukisan tersebut. “Oh sungguh hebat pelukis itu!” Ketika kita melihat robot canggih, kita akan berdecak kagum terhadap insinyur yang merancangnya. Maka, bagaimana mungkin ketika kita melihat kehebatan alam ini, hati dan pikiran kita tidak tersambung kepada Penciptanya? Padahal, semua yang ada di alam ini, termasuk diri kita, mutlak ciptaan Allah! Di sinilah ilmu ma'rifatullah bermain. Andai kita memiliki kesadaran ini, kapan pun, di mana pun dan kapan pun yang ada hanyalah keterpesonaan pada ke-Mahabesar-an Allah. Hati dan lisan kita akan sulit berhenti memuji dan berzikir kepada-Nya.

Salah satu kunci makrifat adalah kecepatan kita dalam mengalihkan fokus pandangan dari makhluk kepada Al-Khaliq. Mata melihat makhluk, telinga mendengar suara, kulit merasa, namun hati dan pikiran yang mengendalikan semua itu terhubung dan tembus kepada Allah. Nah, kecepatan kita mengalihkan fokus pandangan, akan menentukan kualitas hidup dan kebahagiaan diri kita. Semakin cepat mengalihkan perhatian kepada Allah, semakin cepat pula kita meraih kebahagiaan, kedamaian dan ketenangan hakiki.

Sebab, dunia ma'rifat adalah dunia kebahagiaan, kedamaian dan ketenangan.

Allah Swt. berfirman,
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 155-157).

Karena itu, jangan sampai kesibukkan kita bekerja, berbisnis, dan hiruk-pikuk duniawi melalaikan kita dari mengingat Allah. Sungguh tidak akan pernah bahagia orang yang jauh dari Allah. Dunia bukan hal yang bisa mendatangkan kebahagiaan. Dunia sekadar permainan belaka (QS Muhammad [47]: 36). Dunia sekadar sarana untuk mendekat kita pada Allah.

Maka, tidak ada pilihan bila kita ingin bahagia, kecuali hati kita tembus kepada Allah. Mata pada benda, hati pada Allah. Intinya, nikmat hidup bukan pada yang ada dan tiada. Nikmat hidup hanya ada bila kita selalu dekat dengan Yang Selalu Ada. Itulah para ulil albab.

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
(QS. Ali- Imran [3]: 191). Wallaahu a'lam.

-- KH. Abdullah Gymnastiar dikutip dari republika.co.id

Jumat, 03 Januari 2014

An-Nas (Manusia)



“Qul a'uudzu birabbi 'n-naas - Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan manusia.”

Ya, aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan manusia dari saripati angin, yang darinya tercipta nafas, yang dengannya aku hidup.

Dari saripati air, yang darinya tercipta tulang-sumsum, yang dengannya aku hidup.

Dari saripati api, yang darinya tercipta darah, yang dengannya aku hidup.

Dari saripati tanah, yang darinya tercipta kulit-daging, yang dengannya aku hidup.


“Maliki 'n-naas - Raja Manusia.”

Aku berlindung kepada Allah yang merajai manusia. Aku taklukan yang bergerak atau tidak bergerak atas PerintahNya. Terhadap hamba-hambaNya yang takluk dan berserah diri, Tuhan memerdekakan mereka dari rasa takut dan sedih.

Tuhan, yang merajai manusia, lebih tahu tentang hamba-hambaNya daripada diri mereka sendiri. Dia Maha Tahu segala sesuatu. Tuhan, yang merajai manusia, memilih hamba-hambaNya sebagai pemimpin bagi diri mereka sendiri dan pemimpin di muka bumi.


“Ilaahi 'n-naas - Sesembahan manusia.”

Aku berlindung kepada Allah; Tuhan manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia. Allah adalah Tuhan dan akulah makhluk. Allah adalah Raja dan akulah taklukan. Allah adalah Sesembahan dan akulah hamba. Aku berlindung kepada Allah dari keburukan sifat makhluk yang ingkar, taklukan yang melawan, dan hamba yang memberontak. Allah-lah yang mengeluarkan manusia dari mulut rahim ibunya tanpa bisa apa-apa lalu memberi pendengaran, penglihatan, dan akal-budi.

Bagiku, Dia Tuhan, Raja, Sesembahan. BagiNya, aku makhluk, taklukan, hamba. Kepadaku, Dia memberi pendengaran, penglihatan, akal-budi. Sebagai makhluk, taklukan, dan hamba, selayaknya aku berlindung kepada Tuhan, Raja, dan Sesembahan, dari keburukan, kelemahan, dan kelalaianku.


“Min syarri 'l-waswaasi 'l-khannaas - (Aku berlindung) dari kejahatan musuh yang nyata namun tersembunyi.”

Musuh itu dari dalam diri. Dari keburukan yang bersembunyi dalam kebaikan. Dari kehinaan yang bersembunyi dalam kemuliaan. Musuh itu dari dalam diri. Dari kenistaan yang bersembunyi dalam kehormatan. Dari ketamakan yang bersembunyi dalam kemurahan.

Musuh itu di dalam diri. Menjadikan tak jelas lagi mana kesejatian mana kepalsuan, mana ketulusan mana keserakahan. Musuh itu di dalam diri. Menjadi tidak jelas lagi mana kesungguhan mana kebatilan. Mana kerelaan mana keterpaksaan.


“Alladzii yuwaswisu fii shuduuri 'n-naas - Yaitu yang membisikkan [kejahatan] ke dalam dada manusia. ”

Kepada Tuhan segala makhluk, yang mengilhami kefasikan dan ketakwaan kepada jiwa manusia (sebagaimana QS. Asy Syams, 91:8), aku berlindung dari diriku sendiri. Kepada Tuhan segala ciptaan, aku berlindung dari saripati angin, air, api, dan tanah dalam diriku yang menjelma nafsu-nafsu. Kepada Tuhan segala asal-muasal, aku berlindung dari angan yang berumah di kepala dan ingin yang berumah di dada. Kepada Tuhan segala kejadian, aku berlindung dari dosa dan pahala yang menyekutukan Allah dengan upaya dan pamrih manusia.

Kepada Tuhan segala kejadian, aku berlindung dari dosa dan pahala yang menyekutukan Allah dengan upaya dan pamrih manusia. Sungguh, yang dibisikkan ke dada manusia adalah prasangka. Darinya muncul benci dan cinta yang dari keduanyalah fasik dan takwa.


“Mina 'l-jinnati wa 'n-naas - (Pembisik kejahatan itu) dari golongan jin dan manusia.”

Aku berlindung kepadaMu ya Tuhan, Raja, dan Sesembahan, dari golongan jin dan manusia yang membisikkan tipudaya ke dalam dada. Sesungguhnya tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah, maka sepatutnya kami berlindung kepadaNya dari saling goda. Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan, yang menjelma bayangan bagi nafsu, sehingga tak mudah membedakan mana dia mana aku. Dan, aku berlindung kepada Allah dari malaikat, dari pencatatannya yang membuatku berhitung laba dan pahala dari setiap tindakan.

Aku berlindung kepada Allah yang meliputi segala sesuatu. Dia bukan di dalam, bukan di luar, bukan di atas, bukan pula di bawah. Aku berlindung kepada Allah yang meliputi segala sesuatu. Dia tidak di depan, tidak di belakang, tidak di kiri, tidak di kanan. Dialah Allah yang menciptakan aku. Dan, aku pun bukan utara, timur, selatan, barat. Aku bukan arah bagi diriku. Aku tepat berada pada diriku sendiri. Akulah penentu segala penjuru. Aku berlindung kepada Allah. Dialah Tuhanku, Rajaku, Sesembahanku. Akulah makhlukNya, taklukanNya, hambaNya. Aamiin...

Rabu, 01 Januari 2014

Doa Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA



 “Ya Alloh, peliharalah kehormatan wajahku dengan kecukupan. Jangan jatuhkan martabatku dengan kemiskinan, sehingga aku terpaksa mengharapkan rizki dari manusia, yang justru mengharapkan rizki-Mu, atau memohon belas kasihan dari hamba-hambamu yang jahat. Atau tertimpa bala’ sehingga memuji siapa yang memberiku atau mencela siapa yang menolakku. Sedangkan Engkau, Engkaulah yang ada di balik semuanya itu, yang sebenarnya memberi atau menolak. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah yang Mahakuasa atas segala-galanya.

Allahumma, Engkaulah yang paling dekat menghibur para wali-Mu, yang paling menjamin kecukupan bagi siapa saja yang bertawakkal kepada-Mu. Engkau melihat sampai ke lubuk hati mereka, menembus jauh ke dalam nurani mereka. Semua rahasia mereka telanjang dihadapan Engkau, semua bisikan hati mereka mendamba dan mengharap dari-Mu. Bila tersiksa dengan keterasingan, mereka terhibur dengan sebutan-Mu. Dan bila tercurah atas mereka aneka ragam musibah, mereka pun berlindung kepada-Mu. Mereka sungguh-sungguh mengerti bahwa kendali atas segalanya ada di tangan-Mu, sebagaimana pula bahwa segala kemunculannya berasal dari ketentuan-Mu.

Allahumma, bila aku tak mampu mengutarakan permohonanku, atau tak mampu melihat keinginanku, tunjukilah aku sesuatu sejauh yang akan mendatangkan maslahat bagiku. Sebab, itu semua bukanlah hal yang menakjubkan jika ada di antara jalan-jalan hidayah-Mu, bukan pula itu adalah sesuatu yang baru diantara kekuasaan-kekuasaan-Mu.

Allahumma, sikapilah daku dengan ampunan-Mu, dan jangan perlakukan aku dengan keadilan-Mu.”

-- Ali bin Abi Thalib r.a. dari Nahjul Balaghah.


Catatan:
“Allahumma, bila aku tak mampu mengutarakan permohonanku, atau tak mampu melihat keinginanku, tunjukilah aku sesuatu sejauh yang akan mendatangkan maslahat bagiku. Sebab, itu semua bukanlah hal yang menakjubkan jika ada di antara jalan-jalan hidayah-Mu, bukan pula itu adalah sesuatu yang baru diantara kekuasaan-kekuasaan-Mu.”

Maksudnya, Ya Alloh, jika aku tak tahu lagi harus meminta apa, atau tak mampu lagi mendefinisikan keinginanku sendiri, maka perjalankanlah aku ke mana saja yang Kau tahu akan membawa kebaikan bagiku. Sebab hal-hal seperti itu sama sekali bukan keajaiban jika terjadi pada mereka yang menempuh jalan-jalan yang Engkau tunjuki, dan bukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya (sudah sesuatu yang lumrah terjadi) bagi kekuasaan-Mu (tidak ada yang ajaib dan mengherankan jika dilihat bahwa Dia Mahakuasa).

“Allahumma, sikapilah daku dengan ampunan-Mu, dan jangan perlakukan aku dengan keadilan-Mu.”

Maksudnya, jika Alloh mengedepankan keadilan-Nya, maka setiap kesalahan dan kekhilafan akan langsung diberi balasan yang setimpal, saat itu juga. Padahal tak ada satu pun manusia yang bebas dari kesalahan, yang selalu benar seratus persen. Yang membuat Alloh menunda, menunggu permohonan ampun adalah sifat Maha Penyayang dan Maha Pengampun-Nya.