Senin, 10 Februari 2014

Ibadah



“Tiada sholat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu’.
Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia.
Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur’an tanpa mengambil pangajaran daripadanya.
Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara’.
Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi.”
-- Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah


Diriwayatkan dari sebagian isteri-isteri Nabi SAW bahwa suatu hari kami sedang asyik berbincang-bincang dengan beliau, begitu datang waktu shalat seakan-akan kami tidak saling mengenal dan satu sama lain sibuk dengan dirinya sendiri untuk menghadap Al-Haq.

Sayyidina Ali ketika sudah masuk waktu shalat tampak gelisah dan goncang, beliaupun ditanya oleh sahabatnya; “Ada apakah gerangan yang membuat anda gelisah dan risau?”

Beliau menjawab;
“Telah datang waktu amanat yang Alloh tawarkan kepada semua langit dan bumi namun mereka semua menolak untuk mengemban amanat tersebut.”

Dalam kondisi lain ketika siap untuk berwudhu wajah beliau berubah menjadi pucat. Hal ini ditanyakan oleh sahabat beliau dan dalam jawabannya beliau berkata; “Tidakkah kau mengerti di hadapan siapakah aku akan berdiri?”


*Kisah tentang dicabutnya panah dari kaki Imam Ali As pada waktu sholat.

Kisah ini banyak disebutkan dan dinukil pada literatur hadis dengan nukilan dan kutipan yang beragam. Meski literatur-literatur dan buku-buku yang mengutip kisah ini tidak termasuk sebagai literatur dan buku derajat pertama, namun perlu diingat bahwa pertama, kisah ini disebutkan dalam beragam literatur, baik literatur Syiah atau pun Sunni; seperti Irsyâd al-Qulûb Dailâmi, al-Anwâr al-Nu’mâniyah, al-Manâqib al-Murtadhawiyah, Hilyat al-Abrâr, Muntahâ al-Âmal, al-Mahajjat al-Baidhâ demikian juga pada buku-buku fikih seperti al-Urwat al-Wutsqâ. [1]

Kedua, para penyusun buku dan periwayat kisah ini adalah ulama popular dan telah dikenal. Ketiga, kandungan kisah ini tidak bertentangan dengan akal dan riwayat, bahkan akal dan riwayat justru mendukung kemungkinan terjadinya peristiwa seperti ini; karena itu, menurut hemat kami, tidak ada masalah menjelaskan inti peristiwa ini berdasarkan kriteria-kriteria dan standar-standar ilmiah riwayat.

Dalam menjelaskan pandangan rasional masalah ini terdapat dua dalil yang dapat disebutkan:

1. Di antara tipologi dan karakter penting Ali bin Abi Thalib As adalah gemar dan cinta pada ibadah sedemikian sehingga Ibnu Abi al-Hadid Mu’tazilidalam Syarh Nahj al-Balâghah menulis, “Baginda Ali adalah orang yang paling abid dalam urusan ibadah; salat dan puasanya lebih banyak dari kebanyakan orang. Orang-orang belajar darinya salat malam dan dzikir-dzikir serta amalan-amalan mustahab.” [2]

Imam Ali As sedemikian khusyu dalam ibadah dan perhatiannya tercurah sepenuhnya pada AllohSwt sehingga untuk mengeluarkan anak panah yang menghujam di kakinya pada perang Shiffin dan tidak mampu dicabut dari kakinya dalam kondisi normal, maka pada waktu salat, dalam kondisi sujud anak panah itu dicabut dari kakinya. Tatkala Imam Ali As usai menunaikan salat, beliau sadar bahwa anak panah telah dicabut dari kakinya. Beliau bersumpah bahwa ia tidak merasakan bagaimana anak panah itu dicabut; [3] Mengingat bahwa salat adalah tiang agama, pilar mikraj dan munajat maka orang yang mengerjakan salat sejatinya berada dalam kondisi ‘uruj (melesak) menuju Alloh Swt dan berbisik-bisik dengan-Nya. Karena itu, mata, telinga, tangan dan kaki seluruhnya dalam kekuasaan Alloh Swt dan tidak berada dalam kekuasaan orang yang mengerjakan salat.

Di samping itu, iman Ali bin Abi Thalib adalah iman yang berdasarkan pada pengenalan hakiki dan memandang ibadah kepada Tuhan sebagai ziarahnya demikian juga salat sebagai bukti-bukti Ilahi dan ziarah kepada Tuhan. Imam Ali Abin Thalib memandang Tuhan sebagai kieindahan mutlak. Karena itu, tentu saja beliau tidak lagi melihat dirinya. Imam Ali As menyembah Tuhan dalam kondisi merdeka dan terlepas dari segala bentuk keterikatan dan ketergantungan pada selain-Nya. [4]

2. Pelbagai kondisi para nabi, para imam dan para wali Allah dalam salat tidak semuanya harus sama. Terkadang dengan menjaga kehadiran hati (hudhur al-qalb), mereka juga tetap menaruh perhatian terhadap alam majemuk (dunia) dan pelbagai manifestasi material. Mereka tidak melalaikan hal ini. Apabila terjadi sebuah masalah, mereka menunjukkan reaksi apabila diperlukan. Dan terkadang mereka tenggelam dalam samudera alam malakut dan tidak melihat segala sesuatu selain Zat Suci Alloh Swt. Mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Bahkan mereka sama sekali melupakan badannya sendiri sehingga seolah-olah panca indra mereka tidak lagi berfungsi tatkala tersedot magnet cinta dan irfan Rabbani. Mereka tidak merasakan segala sesuatu yang berhubungan dengan badan. Ditariknya anak panah yang menancap di kaki Imam Ali As pada waktu salat dalam kondisi sujud juga demikian adanya. [5]

Karena itu, dengan memperhatikan nukilan dan riwayat yang beragam dalam masalah ini yang sebagian secara lahir terasa aroma ghuluw (kecendrungan mendudukan Imam Ali pada maqam rububiyah) namun hal itu tidak akan menciderai inti kejadian kisah ini. Dan nampaknya inti cerita adalah yang disebutkan pada buku Syarh Nahj al-Balâghah dan Hayât-e Ârifân-e Imam Ali As sebagaimana yang telah kami jelaskan pada penjelasan bagian pertama di atas.

Kisah ini, tidak hanya tidak akan mendegradasi kedudukan dan derajat Imam Ali As bahkan akan menyebabkan pemuliaan dan pengagungan terhadap Imam Ali As; karena sebagaimana para wanita Mesir yang terpesona dan fana ketika menyaksikan paras rupawan Nabi Yusuf As sehingga tanpa sadar mereka memotong jari-jari mereka sendiri, kisah Imam Ali As juga demikian adanya. Karena Imam Ali As hanya melihat keindahan mutlak, sedemikian apa adanya sehingga seluruh anggota badannya tidak dirasakan dan sepenuhnya berada dalam wewenang Ilahi. Dalam kondisi seperti ini, Imam Ali tidak lagi melihat dirinya dan menaruh perhatian terhadap kemilau dunia.Dengan demikian, wajar ketika anak panah itu dicabut dari kaki Imam Ali dalam kondisi sujud, Imam Ali As tidak merasakan apa pun.

Catatan;
[1]. Dailami, Irsyâd al-Qulûb, jil. 2, hal. 25 & 26, Intisyarat-e Nashir, Qum, Cetakan Pertama, 1376 S. Sayid Ni’matullah Jazairi, al-Anwâr al-Nu’maniyah, jil. 2, hal. 371, Syerkat Cap Tabriz; Muhammad Saleh Kasyfi Hanafi, al-Manâqib al-Murtadhawiyah, hal. 364. Sayid Hasyim Bahrani, Hilyat al-Abrâr, jil. 2, hal. 180; Syaikh Abbas Qummi, Muntahâal-Âmal, hal. 181, Capkhane Ahmadi, Cetakan Kesembilan, 1377; Faidh Kasyani,al-Mahajjat al-Baidhâ, jil. 1, hal. 397 & 398, Beirut; Anwâr al-Nu’mâniyah, hal. 342. Demikian juga buku-buku fikih sepertial-Urwat al-Wutsqâ, Muhammad Kazhim Yazdi, Ibadat, Bab al-Shalat.
[2]. Abdul Hamid ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balâghah, jil. 1, hal. 27, Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyah.
[3]. Habibullah Khui, Syarh Nahj al-Balâghah, jil. 8, hal. 152; Abdullah Jawadi Amuli, Hayât-e‘Ârifân-e Imâm‘Ali As, hal. 63 & 64. Markaz Intisyarat-e Isra, Cetakan Keempat, 1385; referensi-referensi yang disebutkan pada catatan kaki No. 1.
[4]. Abdullah Jawadi Amuli, Hayât-e‘Ârifân-e Imâm‘Ali As, hal. 62 & 64, dengan sedikit perubahan dan ringkasan.
[5]. Disadur dari Hayât-e‘Ârifân-e Imâm‘Ali As, hal. 62 & 64; Murtadha Muthahhari, Imâmat wa Rahbari, Qum, Sadra, Cetakan Keempat, 1365 S, hal. 180-181.

Pengertian Tafakkur dalam Pandangan Tasawuf dan Filsafat


Secara umum, tafakkur diartikan bagaimana memikirkan, merenungkan atau meditasi terhadap sesuatu ilmu pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam hanya menyuruh manusia untuk memikirkan dan merenungkan makhluk Allah swt serta alam semesta ini dengan segala fenomenanya dan melarang untuk memikirkan Zat Allah swt, kecuali orang yang memiliki kemampuan tafakkur secara khusus, seperti filosof dan sufi.

Dalam konsep tasawuf, tafakkur tidak hanya sekedar untuk mengetahui dan menetapkan adanya Tuhan, tetapi lebih dari itu untuk mencari nilai dan rahasia dari suatu objek yang sedang dipikirkan dan direnungkannya sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan tanpa sia-sia. Dengan demikian, kosmologi sufi bertalian aspek-aspek kualitatif dan simbolik benda-benda, bukan dengan aspek-aspek kuantitatif benda-benda. Ia menangkap cahaya di atasa benda-benda, sehingga benda-benda itu menjadi objek perenungan(tafakkur)yang bernilai, mudah dimengerti serta jernih, dan hilang kekaburan serta kegelapannya. Tafakkur baginya adalah untuk memperoleh pengetahuan Tuhan dalam artian yang hakiki.

Menurut para sufi, tafakkur merupakan kunci segala kebaikan karena akan membentuk segala kegiatan kognitif seorang mukmin dengan zikir kepada Allah, berkenalan dengan keagunganNya, bertafakkur dan memahami hikmah-hikmah yang terkandung dalam keajaiban segala ciptaanNya dari segala sisi-sisinya. Tafakkur merupakan faktor pemantap keimanan dan pembeda keimanan para muttaqin. Allah swt menciptakan akal, melengkapi perjalanannya dengan wahyu, kemudian memerintahkan pemiliknya untuk melihat segala ciptaanNya melalui tafakkur, mengambil pelajaran dari segala keajaiban yang terdapat dalam ciptaanNya itu.

Sedangkan tafakkur dalam konsep filosof, diartikan sebagai pemikiran yang sungguh-sungguh. Yaitu suatu cara berfikir yang berdisiplin, di mana seseorang yang berfikir sungguh-sungguh takkan membiarkan idea dan konsep yang sedang dipikirkannya berkelana tanpa arah, namun kesemuanya itu akan diarahkannya pada suatu tujuan tertentu. Tujuan tertentu itu, dalam hal ini, adalah pengetahuan. Berfikir keilmuan atau berfikir sungguh-sungguh, adalah cara berfikir yang diarahkan kepada pengetahuan.

Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Dewan Redaksi Ensilopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Juz V (cet. III; Jakarta: PT. Ichtiar Van Hoeve, 1994).
al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Qalam, t..t). Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, (cet. XIII; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1997).


Sumber
http://www.referensimakalah.com/2012/08/pengertian-tafakkur-dalam-pandangan-tasawuf-dan-filsafat.html

Tafakur II


Malam yang selalu menyemangati kala bertafakur terhadap realitas, alam semesta, keberadaan, dan segalanya sampai pada kedalaman diri. Gejala yang membuat siklus terpacu yang ter-hidden termumpuni koneksi dari penyingkapan pada sistem realitas.

Manusia diperintahkan untuk tafakur, yakni memikirkan kebesaran Alloh. Tafakur merupakan anak kunci bagi Iman, dengan tafakur menimbulkan penglihatan hati kepada Alloh. Tafakur adalah suatu jalan yang menimbulkan perasaan keindahan hati yang bertalian dengan Alloh. Tafakur sebagai pelita hati, apa bila padam maka tidak bercahaya, langsung terhijab penglihatan hati terhadap Alloh dan jadilah hatinya gelap pekat. ketika itu nafsu, syahwat dan segala kesyirikkan akan selalu meliputi. Astagfirullahal ‘adzim..

Seperti halnya rezeki, maka hikmah inipun hanya diberikan Alloh kepada orang-orang yang berusaha untuk mendapatkannya; yaitu yang mau menggunakan kemampuan AKAL dan RASA yang dimilikinya untuk bertafakur.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:
“Tiada ilmu yang lebih baik daripada hasil tafakur.”

Seorang ulama besar bernama Hasan Al-Basryi pernah berkata: “Tafakur itu seperti cermin yang dapat menunjukkan kebaikanmu dan kejelekanmu. Dengan cermin itu pula manusia dapat melihat kagungan dan kebesaran Alloh Yang Maha Tinggi. Disamping itu, dengan cermin itu pula manusia dapat melihat tanda-tanda yang diberikan Alloh, baik yang jelas maupun yang samar, sehingga akhirnya ia dapat berlaku lurus di dalam pengabdian kepadaNya.”

*Night Shift I, CPP Lab KPC*

Cahaya, Cahaya, Cahaya

“Ya Alloh, jadikanlah hatiku bercahaya, lisanku bercahaya, pendengaranku bercahaya, penglihatanku bercahaya, dari arah belakangku bercahaya, dari arah depanku bercahaya, dari arah atasku bercahaya dan dari arah bawahku bercahaya. Ya Alloh, berikanlah cahaya padaku.”
-- HR. al-Bukhari

Gelap tiada mungkin bisa bertemu cahaya, karena ketika cahaya datang, lenyaplah gelap dan terpandanglah apa-apa yang terlihat. Namun ketika Cahaya padam gelap meliputi keseluruhan sampai disetiap celah dan sudut. Lantas, yang terlihat tiada lagi terpandang.

Ketika kegelapan menyelimuti, maka fitrah diri akan bersegera menemukan cahaya dengan sepenuh harapan. Kegelapan menyesakkan dada dan cahaya menentramkan Jiwa. Hanya orang Gila yang Acuh tak Acuh dengan ada atau tidak adanya cahaya..

Menyibak jendela menatap Rembulan
hati bahagia meresap nuansa
menembus tabir menatap ar-Rahman
jiwa tertetak diam terpana

Jika kau bertanya apa itu melihat, maka inilah penglihatan, inilah kesadaran

Rumi berkata: "Hakikat Kehidupan adalah Penglihatan."

Hamba menyambut: "Penglihatan adalah Akal dan Akal adalah Penglihatan."

Bagaimana dengan, "Alloh adalah Cahaya Langit dan Bumi?"

Hamba menyambut: "Ia lah Yang Tampak dan Menampakkan Langit dan Bumi."

Alloh Cahaya langit dan bumi. Apakah itu Cahaya?
Cahaya adalah yang tampak jelas dengan sendirinya dan menampakkan (menjelaskan) yang lain.

Apakah itu Wujud? Wujud adalah yang ada jelas dengan sendirinya dan memberikan keberadaan yang lain.

Dan apakah itu Akal? Akal adalah yang memahami dengan jelas dirinya sendiri dan memahami yang lain.

An-Nur (Cahaya) adalah Alloh. Al-Wujud adalah Alloh. Dan Al-'Aaqil adalah Alloh. Cahaya, wujud, akal serupa tapi tak sama, sama tapi tak serupa. Ketiganya menunjukkan pada satu sifat yang sama. Pernyataan diri (swa-bukti) dari Hakikat Tuhan Yang Maha Tinggi. Manifestasi (tajalliyyat) Dzat Allah yang memang merupakan hakikat Wujud. Hakikat Cahaya adalah Wujud. Wujud adalah hakikat Akal. Hakikat Akal adalah Cahaya.

Melihat adalah suatu ungkapan yang mungkin paling merepresentasikan sekaligus "menyadari kehadiran" cahaya, "menyadari kehadiran" pemahaman ataupun "menyadari kehadiran" keberadaan. Melihat merupakan ungkapan yang paling terang tentang pemahaman.

Alloh Cahaya langit dan bumi. Alloh Yang Melihat (Al-Baashir) dan Melihat (Al-Bashar) adalah Dzat-Nya. Jadi Alloh Melihat dengan Dzat-Nya, hakikat yang dilihat adalah KeAgungan-Nya Sendiri, -yang tidak lain pula adalah Dzat-Nya. Alloh Yang Mendengar (As-Saami’) dan Mendengar (As-Sam’) adalah Dzat-Nya. Alloh Yang Mengetahui (Al-’Aliim) dan Mengetahui (Al-’Ilm) adalah Dzat-Nya. Alloh Cahaya (An-Nuur) dan Mencahayai (Al-Munawwir) adalah Dzat-Nya.

Alangkah indahnya pelajaran yang diberikan dalam cuplikan riwayat dari Sayyidi Ja’far Ash-Shadiq (r.a) berikut ini; "Selamanya Alloh ’Azza wa Jalla adalah Tuhan kita, Mengetahui (Al-’Ilm) adalah Dzat-Nya dan bukan ma’luum (obyek pengetahuan), Mendengar (As-Sam’) adalah Dzat-Nya dan bukan masmu’ (obyek pendengaran) dan Melihat (Al-Bashar) adalah Dzat-Nya dan bukan mubshar (obyek penglihatan), dan Berkuasa (Al-Qudrah) adalah Dzat-Nya dan bukan maqdur (obyek kekuasaan). Ketika Dia menciptakan segala sesuatu dan semuanya itu adalah al-ma'luum (obyek pengetahuan), maka terjadilah pengetahuan ('ilm) dari-Nya atas yang ma’luum itu, pendengaran atas yang didengar, penglihatan atas yang dilihat, kekuasaan atas yang dikuasai."

Bertasbih kepada Alloh, apa yang ada di langit dan di bumi. Segala Puji bagi Alloh, Pemuji, Yang Terpuji, maupun Pujian, satu Ada-Nya, Alloh, Alloh, Alloh..

Alloh adalah Cahaya langit dan bumi. Cahaya itu tampak dan menampakkan yang lain. langit dan bumi di sini bukan merupakan "sesuatu", sehingga tidak dikatakan Alloh itu Cahaya atas langit dan bumi. Mudahnya? Alloh itu lah yang tampak dan menampakkan segenap alam yang kita sebut sebagai langit ataupun bumi.

Dalam bahasa filosofis, Cahaya bisa merupakan simbolisasi Wujud (keberadaan). Karena wujud itu ada dan memberikan keberadaan yang lain. Wujud ada dengan sendirinya, dan wujud memberikan keberadaan pada yang "lain".

Sebagaimana Syaikh Al-Ishraq Suhrawardi mengatakan bahwa hakikat dari Cahaya adalah "manifestasi", maka hakikat dari Wujud adalah (penampakan) keberadaan-Nya.Wujud itu mempunyai sifat self-evident (swa-bukti / terbukti sendiri), dan sifat swa-bukti ini lah yang menyebabkan "tercipta-nya" alam plural ini.

Secara agak simbolis (tidak murni filosofis), dapat dinyatakan urutan bebas waktu dari penciptaan adalah sebagai berikut:

Pada saat wujud "ingin" menampakkan diri, yang pertama "melihat" atau "memahami" adalah Akal Pertama, yang biasanya disebut dengan Nur Muhammad atau hakikat Muhammadiyyah.

Dari Nur Muhammad ini Tuhan menampakkan dirinya pada diri-Nya sendiri di alam plural ini, melalui berbagai Nama-Nama-Nya. Dan semua yang ada di alam ini sebenarnya hanya-lah Nama-Nya.

Alloh memuji diri-Nya sendiri (Muhammad), dengan Sholawat kepada (hakikat) Muhammad. Dzat Yang memuji adalah Alloh. Dzat Yang dipuji adalah Alloh. Dzat Pujiannya adalah Alloh. Dan ini termaktub dalam akal pada tiap dzarrah terlembut di seluruh alam maupun pada tiap yang terbesar di seluruh alam ini.

Innallaha wa malaikatahu yusholluuna 'alan-nabiy. Yaa ayyuhalladziinaaamanuu, sholluu 'alaihi wasalimuu tasliima. Sesungguhnya Alloh dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab: 56)

Bersyukurlah dianugerahi menjadi bagian dari ummat Sayyidina Muhammad SAW, karena sungguh, semua Nabi dan semua Rasul Alloh pada zaman sebelumnya menginginkan menjadi ummat Sayyidina Muhammad shollallahu'alayhi wa sallam.

Yaa Muhammad Ya Alloh, Yaa Dhohir Yaa Bathiin..

Minggu, 09 Februari 2014

Fitrah Manusia

Puji kepada-Nya selalu. Sumber Segala Yang Wujud di milyunan alam. Alam material maupun immaterial. Lahiriah maupun ruhaniah.

Puji kepada-Nya selalu. Sumber segenap Cahaya Rahmat dan Kesempurnaan. Yang Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Dari keseluruhannya, dari sebagiannya maupun dari zarrah-zarrah terkecilnya maupun yang ada di balik itu semua.

Puji kepada-Nya selalu. Yang kekuatan-Nya mengaliri Segala. Sehingga tampak langit-langit material tanpa tiang, dan adakah pula tiang yang terlihat bagi langit-langit Ruhaniah.

Puji kepada-Nya selalu. Yang memancarkan dari Wujud-Nya yang Kekal Mewangi, Ruh ke dalam tubuh-tubuh mahalemah dari tanah dan air yang nista ini. Sehingga segala yang ada di tujuh lapisan langit keberadaan ini senantiasa menyampaikan Shawalat dan Salam kepada Junjungan Kita, Insan-Kamil, Manusia Sempurna, Muhammad (SAWW), dan betapa para malaikat harus bersujud kepada Kakek Kita YM, Nabi Adam a.s.

Puji kepada-Nya selalu. Yang memuliakan Bani Adam dengan Amanah Suci. Yang tidak mampu ditanggung oleh langit dan bumi…Yang menunjukkan jalan-Nya kepada Bani Adam untuk melaksanakan amanah ini dengan Nabi dan Risalah Yang Terang, dan dengan hati yang bagaikan cermin jernih menangkap Cahaya dari para Nabi dan Wali-Wali-Nya.

Maha Suci Nama-Mu, Duhai Tuhan Pujaan hati-ku. Duhai Tuhan Sari Cinta-ku. Duhai Tuhan segala ruang dan segala waktu. Duhai Tuhan segala imajinasi dan yang nyata.

Maha Suci Nama-Mu, dari apa yang aku sifatkan. Karena sungguh seluruh keterbatasan diriku yang mahalemah ini niscaya mensifatkan sesuatu yang terbatas, dan Maha Suci Engkau. Engkau-lah Wujud Sempurna Tiada Berbatas. Lautan Agung Kesempurnaan Tiada Tara Yang Tunggal dalam KesendirianMu Yang Abadi.

Pena Penciptaan menorehkan satu tujuan yang jelas bagi pencipataan jin dan manusia. Beribadah kepada-Nya. Beribadah kepada Yang Maha Agung. Beribadah dengan sepenuh hakikat diri kita kepada-Nya. Tuhan telah menciptakan jin dan manusia kita untuk beribadah kepada-Nya.

Maka dalam diri manusia ada sesuatu hasrat abadi untuk mengagungkan sesuatu dan menuhankannya. Memuliakan sesuatu dan memujinya tiada berbatas. Menalikan dirinya pada sesuatu yang kokoh dan menggantungkan nasibnya pada sesuatu ini. Ini adalah beberapa dari unsur-unsur yang substansial dalam ibadah. Beribadah kepada Tuhan adalah substansial dan essensial dalam diri manusia. Tidak aksidental dan additional. Beribadah kepada Tuhan adalah keniscayaan penciptaan suatu kemestian yang dilakukan manusia bukan keharusan.

Karena itu jika hati manusia di suatu saat tidak mengakui Tuhan Alloh (SWT), Tuhan Yang Sebenarnya, maka pasti hatinya tertaut pada tuhan-tuhan selain Alloh. Atau manakala hati sedang melupakan Tuhan, pasti ada tuhan-tuhan lain yang diingat selain Alloh. Apakah itu harga. Apakah itu kedudukan. Apakah itu anak. Apakah itu istri. Apakah itu hasil karya. Apakah itu partai. Apakah itu mobil. Apakah itu keinginan-keinginan nafsunya yang lain.

Bayangkan ada seorang Romeo yang tengah merindukan Julietnya yang tak kunjung tiba. Lentik alis dan kecantikan Juliet yang tiada banding tentu membayanginya setiap saat setiap waktu. Mengganggu hati yang tentram. Menggundahkan sukma. Mencairkan wadah-wadah airmata hati.

Betapa mungkin seorang beriman melupakan TuhanNya, sedang ia menyaksikan kebesaran TuhanNya setiap saat dan setiap waktu di seluruh ufuk dan cakrawala alam maupun jiwa. Dan ia tahu dengan sebenar-benarnya pengetahuan bahwa Tuhan-lah sumber seluruh kecantikan wanita yang tercantik maupun bidadari surgawi, sumber keindahan semua keindahan, sumber kasih semua yang mengasihi. Ia tahu bahwa Ia lah yang Maha Indah, Maha Agung, Maha Cantik (Al-Jamiil), Maha Kasih. Betapa mungkin seorang berimana menegasikan satu interval pendek waktu hidupnya dengan hati yang lupa kepadaNya?

Ya, sungguh hanya dengan berdzikir pada Alloh-lah, hati menjadi tentram. Sebagaimana bayi dicipta untuk merintih kehausan, maka tatkala ia menemukan tetek ibunya kembalilah ia dalam ketentraman. Begitu pula fitrah manusia senantiasa merindukan Nama-Nama Alloh.

Yaa Alloh, sungguh kami adalah hambamu yang dhoif, hina dan terhina, yang fakir dan miskin dihadapanMu.
Yaa Alloh, duhai Tuanku, duhai Kecintaanku, dan DambaanKu
Sungguh hati kami telah bertabir
Dan jiwa kami berkekurangan
dan Akal kami tertipu
dan hawa nafsu kami telah menipu
dan ketaatanku kepadaMu sedikit
dan kemaksiatanku banyak
dan kini lisanku mengakui semua dosaku ini

Maka bagaimanakah dengan seluruh keadaanku ini,
Duhai Yang Menutupi Semua Keburukan
Dan Duhai Yang Mengetahui Semua Yang Ghaib
Dan Duhai Yang Menyingkapkan Semua Kesulitan
Ampunilah dosa-dosa ku Seluruhnya
Dengan kehormatan Muhammad dan Keluarga Muhammad

Wahai Yang Maha Pengampun
Wahai Yang Maha Pengampun
Wahai Yang Maha Pengampun
Dengan rahmatMu, Duhai Yang Paling Pengasih dari semua yang pengasih.

Allahumma sholli ‘ala Muhammadin, wa aali Muhammad.

Jumat, 07 Februari 2014

Hati



“Wasaari'uu ilaa maghfiratin min rabbikum wajannatin 'ardhuhaa alssamaawaatu waal-ardhu u'iddat lilmuttaqiina - Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
{QS. Al-Imran, 3;133}

Salah seorang sahabat bertanya; Apabila area surga seluas langit dan bumi, apakah neraka masih ada tempat? Rasulullah terdiam pada waktu itu. Kemudian turunlah ayat;

“Inna fii khalqi alssamaawaati waal-ardhi waikhtilaafi allayli waalnnahaari laaayaatin li-ulii al-albaabi -  Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat petunjuk bagi orang-orang yang berakal.”
{QS. Al-Imran, 3;190}

Berualang kali Allah memberikan akhiran ayat dengan "Laaayaatin li-ulii al-albaabi", ayat atau petunjuk yang hanya ditangkap oleh mereka yang berakal sempurna, yang tidak berakal sempurna tidak akan memahami, bahkan membantah.

Sesungguhnya pada diri manusia (qalbi) ada kejadian silih bergantinya malam dan siang, apabila qalbinya beriman maka surgalah ia keadaannya (diumpamakan terjadinya siang), lenyaplah nerakanya. Dan apabila hatinya berganti kafir maka nerakalah ia keadaanya (diumpamakan terjadinya malam), lenyaplah surganya.

Berualang kali Alloh menyebut malam dan siang, langit dan bumi, tidak lain untuk menerangkan qalbi (hati) manusia.

“Yuuliju allayla fii alnnahaari wayuuliju alnnahaara fii allayi wahuwa 'aliimun bidzaati alshshuduuri - Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”
{QS. Al-Hadiid, 57:6}

“Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik' - Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”

Sesungguhnya Alloh menciptakan surga seluas langit dan bumi, demikian juga neraka. Keduanya bergantian laksana pergantian antara malam dan siang.

Ketentuan Alloh terhadap amalan tiap orang lah yang mencerminkan komposisi waktu antara malam dan siang berbeda, ada yang malam lebih panjang dari siang, ada yang siang lebih pajang dari malam.

Hati manusia dijadikan kafir dan mukmin seperti pergantian antara malam dan siang.

Rasul bersabda:
“Sesungguhnya hati manusia berada diantara dua jari-jari Alloh. Alloh membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya.”

dan

“Sungguh hati anak Adam lebih cepat berbolak-balik dari periuk yang sedang sangat mendidih.”

Sesungguhnya Alloh SWT menjadikan tabir antara manusia dan hatinya. Tabir itulah yang mencegah seseorang dari bermusyahadah, bermuroqobah, mengenal sifat-sifat-Nya, dan juga cara berbolak-baliknya hati di antara Yang Maha Pemurah.

“Mereka telah lupa kepada Alloh, maka Alloh pun melupakan mereka.”
[QS. At-Taubah, 9:67]

Jika seseorang telah lupa kepada Tuhannya, maka Alloh pun akan lupa kepadanya, yang akhirnya mereka akan lupa kepada diri mereka sendiri.

“Seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”
[QS. Al-Hasyr, 59:19]

Seseorang yang tidak mengenal hatinya untuk bermuroqobah kepada Alloh dan menjaganya, maka orang tersebut termasuk dalam kelompok orang diatas. Maka hendaknya sebagai seorang hamba bermunajat;

“Rabbabaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa wa Hab Lana Mil-Ladunka Rahmatan Innaka Antal-Wahhaab' - Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” {QS. Ali Imran, 3:8}

Al-'arif billah bishr al-haafy qaddasallahu sirrahu - Musibah yang paling besar ialah sesiapa yang telah kehilangan Alloh SWT.

“Allaahumma Musharrifal Quluub, Sharrif Quluubanaa 'Alaa Thaa'atik - Ya Alloh yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu.”
(HR. Muslim)

Manisnya hawa nafsu yang ada dalam hati adalah penyakit yang sulit disembuhkan...tidaklah nafs syahwat itu dapat dikeluarkan dari dalam hati kecuali ada rasa takut keadaNya yang menggetarkan dada serta rasa rindu kepadaNya yang menggelisahkan...

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”
{QS. Al-Anfal, 8:2}

Hati adalah "Baitullah" tempat Alloh untuk memancarkan keindahanNya pada jiwa hambaNya.
Seberapa engkau mengenal Alloh dan seberapa dalam Alloh berada dan menyata dalam hati kita, seberapa lembut perbuatan dan seberapa kadar cinta kasih kepada sesama. Bila engkau nyatakan diri mengenal Alloh, sedangkan hati dan perbuatan masih kaku dan kolot, maka sungguh pengenalanmu hanya sebatas kata-kata dan huruf semata. Apa lagi hati kita masih di isi oleh segala "keakuan dan ego" maka Alloh pun tidak pernah berada di RumahNya.

Orang bertanya kepada Rasulullah saw,
”Wahai Rasulullah! Dimanakah Alloh? Di bumi atau di langit?”

Rasulullah saw menjawab, Alloh Ta’ala berfirman:
“Tidak termuat AKU oleh bumi-Ku dan lelangit-KU dan termuat Aku oleh qalb hamba-hamba-Ku yang mu’min, yang lemah-lembut, yang tenang tenteram.”

Dalam keterangan lain dikatakan;
“Sesungguhnya semua petala langit dan bumi akan menjadi sempit untuk merangkul-Ku akan tetapi Aku mudah untuk direngkuh oleh qalb seorang mukmin.”

Berkata Wahab bin Munabbih, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, Alloh Ta’ala telah berfirman:
“Sesungguhnya semua petala langit-Ku dan bumi-Ku menjadi sempit untuk merangkul-Ku, akan tetapi Aku mudah untuk dirangkul oleh qalb hamba-Ku yang mu’min.” (HR. Ahmad)

“Di dalam hati manusia ada kesedihan dan tidak akan hilang kecuali gembira mengenali Alloh.”
-- Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

Kebenaran.
Nabi bersabda bahwa kebenaran telah di nyatakan:
“Aku tidak tersembunyi, tinggi atau rendah
Tidak di bumi, Langit atau singahsana
Ini kepastian wahai kekasih:
Aku tersembunyi di kalbu orang yang beriman.
Jika kau mencari Aku, carilah di kalbu-kalbu ini.”
-- Jalaluddin Rumi“Wasaari'uu ilaa maghfiratin min rabbikum wajannatin 'ardhuhaa alssamaawaatu waal-ardhu u'iddat lilmuttaqiina - Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
{QS. Al-Imran, 3;133}



Nabi saw bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati.”
[HR. Bukhari-Muslim]

Keajaiban Kecil Dari Hati

Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Tidak ada yang mungkin bagi Allah. Segala sesuatu, bagi Allah, adalah niscaya. Mutlak, yang tiada terbantahkan, tidak pula keraguan di dalamnya. Jika "kun", maka "fayakun". Sekali Allah berfirman "jadi", maka "terjadilah" kenyataan itu.

Dalam QS. Yaa Siin:82, Allah mengukuhkan, " Sesungguhnya keadaanNya adalah apabila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanyalah berkata "Jadilah!" maka terjadilah." Allah Maha Mutlak, dan Dia meliputi segala sesuatu, dan setiap segala sesuatu itu tak lain dan tak bukan adalah embrio keajaiban.

Di tangan Rasul Allah, keajaiban memiliki nama mu'jizat. Di tangan Kekasih Allah, ia bernama karamah atau keramat. Di tangan Pecinta Allah, ia bernama keberkahan, sehingga yang serba sedikit mewujud serba cukup dan yang serba sempit menjelma serba leluasa. Hal-hal yang semula berbatas, menjadi tidak terbatas. Sangat luas, tak dapat disangka lagi seberapa luasnya.

Jika kebanyakan manusia hidup di dalam lingkar sangkaan, maka para Rasul Allah, Kekasih Allah, dan Pecinta Allah hidup di luar lingkar sangkaan. Menjadi mahfum jika kemudian mereka memeroleh rahmat yang tidak disangka-sangka. Sebesar-besar lingkar sangkaan, masih lebih besar yang di luar lingkar sangkaan itu.

Para Rasul Allah, Kekasih Allah, dan Pecinta Allah ini tidak hanya sibuk mengurusi segala yang tampak, namun juga setia merawat segala yang tidak tampak. Dan, yang tidak tampak ini sesungguhnya justru lebih agung, jika tidak menyebutnya lebih banyak, dibanding yang tampak. Segala yang tampak diatur sedemikian rupa agar yang tidak tampak tidak terganggu.

Yang tampak ini adalah isi, sedangkan yang tidak tampak adalah kosong, suwung. Shaf diatur sedemikian rapi barisan agar yang kosong tetap suwung, dan di tempat yang kosong itulah kita sujud. Selepas sujud, kita masih dalam barisan duduk di antara dua sujud, dan titik sujud tetap terjaga sebagai wilayah kosong. Itulah hakikat keadaan berserah.

Kunci dan pintu untuk memasuki wilayah kosong itu adalah eling lan waspada, terjaga dan berjaga. Selalu dalam kondisi melek dan sadar. Hanya dengan melek, mata dapat menerima Cahaya dengan sempurna dan mengalami keadaan melihat. Ma'rifat. Hanya dengan sadar, mata dapat fokus melihat detail. Dan, Tuhan ada di dalam detail. Di dalam rinci yang sempurna.

Allah tidak hanya mencipta daun sebagai lembaran hijau dengan permukaan yang datar, namun Dia menggaris dan mengarsirnya dengan teliti dan spesifik. Dari hal-hal kecil, yang selama ini diabaikan, bahkan disepelekan, semacam itulah muncul keajaiban-keajaiban yang tidak disangka-sangka. Mewujud keniscayaan Sunnatullah yang sangat indah bernama Mahakarya. Dan, siapa tahu, keajaiban itu adalah hatimu yang lembut dan baik hati? Setiap kita adalah Mahakarya Tuhan.

Sumber
http://candramalik.com